Persiapan Tommy Tjokro Sebelum Membawakan Acara Debat Calon Presiden RI
Tommy Tjokro dalam dunia moderator dan pengalamannya di dalam public speaking.



“Rasa gelisah, gugup, dan senewen itu penting,”  begitu kata Tommy Tjokro perihal persiapannya sebelum menjadi moderator dalam acara Debat Calon Presiden Republik Indonesia kedua pertengahan Februari silam. Tingkat kegugupan yang tepat justru akan memacu dirinya dan mitranya Anisha Dasuki untuk berusaha menghadirkan chemistry yang baik dan menghangatkan suasana sepanjang debat. Tommy mengaku senang, beruntung, tersanjung, dan tentunya gugup saat terpilih sebagai moderator acara dalam skala nasional tersebut, “Saya tidak mau bilang I can do this in my sleep. Itu artinya sama saja saya meremehkan. Ujung-ujungnya, interaksi jadi berkurang, terkesan tidak dekat dengan yang di ajak bicara. Padahal itu yang perlu dihindari di publicspeaking.”
 
Dalam pekerjaanya sebagai pembawa acara berita, bertemu dengan narasumber adalah makanannya sehari-hari. Selain karena berhubungan dengan pekerjaannya, Tommy memang melihat betapa pentingnya publicspeaking. Zaman sekarang bukan zamannya penemu, kata Tommy, sekarang adalah zaman dimana kita mengembangkan ilmu orang lain yang sudah dirumuskan ratusan atau ribuan tahun silam. Yang perlu kita lakukan adalah menemukan cara membuat ilmu-ilmu tersebut tetap relevan dengan penyampaiannya yang baik. Pria berusia 41 tahun ini menganalogikan hal tersebut dengan pengajar yang ilmunya tinggi namun tidak bisa diajak bicara, hanya bisa mentransfer ilmu saja sehingga mahasiswanya tidak merasakan mana dosen yang enak untuk diajak bicara atau biasa-biasa saja.
 
Pengetahuian tentang siapa audience kita adalah hal nomor satu yang perlu diketahui dalam publicspeaking, diikuti kemudian dengan usia, jenis kelamin, dan profesi. Lalu terbentuklah cara berkomunikasi yang membuat sang pembicara tahu di mana ia harus menyampainya punchline dan bagaimana mengimprovisasi teknik storytellingnya. (NTF) Foto: Adiansa Rachman  
 

 



JOIN OUR COMMUNITY