Kekuatan Warganet China Pukul Mundur Brand Fashion Mewah Dunia?
Mulai dari Dolce & Gabbana hingga Coach mesti menghadapi kecaman masyarakat Cina


Coach mesti menerima kecaman dari masyarakat Cina karena desain kaus yang dinilai menyingung.


Nasionalisme Cina memang tak perlu dipertanyakan lagi. Baik itu pemerintah maupun masyarakatnya, mereka amat protektif terhadap apa-apa saja yang berkaitan dengan Negeri Tirai Bambu.
 
Setiap brand atau perusahaan yang berbisnis di sana hendaknya ekstra-peka mengenai hal-hal yang dinilai sensitif bagi masyarakat Cina. Baru-baru ini sederet brand mode mewah merasakan kecaman masyarakat Cina akibat desain yang dinilai menyingung.
 
Seperti dilansir akun Instagram Business of Fashion, rentetan itu dimulai oleh Coach. Brand asal Amerika Serikat itu menjadi trending topic di linimasa media sosial Cina, Weibo. Ini semua akibat perkara desain kausnya yang menyatakan Hong Kong sebagai sebuah negara dan Taipei sebagai sebuah kota di negara Taiwan.
 
Hubungan antara Cina dan Hong Kong serta Taiwan memang cukup rumit dan sensitif bagi masyarakatnya. Oleh karena itu, desain demikian memantik kecaman dari masyarakat luas.
 
Yang semakin memperkeruh situasi, imbasnya tak berhenti pada pembicaraan di media sosial. Sesaat setelah foto desain kaus tersebut menyebar, brand ambassador baru Coach, Liu Wen mengumumkan dirinya akan segera mundur dan mengakhiri kerja sama yang terjalin dengan Coach. Padahal, baru-baru ini Coach meluncurkan kampanye globalnya yang menampilkan brand ambassador teranyar mereka itu.
 
Tak hanya Coach, sederet brand lain juga ikut terdampak. Givenchy salah satunya. Sama perkaranya dengan Coach, Givenchy mendesain kaus yang menyatakan Hong Kong dan Taiwan sebagai negara alih-alih bagian dari Cina. Dampaknya beauty ambassador Givenchy, Jackson Yee memutuskan pertaliannya dengan brand asal Perancis itu.
 
Dua gelombang amukan netizen Cina ini hadir sehari setelah brand ambassador Versace, Yang Mi memutuskan kerja samanya dengan brand Italia itu setelah mengetahui Versace mempunyai hoodie dengan desain yang menunjukkan Hong Kong dan Makau sebagai negara sendiri.
 
Jika berurusan dengan nasionalisme Cina, sekadar permintaan maaf bukan jawaban. Alih-alih mendinginkan situasi, hal tersebut malah memperkeruh suasana. China memang amat memegang prinsip kebijakan “One China” bahwa hanya ada satu negara China. Maka kesalahan identifikasi geo-politik atas pemerintahan-pemerintahan daerah khusus di bawahnya bisa berbuntut panjang.
 
Sebelumnya kekuatan warganet China teruji mampu memporakporandakan bisnis fashion brand mewah di negara tersebut. Akhir tahun lalu Dolce & Gabbana yang menjadi korbannya. Brand asal Italia itu sampai membatalkan pagelaran busananya di Shanghai akibat video promosi dan pernyataan Stefano Gabbana yang dinilai rasis. (Teks: Shuliya Ratanavara/Foto: Istimewa.)
 

 


Topic

Fashion

Author

DEWI INDONESIA