Najwa Shihab: Tentang Media dan Caranya Merawat Kemanusiaan
Bagi Najwa Shihab, kekuatan bukan hanya semata dilekatkan pada kadar kekuasaan, melainkan pada kemerdekaan seseorang menyatakan keberpihakannya pada kebaikan dan kemanusiaan.
28 Jan 2020




Power is what define us. Manusia merdeka dan berkuasa adalah yang memiliki kewenangan penuh atas dirinya untuk bisa mengambil sikap, menentukan keberpihakan, memilih untuk melakukan tindakan atau tidak, itu semua akan dipengaruhi atas kemerdekaan dan kewenangan yang ada pada diri kita sendiri,” kata Najwa Shihab.

Hal ini ia lakukan bersama media daring garapannya, Narasi. Tak jarang dalam prosesnya Najwa dan tim Narasi harus melakukan langkah tak populer karena apa yang menurut mereka baik dan benar tidak sejalan dengan pendapat masyarakat pada umumnya. Tanggapan kritis kerap mereka dapatkan karena banyak yang beranggapan bahwa media seharusnya menjadi lembaga netral yang tak semestinya berpihak. Tapi Najwa bergeming.

Ia dan Narasi tetap membuat tayangan-tayangan yang menurut mereka perlu untuk membuka mata masyarakat tentang berbagai isu yang harus didekati secara proporsional. Najwa mengaku tak gentar dicap berpihak karena menurutnya seseorang harus memiliki keberpihakan pada apa yang dianggapnya baik dan mewakili kepentingan publik.  

“Kita harus memiliki keberpihakan. Bukan hanya dalam politik. Banyak sekali yang menanyakan pada saya kenapa media seperti Narasi, kok berpihak? Menurut saya, justru media itu harus berpihak meski juga harus tetap independen. Harus ada pembedaan yang tegas soal keberpihakan dan independensi ini,” katanya.

Ia menantang anggapan yang mengatakan bahwa media harus netral. Baginya ada garis pemisah antara menjadi netral dan menjadi independen. Independensi yang dimaksud Najwa adalah kondisi di mana seseorang atau sebuah lembaga tidak memiliki kepentingan lain selain kepentingan publik dan kebenaran.

“Kalau Anda netral, berarti Anda tidak mengambil posisi. Anda hanya diam, padahal sebagai media, Anda tahu begitu banyak hal. Kalau kita tidak speak up untuk sesuatu yang kita tahu konteksnya seperti apa setelah kita melakukan proses jurnalistik yang pas untuk mengetahui tentang sesuatu, menurut saya, kita justru jadi memanipulasi dan tidak bertanggung jawab,” katanya berapi-api.

Media, menurut Najwa, tidak seharusnya hanya sekadar mengutip A dan mengutip B lalu merasa tugasnya selesai. “Kalau di dalam sebuah ruangan ada dua orang yang sedang berdebat, satu orang bilang di luar hujan dan satunya lagi bilang tidak hujan, kita tidak bisa hanya sekadar mengutip kedua pendapat tersebut, tapi kita harus pergi ke jendela dan melihat apa yang sebenarnya terjadi lalu mengabarkannya pada publik. Saat ini, dengan kondisi polarisasi yang semakin keras dan peredaran fake news di mana-mana, justru keberpihakan terutama pada kepentingan publik dan kebenaran, setelah melalui verifikasi jurnalistik yang ketat, justru harus disampaikan,” Najwa mengungkapkan.

Salah satu hal yang dicontohkan Najwa adalah ketika Narasi membuat debat soal Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). “Orang menganggap Mata Najwa tidak netral. Mungkin saja kami tidak netral, tapi kami independen. Sayangnya, di debat itu tidak ada satu perwakilan PSSI pun yang mau datang. Padahal kami menyuarakan kepentingan publik dan kebenaran, juga tidak punya kepentingan apa pun. Saya tidak ingin jadi ketua PSSI, tidak punya klub bola, dan tidak peduli siapa yang menang asal dia menangnya memang secara sportif. Kepentingan kami hanya ingin mengusir mafia dari lapang hijau dan kalau karena itu kami harus berseberangan dengan PSSI yang biangnya mafia, then, lets do that. Sama seperti saat kasus KPK. Tapi itu harga yang harus dibayar untuk sebuah keyakinan,” katanya.

Najwa mengaku, adakalanya merasa lelah terus berada dalam kondisi bersitegang saat memperjuangkan apa yang menurutnya layak diperjuangkan. “Tapi di Narasi, kami terus berusaha memperjuangan tiga core values yang menurut kami perlu dimiliki bangsa ini. Tiga nilai dasar itu, pertama adalah integritas dan sikap anti korupsi, kedua toleransi yang menurut kami sangat penting dan krusial, lalu ketiga partisipasi. Bagaimana, mengajak orang turun tangan, peduli, bergerak dan terlibat,” katanya.

Dalam pandangannya, ada sinyal bahaya yang mulai menyala terkait ketiga hal tersebut. “Kami anggap kita sudah berada di ambang bahaya karena yang lebih kencang bicara adalah orang-orang yang anti toleransi,” kata Najwa. Menurutnya ini lah saatnya orang-orang Islam moderat harus juga banyak bicara menyebarkan pemikiran Islam inklusif. Salah satunya lewat program Shihab dan Shihab yang ia buat bersama sang ayah. Lewat program bincang-bincang ini ia mengedepankan Islam yang ramah dan rahmat. Dengan cara-cara inilah Najwa membuka jalan-jalan untuk merawat kemanusiaan.

(Indah Ariani)
Foto: Vicky Tanzil
Pengarah Gaya: Karin Wijaya
Busana: Auguste Soesastro, Dior, Fendi
Sneakers: Koleksi pribadi
Rias Wajah: Ike Hartono
Tata Rambut: Evievrian



 

 


Topic

Profile

Author

DEWI INDONESIA