Perempuan, Karier, dan Pilihan yang Tak Harus Dipertentangkan

Tiga pemimpin perempuan Indonesia: Anandita Makes, Amira Ganis, dan Imelda Harsono Velez, merumuskan ulang makna karier, keluarga, dan kepemimpinan perempuan yang inklusif.

Menjadi perempuan bekerja di Indonesia masih menjadi sebuah perjuangan yang tidak seimbang. Statistik tak henti menggarisbawahi kenyataan pahit: partisipasi angkatan kerja perempuan tertinggal jauh dari laki-laki, dan banyak dari mereka mengundurkan diri dari karier profesional setelah menikah atau memiliki anak. Sebagian karena pilihan, sebagian lagi karena sistem yang belum benar-benar mendukung peran ganda perempuan sebagai pekerja sekaligus pengasuh.

Survei Angkatan Kerja Nasional Indonesia (SAKERNAS) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menemukan bahwa meskipun sekitar 90% laki-laki tetap bekerja pada usia 25 hingga 55 tahun, hanya sekitar 50% perempuan berusia 25 tahun yang bekerja. Sejalan dengan hal ini, laporan World Bank mencatat bahwa sekitar 40% perempuan yang bekerja berupah meninggalkan angkatan kerja setelah menikah dan melahirkan, dan hampir separuh dari mereka karena alasan keluarga.

Di balik angka dan tantangan struktural itu, ada narasi lain yang layak diberi sorotan: kisah perempuan yang tidak menyerah pada dikotomi antara keluarga dan karier, dan justru menjadikan keduanya sebagai sumber kekuatan.

Advertisement

Pada 2025 lalu, tiga perempuan Indonesia masuk dalam jajaran Ernst & Young Entrepreneurial Winning Women™ Asia-Pacific Class of 2025. Ini adalah sebuah pengakuan atas pencapaian dan dampak yang mereka ciptakan di sektor masing-masing. Siapa mereka, dan bagaimana mereka membentuk jalannya sendiri di tengah arus besar dunia kerja yang sering kali belum ramah pada perempuan?

Anandita Makes, Chief Strategy Officer Plataran Indonesia, membawa sudut pandang strategis seorang mantan investment banker ke ranah hospitality—sebuah industri yang menuntut kejelian membaca arah pasar sekaligus kehangatan dalam melayani. Bagi Anandita, menjadi pemimpin bukan berarti menanggalkan identitas sebagai ibu dari dua anak. Justru, peran domestik itulah yang mengasah ketangguhan dan ketepatan dalam pengambilan keputusan.

Amira Ganis, Pendiri dan Presiden Direktur Brawijaya Healthcare, juga menunjukkan bagaimana ambisi bisnis bisa berjalan berdampingan dengan peran sebagai ibu dari empat anak. Di tengah dunia kesehatan yang dinamis dan kompleks, Amira menempatkan teknologi sebagai kunci transformasi layanan. Di tangannya, rumah sakit bukan hanya ruang penyembuhan, tapi juga ruang inovasi.

Sementara itu, Imelda Harsono, yang kini menjabat sebagai Chief of Risk, Technology and Compliance di Samator Indo Gas Tbk, telah lama dikenal sebagai salah satu figur perempuan paling berpengaruh di industri energi dan manufaktur. Ibu dari anak kembar ini tak hanya memimpin dari sisi teknis dan regulasi, tapi juga dari segi keberanian mengambil ruang dalam industri yang sangat maskulin.

4 Pola Pikir Kritis Wirausahawan

Kami berbincang dengan ketiga perempuan ini untuk mendalami apa arti dari ‘kewirausahaan’ bagi mereka. Berikut empat pola pikir kritis yang bisa menjadi inspirasi bagi kita, terlepas dari apakah kita adalah pendiri perusahaan atau menjadi pegawai dalam suatu organisasi:

Menantang status quo

Ini berarti memiliki keberanian untuk memulai sesuatu yang baru didorong oleh rasa ingin tahu dalam continuous improvement. Misalnya, Imelda aktif mencari inefisiensi dalam perusahaannya dan menciptakan solusinya melalui teknologi. Di Plataran Indonesia, Anandita mendorong stafnya untuk berani melakukan ‘lebih dari yang biasa’ dan memberikan ide-ide baru karena merekalah yang paling dekat dengan pelanggan dan realita outlet. Amira menambahkan bahwa kuncinya terletak pada semangat eksploratif dan terus berpikiran terbuka.

Bermindset impact-oriented

“Kekayaan terbesar adalah waktu, dan Anda harus menjadi pengatur waktu Anda sendiri. Ambil kendali atas waktu itu,” kata Amira.

Memahami betul masalah yang ingin dipecahkan dan solusi apa yang Anda miliki untuk perusahaan atau masyarakat Anda sangatlah penting. Misalnya, memahami praktik yang lebih baik di industri kesehatan Amerikalah yang membuat Ibu Amira memahami kesenjangan di Indonesia dan membangun Women & Children Hospital di Indonesia, yang 2 dekade kemudian menjadi jaringan 5 rumah sakit dan 1 klinik.

Tidak takut gagal

Banyak yang memilih untuk tidak mengambil risiko karena takut gagal, namun yang dibutuhkan justru sebaliknya. Amira mengingatkan kita bahwa kita akan selalu melakukan kesalahan, namun ketika masalah muncul, yang penting adalah kita tidak takut terhadap masalah tersebut, namun haus akan solusi. Imelda menekankan bahwa pada saat kita gagal, kita perlu belajar dari kegagalan tersebut dan memulai lagi, dan tidak pernah menyerah.

Jangan pernah berhenti belajar

Tetap haus akan pengetahuan juga sama pentingnya. Misalnya, Imelda memilih untuk mengambil executive education, bergabung dengan organisasi seperti Young Presidents Organization, dan berbagai workshops untuk mengembangkan dirinya. Senada dengan hal tersebut, Anandita menyatakan bahwa ia adalah seorang ‘forever student’’, karena ia kini sedang mengejar gelar Masters of Management in Hospitality di Cornell University meskipun telah meraih gelar MBA dari Prasetya Mulya sebelumnya.

***

Anandita Makes, Amira Ganis, dan Imelda Harsono Velez tidak memisahkan keberhasilan profesional dari kehidupan personal. Sebaliknya, mereka memeluk kompleksitas itu. Menjadikan keluarga bukan sebagai hambatan, tetapi sebagai fondasi. Menjadikan pengalaman sebagai perempuan bukan sebagai kekurangan, tetapi sebagai kelebihan kompetitif.

Teks: Alda Prawitera
Editor: Mardyana Ulva

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

"Nafasan Bumi" di Singapore Art Week 2026: Ketika Seni, Material, dan Ekologi Berjumpa

Next Post

Sinergi Kolaborasi Bali Fashion Trend 2025 dan Jejak Menuju Masa Depan

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.