Helianti Hilman dan Perjalanan Menjaga Warisan Pangan Indonesia Bersama Javara
Garis hidupnya bagaikan air yang mengalir di tanah tandus; perlu kerja keras, inovasi, dan kebanggaan.
8 Mar 2019


 
Helianti Hilman dan keluarga menghabiskan masa kecilnya di kawasan gunung Ijen. Menanam dan memetik sayurannya sendiri, pernah suatu waktu ia ingin menjadi dokter kemudian berganti menjadi insinyur, kadang mentri bahkan astronot. Memori Heli mengayun jauh ke masa kecilnya. Oleh orang tuanya, ia sudah didik mandiri sehingga memiliki kecenderungan untuk tidak bergantung pada orang lain. Ia bisa melakukan segalanya sendiri. Lalu ia menyadari “Ada suatu waktu saya harus diperingatkan bahwa saya harus minta tolong. Saya tidak ahrus sungkan untuk berbuat demikian.” Katanya dengan suara dalam. Maka ketika ia punya misi hidup yang lebih besar dari dirinya sendiri, ia pun membentuk Javara yang memberdayakan petani lokal untuk mengelola warisan kuliner. 

Misi awal Javara tidak pernah berubah, menjaga warisan keanekaragaman hayati pangan dan mempertahankan profesi petani kecil Indonesia. Hanya cara meraihnya saja yang berbeda, “Almarhumah Ibu saya mengajarkan saya untuk tidak egois. Hidup itu berarti kala kita berbagi. Begitu katanya. Lagipula kita mau berpuas diri sampai kapan? Memangnya, seberapa banyak kita sanggup makan?” ia mempertanyakan. Maka di sini lah ia berada, bersama dunia yang digenggamnya. Ia merasa sangat bahagia petani lokal akhirnya berdaya, bangga atas pekerjaannya, serta menciptakan penerusnya. Suami dan anaknya menjadi dua orang yang kerap menemani di segala situasi. Mereka memberikan banyak kekuatan sekaligus kontrol, lebih dari apa yang ia bisa terima. “Suaminya berada dalam kapal yang sama untuk satu tujuan, bermanfaat bagi sesama. Dengan begitu, perjalanannya mengarungi samudra kehidupan terasa lebih mudah. (WHY) Foto: Hermawan

 

Author

DEWI INDONESIA