Hari Perempuan Internasional: 5 Norma Sosial yang Masih Membatasi Pilihan Perempuan

Kesetaraan bukan hanya membuka pintu kesempatan, tetapi memastikan perempuan dapat melangkah melewatinya tanpa hambatan yang tak terlihat.
Menjadi perempuan di pucuk kepemimpinan sering kali terasa lonely on top. Percakapan ini mengingatkan bahwa perubahan sistem masih terus dibutuhkan.

Sering kali kita mendengar bahwa pintu kesempatan telah terbuka lebar bagi siapa saja. Namun, bagi perempuan, melangkah melewati pintu tersebut sering kali terasa seperti berjalan melawan arus yang tenang namun kuat. Dalam rangka Hari Perempuan Internasional 2026, sebuah momen refleksi hadir untuk membongkar mengapa “kesempatan yang sama” saja tidak cukup jika norma sosial masih menjadi jeruji tak kasat mata.

Realitas di Balik “Peluang yang Sama”

Wita Krisanti, Direktur Eksekutif IBCWE, menantang persepsi umum tentang kesetaraan di dunia kerja. Menurutnya, meskipun kebijakan formal mungkin terlihat adil, ada hambatan sistemik yang berakar jauh sejak kita lahir.

“Di IBCWE, kami memegang keyakinan fundamental bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kemampuan setara,” jelas Wita Dalam diskusi mendalam bertajuk “Interseksionalitas: Menavigasi Berbagai Lapisan Hambatan dalam Kehidupan Profesional” yang diinisiasi oleh UNIQLO Indonesia.

Advertisement

“Namun realitanya tidak sesederhana itu,” sambungnya. “Ada norma-norma sosial yang membatasi peran kita, menciptakan hambatan yang sering kali tidak terlihat namun sangat membebani langkah perempuan.”

5 Norma Sosial yang Harus Kita Dekonstruksi

Untuk menciptakan perubahan yang humanis, kita perlu mengenali lima norma yang selama ini mendikte hidup dan karier perempuan:

  1. Domestikasi yang Tidak Proporsional: Anggapan bahwa perempuan adalah penanggung jawab utama urusan rumah tangga. Padahal, kasih sayang dan perawatan keluarga adalah tanggung jawab kolektif yang seharusnya dibagi secara adil.
  2. Beban “Pencari Nafkah Utama” pada Laki-laki: Stereotip ini tidak hanya menekan laki-laki, tapi secara tidak langsung membatasi ruang gerak perempuan untuk memimpin, seolah peran mereka hanyalah “pendukung”.
  3. Kotak-Kotak Gender dalam Profesi: Masih adanya label “pekerjaan laki-laki” atau “pekerjaan perempuan” yang menghambat talenta untuk mengeksplorasi potensi melampaui gender mereka.
  4. Bias Kepemimpinan yang Mengakar: Laki-laki lebih mudah diasosiasikan dengan figur pemimpin, sementara perempuan harus memberikan pembuktian berkali-kali lipat untuk kapasitas yang sama.
  5. Tipisnya Pipeline Menuju Puncak: Bias ini menciptakan fenomena di mana perempuan banyak mengisi level manajerial, namun perlahan menghilang saat menuju level eksekutif (C-suite).

Lonely on Top: Cerita dari Kursi Pimpinan

Realitas ini dirasakan langsung oleh Irma Yunita, Corporate Affairs Director UNIQLO Indonesia. Ia berbagi sisi personal tentang betapa senyapnya menjadi perempuan di pucuk kepemimpinan.

“Cukup lama saya menjadi satu-satunya perempuan di level direktur. Rasanya benar-benar lonely on top: kesepian karena seluruh lingkaran di sekitar saya adalah laki-laki,” ungkap Irma dengan jujur.

Bagi Irma, sekadar memiliki kebijakan di atas kertas tidaklah cukup. Dibutuhkan tindakan nyata seperti program mentoring dan sponsorship bagi talenta perempuan. Mimpi Irma sederhana namun sangat berdaya: “Kelak saat saya pensiun, saya ingin melihat jajaran pemimpin perempuan tetap banyak. Bukan hanya di level manajer, tetapi duduk dengan bangga di level C Level.”

Membangun Kesadaran, Menciptakan Perubahan

Mengakhiri diskriminasi dimulai dengan keberanian untuk membicarakannya. Menurut Wita Krisanti, langkah pertama yang paling bermakna adalah membangun kesadaran (awareness). Banyak bias terjadi bukan karena niat buruk, melainkan karena kebiasaan yang tidak disadari.

Melalui pelatihan kesadaran, kita bisa memastikan lingkungan kerja tidak lagi melanggengkan norma usang. Hari Perempuan Internasional bukan sekadar perayaan, melainkan ajakan bagi setiap organisasi untuk meninjau kembali nurani mereka: Apakah kita sudah memberikan ruang bagi perempuan untuk bersinar sebagai manusia seutuhnya, tanpa dihantui oleh “deadline” atau standar ganda?

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Hari Perempuan Internasional: Mengapa Banyak Perempuan Ragu Melangkah ke Posisi Pemimpin?

Next Post

Inspirasi Kebaya Modern untuk Gaya Perempuan Masa Kini

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.