KLM Royal Dutch Airlines Merayakan 100 Tahun Kiprahnya dengan Merayakan Masa Depan
Di perayaan 100 tahun kiprahnya, KLM Royal Dutch Airlines berambisi untuk terus berkiprah selama seabad lagi dengan visi yang lebih sustainable.


1 / 3
Salah satu maskapai penerbangan tertua di dunia dan yang paling lama bertahan dengan brand aslinya, KLM Royal Dutch Airlines merayakan 100 kiprahnya di dunia penerbangan. Perjalanan itu dimulai 100 tahun lalu ketika Albert Plesman, sang penggagas bercita-cita menghubungkan orang di seluruh dunia lewat udara.

The ocean of the air connects us all,” begitulah mimpi Plesman seabad silam. Kini KLM Royal Dutch Airlines masih berdiri dan memegang visi yang sama dan tambahan mimpi untuk seabad mendatang. Mimpi itu adalah untuk membangun ekosistem industri aviasi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Tema pameran “KLM 100 Years: Celebrating the Future” menjadi pas. Dalam perayaannya ini, maskapai penerbangan kebanggaan Negeri Kincir Angin itu tak hanya menilik kembali sejarah mereka dan hubungannya dengan Indonesia, khususnya Jakarta. Mereka juga memperlihatkan inisiatif-inisiatif yang sudah mereka lakukan untuk membangun ekosistem industri penerbangan yang berkelanjutan.

Pameran itu dimulai dari lorong yang didesain layaknya kabin pesawat. Di sisi kanan, Anda bisa melihat napak tilas perjalanan KLM Royal Dutch Airlines selama seabad terakhir. Lengkap dengan seluruh inovasi-inovasi yang mereka kembangkan dan peristiwa-peristiwa penting yang menjadi tonggak sejarah mereka.

Sementara itu di sisi kiri, mereka menjabarkan penerbangan antarbenua pertama yang mereka lakukan pada 1924 dengan rute Amsterdam-Jakarta. Jika kini jarak Amsterdam dan Jakarta via udara hanya 16 jam, 95 tahun lalu perjalanan itu ditempuh selama 55 hari dan melewati 21 pemberhentian.

Di akhir lorong, Anda akan menemukan deretan papan dan layar yang menayangkan inisiatif mereka untuk mewujudkan ekosistem industri aviasi yang lebih ramah lingkungan. Inisiatif-inisiatif itu berada dalam payung program “Fly Responsibly” yang mencakup CO2Zero atau pilihan bagi para konsumen untuk mengompensasi emisi CO2 yang dihasilkan dari penerbangan mereka dengan tambahan biaya yang digunakan untuk menanam pohon-pohon baru di berbagai daerah.

Ada pula Takes Care, yaitu inisiatif untuk mendaur ulang inventori lama perusahaan menjadi barang-barang baru. Misalnya karpet pesawat yang dibuat dari hasil daur ulang seragam lama para pramugari KLM. Pun Wings of Support sebagai program bantuan edukasi pendidikan untuk anak yang kurang beruntung. Ada juga KLM Catering Services Schipol yang memastikan hidangan di atas pesawat diambil dari sumber-sumber yang terjamin keberlangsungannya.

Inovasi juga terus menjadi salah satu inisiatif utama KLM Royal Dutch Airlines untuk mengembangkan bisnis aviasi yang berkelanjutan. Misalnya dengan terus memastikan pesawat mereka efisien bahan bakar. Hal ini dilakukan dengan meng-upgrade model pesawat-pesawat mereka dengan pesawat berdesain V yang lebih aerodinamis dan mampu menghemat bahan bakar hingga 20%. Cara lain yang mereka tempuh adalah dengan menggunakan KLM BlueBot, yaitu artificial intelligence untuk membantu konsumen merencanakan perjalanan mereka secara lebih efisien. Baik itu dari segi budget, pilihan destinasi, durasi, hingga panduan packing.

Ke depannya, KLM Royal Dutch Airlines berupaya untuk mencapai target global industri penerbangan untuk mengurangi emisi karbon dan sampah yang dihasilkan hingga 50% pada 2030 mendatang. (SIR). Foto: Shuliya Ratanavara & KLM Royal Dutch Airlines.

 
 

 


Topic

Travelling

Author

DEWI INDONESIA