Christine dan Cemerlang Cahaya Senja
Dalam perjalanan usia, masa tak selalu jadi hantu yang membuat jeri. Bagi Christine Hakim, masa justru serupa taman di mana ia menanam berbagai pencapaian, dan menari di dalamnya dengan bahagia.




“Kalau sedang berkaca, kadang-kadang saya menarik kulit wajah dan leher saya sambil berpikir, senang juga barangkali kalau kulit wajah dan leher saya kencang lagi seperti dulu,” sambil mengatakan itu, Christine Hakim menempelkan kedua tangannya di antara pipi dan leher dan menarik pipinya. Sesaat kemudian, ia lepaskan tangannya sambil tertawa. “Tapi ya enggaklah. Saya memilih membiarkan saja kulit saya mengikuti kodratnya. Kalau kulit saya kencang lagi, mana cocok memerankan Nyi Misni?” katanya. Nyi Misni adalah tokoh yang ia perankan dalam film terbarunya, Perempuan Tanah Jahanam (2019) arahan Joko Anwar.

Christine mengaku, mulanya tak merasa nyaman memerankan tokoh antagonis dalam film horor tersebut. “Bahwa ada orang yang begitu penuh kebencian, dendam dan iri dengki yang tega melakukan apa saja demi memuaskan nafsu dan keinginannya, itu benar-benar di luar logika saya. Hati saya menolak. Kok Nyi Misni sadis banget,” Christine mengisahkan. Joko Anwar yang sejak awal membuat cerita dan skenario film tersebut 10 tahun lalu sudah membayangkan Nyi Misni diperankan oleh Christine Hakim, tak mau menyerah. “Saya harus bisa meyakinkan Ibu untuk mau menjadi Nyi Misni,” kata Joko di konferensi pers yang digelar seusai pemutaran khusus untuk wartawan beberapa jam sebelum  film tersebut diluncurkan di Jakarta. Bersama Shanty Harmayn, kolega produsernya untuk film itu, Joko yang selalu memanggil Christine dengan sebutan Ibu itu, terus mendekati Christine, meyakinkannya bahwa Nyi Misni akan sangat baik hanya jika diperankan oleh aktris yang telah membintangi 52 film sepanjang 46 tahun kariernya di dunia akting itu.

Kegigihan sutradara yang kerap membuat film bergenre horor itu akhirnya mampu meluluhkan hati Christine. Diskusi-diskusi panjang tentang karakter Nyi Misni, membuat Christine melihat dan memahami persoalan kemanusiaan yang melatarbelakangi tokoh tersebut. “Dalam proses memahami karakter tokoh itu, saya sampai pada sebuah kesadaran bahwa sebenarnya, “Nyi Misni ada dalam diri setiap manusia yang juga memiliki hawa nafsu, dendam, kebencian, iri dengki, dan berbagai sifat buruk lain. Tapi di sisi lain, Tuhan juga melengkapi manusia dengan elemen penting yang sangat luar biasa berupa panca indera, hati, logika, dan akal sehat. Kalau manusia bisa merawat elemen-elemen luar biasa itu, ia akan bisa menghalau 'Nyi Misni' dalam dirinya,” kata Christine. Ia mengaku amat prihatin melihat perkembangan kemanusiaan saat ini -termasuk di Indonesia- yang menurutnya mulai kehilangan kemampuan untuk merawat elemen penting dalam dirinya itu. “Itu sebabnya, beberapa waktu belakangan ini, kita hampir saban hari melihat bagaimana orang mengujarkan kebencian, mengajarkan kekejian pada anak-anak kecil dengan mengajak mereka ikut dalam aksi di mana ujaran kebencian dengan ringan diucapkan, dan sebagainya,” katanya.   

Bagi Christine, hal-hal kemanusiaan serupa itu lebih merisaukan hatinya ketimbang kemunculan kerut-merut di wajahnya. “Sejak kecil, saya kerap mendengar kutipan sebuah hadis yang mengatakan bahwa perang suci yang sesungguhnya adalah perang melawan nafsu diri sendiri. Baru setelah dewasa saya memahami kenapa Nabi Muhammad sampai harus mengatakan hal itu. Sebab, nafsu dan ambisi manusia ternyata memang bisa membuat manusia lupa memanusiakan dirinya sendiri,” kata Christine. Film, menurutnya, merupakan cara yang diberikan Tuhan baginya untuk bisa terus belajar dan tak melupakan kewajiban untuk memanusiakan diri.


Teks: Indah S. Ariani
Foto: Thomas Danes
Pengarah Gaya: Karin Wijaya
Rias Wajah dan Rambut: Andre Celavi Salon 


 

 

 


Topic

Cover Story

Author

DEWI INDONESIA