Perempuan, Karier, dan Kepemimpinan: Melawan Bias di Dunia Kerja

Menjadi perempuan dan memimpin bukan hanya soal strategi dan keputusan, tapi juga tentang bertahan di tengah asumsi. Dari empati hingga intuisi, kepemimpinan perempuan membawa kekuatannya sendiri.

Menjadi perempuan dan memimpin di dunia kerja Indonesia masih berarti berhadapan dengan lapisan tantangan yang sering kali tak terlihat, namun nyata terasa. Bahkan bagi mereka yang telah dibekali pendidikan tinggi dan pengalaman profesional yang panjang, kepemimpinan perempuan kerap dibaca melalui lensa asumsi dan bias sosial.

Dalam percakapan bersama Anandita Makes, Amira Ganis, dan Imelda Harsono Velez, muncul satu benang merah yang jelas: perjuangan mereka bukan hanya soal strategi bisnis atau pengambilan keputusan, tetapi juga tentang terus-menerus menegaskan keberadaan, bahwa menjadi perempuan, menikah, dan menjadi ibu tidak serta-merta menghapus kapasitas untuk memimpin.

Tantangan yang Dihadapi sebagai Pemimpin Perempuan

Ketika ditanya mengenai tantangan sebagai pemimpin perempuan, ketiganya sepakat bahwa pendidikan tinggi dan pengalaman profesional yang luas tidak serta-merta menghapus hambatan struktural yang dihadapi perempuan pekerja di Indonesia. Mereka mengidentifikasi dua persepsi sosial yang paling sering menjadi beban tak kasatmata, namun berdampak nyata dalam perjalanan kepemimpinan perempuan.

Advertisement

1. Asumsi akan Keluar dari Dunia Kerja Setelah Menikah dan Memiliki Anak

Di Indonesia, perempuan masih kerap diposisikan sebagai pengasuh utama setelah menikah dan melahirkan. Ekspektasi ini melahirkan asumsi bahwa meninggalkan dunia kerja adalah pilihan yang ‘alami’ bagi perempuan. Imelda mengingat bagaimana keputusannya untuk kembali bekerja pascamelahirkan sempat diragukan oleh lingkungan sekitarnya.

“Setelah kita menikah, orang-orang melihatmu secara berbeda. Orang-orang berasumsi saya tidak akan kembali bekerja karena sudah akan sibuk di rumah,” tuturnya.

Pengalaman ini mencerminkan bagaimana status pernikahan kerap menggeser cara perempuan dipandang secara profesional, bahkan sebelum mereka sempat menunjukkan kapasitasnya.

2. Bias terhadap Ketahanan Perempuan dalam Karier

Ketika perempuan memilih untuk tetap melanjutkan karier, tantangan tidak berhenti di sana. Keraguan justru sering kali meningkat. Amira menceritakan bagaimana dirinya harus bekerja dua kali lebih keras untuk mendapatkan legitimasi yang sama dengan rekan-rekan prianya.

“Pada saat saya berada di industri perminyakan yang sangat male-dominant, sering muncul pertanyaan seperti: ‘Bisa tegas, atau tidak, ya? Manajemen stresnya kuat, atau tidak, ya?’ Saya merasa harus membuktikan diri dua kali lipat untuk membuktikan bahwa kita berhak atas kesempatan untuk menjadi pemimpin,” ujarnya.

Bahkan, dalam beberapa situasi, rekan kerja sengaja menguji keteguhan dan refleks kepemimpinannya. Misalnya dengan melihat apakah ia bersedia ‘turun ke lapangan’ untuk menyelesaikan persoalan secara langsung.

Keuntungan sebagai Pemimpin Perempuan

Meski sepenuhnya menyadari tantangan yang ada, ketiga pemimpin ini memilih untuk tidak berhenti pada narasi keterbatasan. Sebaliknya, mereka menyoroti keuntungan menjadi perempuan dalam kepemimpinan, keunggulan yang lahir dari pengalaman hidup dan karakter alami yang justru semakin relevan di dunia kerja hari ini.

