Prilly Latuconsina: Era Diri yang Lebih Lembut

Kadang, yang mengubah kita bukan peristiwa besar, melainkan pertemuan yang membuat dunia terasa lebih ringan. Bagi Prilly, inilah awal dari era yang lebih lembut, tapi justru lebih pasti.

Ada sesuatu yang berubah dalam diri Prilly Latuconsina tahun ini. Bukan soal peran, pencapaian, atau penghargaan, melainkan cara ia memandang dirinya sendiri. Di balik kesibukannya sebagai aktris, produser, dan Ketua Program Festival Film Indonesia (FFI), Prilly menemukan hal yang lebih subtil tapi mendalam: keindahan untuk tidak selalu kuat, dan kebijaksanaan untuk menjadi lembut.

“Rasanya tahun ini adalah tahun paling feminin dalam hidupku,” ujar aktris pemeran sosok Tita dalam film Budi Pekerti (2023) itu sambil tersenyum. “Banyak sisi feminin di dalam diriku yang baru muncul karena pengaruh punya pasangan yang tepat.”

Ruang Aman untuk Tumbuh

Prilly tak menutup-nutupi bahwa kehadiran seseorang dalam hidupnya membuatnya melihat ulang banyak hal tentang dirinya. Dari cara ia bercerita, tampak jelas bahwa ia sedang berada dalam hubungan yang memberinya ruang aman untuk tumbuh. Bukan mengubah siapa dirinya, tapi membuka lapisan yang selama ini ia tutup rapat.

Advertisement

Dalam salah satu unggahannya, ia menyebut kekasihnya, Omara Esteglal, sebagai “home”. Bagi Prilly, sosok Omara hadir bukan dalam arti tempat berlindung sepenuhnya, tetapi sebagai sosok yang membuat pulang terasa ringan: seseorang yang menghadirkan ketenangan, kebaikan, dan cara pandang baru.

Kedekatan itu tidak membuatnya bergantung, melainkan mengajarkannya bahwa meminta bantuan bukan kelemahan. Bahwa perempuan tak harus melakukan semuanya sendirian, bahkan dalam era emansipasi. That it’s okay to lean in, just a little.

Cintanya tumbuh bukan karena intensitas, tetapi karena konsistensi. Karena ia melihat bagaimana orang itu memperlakukan keluarga, menjalani hidup, dan menghadapi tantangan dengan tenang. Ada kehangatan yang membuat Prilly belajar menjadi lebih sabar, lebih lembut, dan lebih jujur pada dirinya sendiri.

Mendewasa dengan Lembut

Perempuan pendiri rumah produksi Sinemaku Pictures itu pun tertawa kecil, seperti mengenang perjalanan panjang menuju titik ini. Katanya, sejak kecil, ia terbiasa hidup mandiri.

“Saya, tuh, dari dulu memang terbiasa sendiri. Orang tua saya mendidik saya untuk selalu berusaha kalau mau sesuatu. Misalnya mau kuliah, ya cari uangnya sendiri, karena orang tua nggak bisa biayain. Jadi, dari dulu udah terbiasa mengambil keputusan dan melakukan semuanya sendirian,” tuturnya.

Namun kehadiran pasangan membawa dinamika baru dalam hidupnya—sebuah ruang belajar untuk memberi dan menerima. 

“Karena punya pasangan, aku jadi nemuin sisi-sisi yang ternyata selama ini aku nggak sadar aku punya,” katanya. “Sendiri itu memang menyenangkan, tapi ketika kamu punya partner yang benar-benar mengerti kamu, rasanya berbeda. Ada kebahagiaan baru ketika menjalani sesuatu bersama-sama.”

Dari tulisan Prilly di hari ulang tahun Omara, terlihat jelas bagaimana kekasihnya itu menjadi seseorang yang menghadirkan rasa aman. Seseorang yang membuatnya sadar bahwa dalam sebuah hubungan, perempuan tidak harus mampu mengerjakan semuanya sendirian. Bahwa meminta tolong bukan kelemahan, dan bersandar bukan tanda menyerah.

Ada kehangatan ketika ia mengakui bahwa hubungan ini berawal dari sesuatu yang sederhana: sebuah video call yang awalnya hanya ‘alasan’, tapi justru menjadi titik balik. Dari percakapan kasual itu, lahir perjalanan yang membuatnya berkata: “You’re not just someone I talk to. You’re the one I call home.”

Melembut tanpa Kehilangan Kekuatan Diri

Prilly mengaku kini sedang berada di fase menyeimbangkan antara kekuatan dan kelembutan dalam dirinya. “Lagi menikmati banget sisi feminin yang keluar di umur segini. Telat banget, ya?” ujarnya sambil tertawa.

“Kayak baru sadar kalau ternyata saya bisa minta, bisa minta tolong. Biasanya, kan, saya tipe perempuan yang nggak pernah minta apa-apa, semuanya di-handle sendiri. Tapi ternyata, it’s okay to ask for help. Ternyata rasanya menyenangkan juga ya, ketika kita bisa percaya dan bersandar pada orang lain,” tuturnya lagi.

Ketika ditanya apa yang ingin ia sampaikan kepada versi dirinya yang lebih muda, Prilly menarik napas pelan. “You’re gonna be okay,” ujarnya mantap. “Semua kekhawatiranmu tentang hidup dan tentang diri kamu sendiri, nanti akan terjawab seiring waktu. Nggak usah terburu-buru.”

Ia lalu menambahkan, dengan nada yang lebih tenang, “Nggak harus bisa semuanya, nggak harus mencapai semuanya. Hidup itu nggak selalu harus punya target besar. Kalau ada hal-hal yang tujuannya cuma buat bikin kamu bahagia, itu juga nggak apa-apa. It’s okay to not achieve anything in life, as long as you’re happy with yourself.”

Di tengah hiruk-pikuk industri hiburan dan pencapaian demi pencapaian yang telah diraihnya, Prilly Latuconsina kini menemukan makna baru dari keberhasilan. Baginya, itu adalah keberanian untuk menjadi lembut pada diri sendiri.

Teks: Mardyana Ulva
Fotografer: Christian Soegiarto
Pengarah gaya: Aldi Indrajaya
Asisten Pengarah Gaya: Akib Aryo Utomo, Firyal Shabirah, Tirta Arum, Charren Galuh
Rias Wajah: Priscilla Rasjid
Tata Rambut: Farhan Nabil
Asisten Rias Wajah: Hanny Alice
Asisten Foto: Evan Falent, Jaya Gojay
Busana: TOTON
Perawatan Busana: Jeeves
Lokasi: EDEN Bar Jakarta at PAN Pacific Jakarta

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

LUX Skin Science: Kilau Keberanian dalam “The Revelation of Glow” di JFW 2026

Next Post

Fantasi Feminin Miracle Runway

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.