
Setelah pemutaran perdananya di Berlinale 2026, Ghost in the Cell akhirnya bersiap menyapa penonton Indonesia pada 16 April 2026. Film terbaru karya Joko Anwar ini sebelumnya lolos seleksi Forum Section, yaitu sebuah program yang dikenal berani dan eksploratif.
“Itu adalah salah satu section di Berlinale Film Festival yang biasanya meng-host film-film yang berterobosan, eksploratif, dan temanya berani secara politik dan sosial,” ujar sineas yang baru-baru ini dianugerahi Chevalier dans l’Ordre des Arts et Lettres, gelar ksatria seni dan sastra oleh Pemerintah Prancis tersebut
Mengutip situs resmi Berlinale, program Forum dan Forum Expanded memang bertujuan memperluas pemahaman tentang apa itu film—menguji batas konvensi, membuka perspektif baru, dan menghadirkan ragam bentuk sinema: dari genre hingga esai, dari analog hingga digital, dari dokumenter hingga performans. Di ruang itulah Ghost in the Cell menemukan rumah pertamanya.
Dan dari Berlin, kisah itu kini kembali pulang.
Penjara sebagai Miniatur Kehidupan
Di permukaan, Ghost in the Cell adalah horor supranatural tentang teror di balik jeruji besi. Namun di bawahnya, ia menyimpan satire tentang politik dan situasi sosial Indonesia hari ini; dibalut humor visual dan audio yang memanjakan penonton.

Bagi Joko Anwar, penjara bukan sekadar latar. “Penjara itu kan miniatur dari kehidupan, dari society. Ada pemerintahnya, ada petugas lapas sebagai pemerintahnya, ada warga negaranya—para napi—ada polisi juga sebagai petugas keamanan.”
Ia melanjutkan bahwa dinamika antara masyarakat dan penguasa terasa sangat kuat dalam setting tersebut. Karena itulah penjara dipilih sebagai representasi kehidupan kita: sebuah ruang tertutup yang justru memantulkan realitas luar dengan lebih tajam.
Film Ghost in the Cell dibintangi deretan aktor ternama seperti Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Lukman Sardi, Morgan Oey, Tora Sudiro, Rio Dewanto, Aming, serta memperkenalkan Magistus Miftah. Dominasi karakter laki-laki menghadirkan energi yang keras dan konfrontatif; sebuah dunia yang brutal, penuh kekerasan, namun tetap terasa relevan sebagai kritik sosial.
Komedi yang Menembus Bahasa
Meski sarat kritik dan adegan intens, Ghost in the Cell tetap dibingkai sebagai komedi horor. Abimana Aryasatya mengaku sempat deg-degan saat film ini diputar empat kali di Berlin.
“Komedi itu kan kadang-kadang materinya kita juga mikir, apakah bisa kena ke penonton di sana? Penonton di event Berlinale itu random banget, umurnya variatif—bahkan sampai 60–70 tahun masih nonton bioskop. Apakah materi komedi kita bisa connect ke mereka? Perbedaan bahasa bikin deg-degan.”
Namun kegelisahan itu mencair saat lampu bioskop menyala. “Yang saya pegang cuma satu: mereka keluar dengan wajah sumringah. Mereka having fun nonton filmnya. Karena saya juga having fun bikin film ini, dan penontonnya ikut having fun bersama kita.”
Hiburan sebagai Pintu, Pesan sebagai Bekal
Di balik semua itu, Joko Anwar menegaskan bahwa film ini tidak ingin menggurui. Ia sadar bahwa menonton film adalah usaha—waktu dan uang yang diluangkan penonton bukan hal kecil.
Menurutnya, jika penonton langsung dijejali isu dan pesan secara frontal, itu tidak adil. Karena itu, pendekatan genre dipilih. Horor, komedi, aksi—semuanya adalah pintu masuk agar penonton merasa terhibur terlebih dahulu.
Ia dan timnya ingin menciptakan pengalaman yang membuat orang bisa tertawa, berteriak ketakutan, atau terlonjak kaget. Namun setelah keluar dari bioskop, tetap ada sesuatu yang dibawa pulang—sebuah refleksi tentang relasi kuasa, tentang masyarakat, tentang diri kita sendiri.
Dengan kata lain, hiburan berada di depan, pesan berjalan diam-diam di belakangnya.
Dan mungkin di situlah kekuatan Ghost in the Cell: ia membuat kita tertawa di tengah ketegangan, sambil perlahan menyadarkan bahwa penjara bukan hanya ruang fisik, melainkan metafora tentang kehidupan yang kadang terasa sempit.
***
Ghost in the Cell baru saja merilis trailer resmi mereka yang bisa Anda saksikan di Youtube. Film ini akan tayang di bioskop di tanah air mulai 16 April 2026