1. Empati dan Kecerdasan Emosional yang Lebih Tinggi

Menurut Amira, empati bukanlah kelemahan, melainkan keunggulan kompetitif yang bisa membentuk gaya kepemimpinan yang khas. “Empati yang lebih tinggi dapat menjadi keunggulan kompetitif yang bisa kita jadikan gaya kepemimpinan unik kita sendiri,” ujarnya.

Dalam dunia pelayanan kesehatan, kemampuan ini menjadi krusial. Pasien yang tampak rewel atau tidak puas sering kali kesulitan mengartikulasikan kebutuhan dasarnya, sehingga diperlukan kepekaan dan kemampuan mendengar yang mendalam. Anandita pun menambahkan bahwa prinsip kepemimpinannya selalu berpijak pada satu mantra: disiplin dengan hati.

2. Kemampuan ‘Mengasuh’ sebagai Modal Kepemimpinan

Kemampuan mengasuh (nurturing), yang kerap dilekatkan pada peran domestik, justru dipandang sebagai aset penting di dunia kerja. Imelda dengan lugas menyampaikan pandangannya, “Jika saya memiliki kandidat perempuan dan laki-laki dengan kualifikasi yang sama, saya akan memilih perempuan kapan saja karena kemampuannya dalam mengasuh.”

Di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, kemampuan ini terwujud dalam kepemimpinan yang adaptif dan peduli, misalnya melalui penciptaan lingkungan kerja yang lebih suportif. Anandita pun sepakat bahwa perhatian kecil terhadap kesejahteraan tim, seperti membaca isyarat-isyarat halus yang sering terlewat, bisa membawa dampak besar.

3. Intuisi yang Lebih Tajam

Ketiganya juga meyakini bahwa naluri keibuan menumbuhkan intuisi yang kuat. Kemampuan ini membantu perempuan menangkap sinyal-sinyal halus, membaca dinamika yang tak selalu terucap, dan mengambil keputusan yang tidak semata-mata berbasis logika. Dalam konteks tertentu, intuisi ini menjadi pelengkap penting bagi pendekatan analitis yang selama ini lebih diasosiasikan dengan kepemimpinan maskulin.

4. Kemampuan Juggling Berbagai Peran

Terakhir, Anandita membagikan refleksi personalnya tentang bagaimana peran sebagai ibu justru mengasah efisiensi dan ketajaman prioritas. Menjalani berbagai peran secara bersamaan memaksanya untuk menguasai seni juggling, yang secara mengejutkan membawa hasil positif. Dengan waktu yang terbatas, ia belajar bekerja lebih fokus dan terstruktur, sehingga produktivitas justru meningkat, baik di rumah maupun di tempat kerja.

***

Pada akhirnya, kisah ketiga pemimpin ini menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan bukanlah versi “lain” dari kepemimpinan laki-laki, melainkan sebuah pendekatan yang berdiri dengan kekuatannya sendiri. Empati, intuisi, kemampuan mengasuh, dan seni juggling peran bukan sekadar atribut personal, melainkan kompetensi strategis yang semakin relevan di dunia kerja hari ini.

Dengan memeluk pengalaman hidup mereka secara utuh, baik itu sebagai profesional, ibu, dan perempuan, mereka tidak hanya menembus batasan, tetapi juga memperluas definisi tentang seperti apa pemimpin yang tangguh dan manusiawi. Sebuah pengingat bahwa ketika perempuan diberi ruang untuk hadir sepenuhnya, kepemimpinan tidak menjadi lebih lemah, justru menjadi lebih kaya.

Teks: Alda Prawitera
Editor: Mardyana Ulva

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

April Ini, Jelajahi Bhutan dalam Ekskursi Fotografi Bersama COMO dan Leica

Next Post

Miracle Aesthethic Clinic dan Mimpi Baru Perawatan Kecantikan

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.