Mendalami Makna Wastra Mangkunegaran dalam Pameran ANGSUKAYANA
Pracima Tuin dari Pura Mangkunegaran menghadirkan pameran serta pagelaran busana batik yang penuh kisah historis sarat filosofis bertajuk ANGSUKAYANA
15 Nov 2023



Pracima Tuin
dengan disponsori oleh Bank Mandiri serta didukung oleh Telkomsel mengadakan pameran wastra sarat tradisi bertajuk “ANGSUKAYANA”. Seperti halnya Pracima Tuin yang berbasis filosofi dan histori Jawa, kata “ANGSUKAYANA” pun berasal dari bahasa Jawa kuno. "Angsuka" berarti wastra atau kain, dan "yana" berarti perjalanan, sehingga ANGSUKAYANA bermakna lembar wastra yang sarat akan makna. Berlokasi di restoran Pracima Tuin yang masih berada dalam kompleks Pura Mangkunegaran, kegiatan ini dimulai dengan seremoni pembukaan pameran batik ANGSUKAYANA yang bertema Royal Heritage Dinner dari tanggal 29 Oktober hingga 18 November 2023. Puncak dari keseluruhan acara warisan wastra ini adalah pagelaran busana ANGSUKAYANA yang berlangsung tepat di hari pembukaan pameran.

ANGSUKAYANA dibuka dengan sajian hidangan Royal Heritage Dinner bersama Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkoenagoro X. Sajian hidangan dalam acara ini merupakan warisan resep turun-temurun dari para raja Mangkunegaran. Kemegahan nuansa keraton Mangkunegaran dan dekap manis kebudayaan Jawa dalam setiap esensi makanan dan interior menjadi teman setia para tamu yang hadir dalam pembukaan ini. Makan malam berlangsung di tengah taman, memberikan suasana baru bagai dongeng magis tanah Jawa. Tamu dapat memanjakan lidah di tengah keindahan tata ruang Pracima Tuin yang menghidupkan berbagai indera. Tak hanya itu, aroma kembang manis bersama cita rasa khas Pracimasanan, sembari ditemani alunan musik gamelan Mangkunegaran menjadi momen langka yang tak terlupakan. Alunan gamelan penuh kisah nostalgia ini persembahan dari Kawedanan Panti Budaya Mangkunegaraan dan pertunjukkan dari Endah Laras dan Woro.

Pagelaran Busana ANGSUKAYANA merupakan rekam jejak histori sarat filosofis budaya Batik Mangkunegaran yang akan selalu relevan. Pertunjukkan ini diperagakan oleh sejumlah anggota keluarga atau Sedherek Dalem dan Sentana Mangkunegaran. Pagelaran ini dibuka oleh Gusti Raden Ajeng Ancillasura Marina Sudjiwo, lalu dilanjutkan dengan tampilan dari K.R.Ay Endang Yamin yang mengenakan kebaya dan kain batik motif Candi Mulya. R.Aj. Rania Ameera Moeljono, memakai kain batik motif Udan Liris Pethak. Lalu, R.Ay. Shelomita Sulistiany Diah Hadju mengenakan kain batik motif Kukila Gringsing Latar Bledhag. R.Ay Andrini Kusumahapsari mengenakan kain batik motif Ukel. Sederetan wastra yang ditampilkan merupakan koleksi privat dari Sedherek Dalem dan Sentono Mangkunegaran. Sebagai penutup yang sempurna, Gusti Pangeran Haryo Paundrakarna Jiwa Suryanegara, bersama peragaan busana koleksi batik Iwan Tirta Private Collection oleh model, mengenakan batik dengan motif flora kembang setaman yang terinspirasi dari keindahan Pracima Tuin Mangkunegaran. Mengakar dari inspirasi, setiap detail stilasi bunga dalam motif ini sengaja dibuat berukuran besar.

Tak sekadar pagelaran busana, melainkan Pracima Tuin juga mengabadikan wastra ini dalam “Pameran Batik ANGSUKAYANA”. Pameran ini berlangsung di Balai Sisworini, yang terletak di sisi timur Pracima Tuin. Pemaparan sejarah batik Mangkunegaran yang tidak lepas dari sejarah batik Mataram Islam dapat ditemukan dalam acara ini. Bahwasanya, perkembangan batik ini tak lepas dari peran istri-istri raja yang tengah memimpin. Bersama para seniman batik berdedikasi tinggi, mereka menggurat histori panjang pada seni batik Mangkunegaran. Beberapa figur berpengaruh antara lain, Gusti Kanjeng Putri Mangkoenagoro VIII (1923 – 1978), permaisuri dari Mangkoenagoro VIII yang memberi inspirasi baru pada para seniman batik di kalangan Mangkunegaran untuk menciptakan motif batik bervariatif. Tak hanya itu, K.R.Ay. Praptini Patraningrat (1903-2004), menjadi seniman di balik tradisi batik Kanjengan yang dikenal dengan proses dan teknik pembuatan yang sangat halus. Karya beliau kini telah diabadikan menjadi motif Mangkunegaran yang ikonik, seperti motif Semen Wijayakusuma Latar Cemeng, motif Semen Kokrosono Parang Kumudawati, dan motif Parang Rusak Mangkunegaran. Terakhir, Nyi Tumenggung Mardusari (1909-1993), sang Garwa Ampil, atau selir dari Mangkoenagoro VII yang telah menciptakan motif batik legendaris seperti motif Sari Ngrembaka, Pakis, Sari Madu, Peksi Huk, dan Gabah Sinawur.

Esensi kisah ketiga wanita di atas menjadi dasar dari 26 helai batik yang dipamerkan. Kini, batik Mangkunegaran menempati tempat yang istimewa dengan detail dan ciri yang distingtif. Pola yang kompleks tampak harmonis dengan warna yang cenderung cokelat kekuningan, sehingga memberi kesan anggun, elegan, dan kokoh. Batik Mangkunegaran terbuka akan modifikasi dan perkembangan zaman. Hal ini dapat dilihat dari motif Buketan Pakis, Parang Gondosuli, Grinsing Dahlia, Semen Wijayakusuma, Ceplok Gusti Putri, Sari Madu, dan lain-lain. Melalui acara ini, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkoenagoro X berharap masyarakat dapat semakin mengedepankan budaya negeri sendiri.


Penulis: Elizabeth Alicia Terisno
Editor: Carra Nethania
Foto: DOK. DEWI

 


Topic

Fashion

Author

DEWI INDONESIA