Obsessive Artist: Seni Ambisi dalam Film
Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme, Membaca Jejak Seni Rupa Indonesia Bersama Asikin Hasan

Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme, Membaca Jejak Seni Rupa Indonesia Bersama Asikin Hasan

Pameran ini membaca abstraksi bukan sebagai pengaruh asing semata, melainkan sebagai hasil dialog panjang antara sejarah, material, dan cara berpikir perupa Indonesia lintas generasi.
Melalui Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme, kurator Asikin Hasan mengajak pembaca menelusuri perjalanan seni rupa Indonesia dari representasi menuju bahasa visual yang lebih otonom.

Bagi kurator seni Asikin Hasan, keterhubungan antara seni modern Indonesia dan tradisi tidak selalu hadir sebagai keputusan sadar. Ia justru melihatnya sebagai sesuatu yang mengalir alami. Unsur etnis, simbol-simbol lokal, bahkan kaligrafi, sering muncul begitu saja dalam karya seniman Indonesia, bukan sebagai tempelan, melainkan sebagai bagian dari cara berpikir visual.

Menurutnya, hal ini tak bisa dilepaskan dari latar budaya Indonesia yang berlapis-lapis. “Kita ini hidup dalam tumpukan sejarah,” ujarnya. Pengaruh Hindu, Buddha, Islam, Barat, hingga konteks kontemporer membentuk lanskap budaya yang kompleks. Karena itu, ketika seniman Indonesia berkarya, tradisi tidak perlu dipanggil. Ia sudah hadir di dalam tubuh dan ingatan.

Dari sinilah pameran Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme di Galeri Salihara mengambil pijakan: melihat seni rupa bukan sebagai pemutusan dari masa lalu, melainkan sebagai kelanjutan yang terus berubah bentuk.

Advertisement

Bandung 1950-an dan Lahirnya Non-Representasional

Percakapan kemudian bergerak ke satu momen penting dalam sejarah seni rupa Indonesia: Bandung pada era 1950-an. Di masa inilah, Asikin menjelaskan, muncul kecenderungan baru yang kemudian dikenal sebagai seni non-representasional.

“Iya, jadi di era tahun 50-an, kecenderungan itu muncul terutama di Bandung,” jelasnya. “Karya seni rupa sebelumnya, kan, representasi dari sebuah realitas; yakni dari objek dibawa ke kanvas. Nah, ini tiba-tiba muncul kecenderungan baru: karya yang non-representasional.”

Alih-alih menggambarkan petani, rakyat, atau lanskap seperti dalam seni representasional pasca-Revolusi 1945, para perupa mulai menaruh perhatian pada elemen paling dasar seni rupa itu sendiri: garis, bidang, dan warna. Ini bukan sekadar perubahan gaya, melainkan perubahan cara memandang seni.

“Kalau kita melihat seni rupa klasik Eropa, ia sangat menghamba pada gereja, lalu pada kapitalisme. Nah, kita sebenarnya tidak punya tradisi itu.”

Di baliknya, ada keyakinan bahwa seni rupa seharusnya berdiri otonom, tidak dibebani kepentingan di luar dirinya. “Kalau kita melihat seni rupa klasik Eropa, ia sangat menghamba pada gereja, lalu pada kapitalisme,” kata Asikin. “Nah, kita sebenarnya tidak punya tradisi itu.”

“Laboratorium Barat” dan Tuduhan yang Menyertainya

Namun pergeseran ini tidak diterima begitu saja. Seni non-representasional di Bandung sempat dicurigai sebagai pengaruh asing. Para perupanya bahkan dituding sebagai ‘pengabdi laboratorium Barat’.

“Itu dianggap pengaruh asing,” ujar Asikin. “Karena memang teori-teori seni rupa datang dari sana. Sementara itu, di Indonesia waktu itu masih ada sisa semangat revolusi, bahwa seni dianggap harus merepresentasikan perjuangan, rakyat, orang kecil.”

“Itu dianggap pengaruh asing, karena teori-teori seni rupa datang dari sana. Sementara itu, di Indonesia waktu itu masih ada sisa semangat revolusi, bahwa seni dianggap harus merepresentasikan perjuangan, rakyat, orang kecil.”

Ia mengingatkan bahwa tradisi seni lukis modern di Indonesia sendiri tidak bisa dilepaskan dari kolonialisme. Bukan hanya tentara yang datang, tetapi juga arkeolog, dokter, ahli hukum, dan seniman. Nama-nama seperti Simon Admiral dan Ries Mulder menjadi bagian penting dalam pembentukan pendidikan seni rupa modern, termasuk di ITB.

Ketegangan inilah yang membuat pameran seperti Imba menjadi relevan: ia membuka kembali arsip perdebatan lama, tanpa menghakimi, melainkan mengajak membaca ulang.

Antara Abstraksi dan Abstrakisme

Asikin lalu mengajak melihat lebih dekat perbedaan antara abstraksi dan abstrakisme, dua istilah yang kerap disamakan. “Abstraksi itu masih berangkat dari realitas, dari objek,” jelasnya. “Ia mengambil saripati.” Sebuah figur bisa masih terasa kehadirannya, meski sudah disamarkan. Di titik tertentu, penonton mulai bertanya: ini figur apa sebenarnya?

Namun abstrakisme melangkah lebih jauh. “Sampai di titik ekstrem, semuanya jadi datar,” katanya. Tidak ada lagi ilusi ruang, tidak ada upaya meniru volume atau perspektif. Lukisan kembali pada kenyataan dasarnya: bidang dua dimensi.

Dalam sejarah seni rupa Barat, ilusi ruang dikembangkan lewat perspektif. Namun dalam kecenderungan ini, ilusi itu justru ditinggalkan. Bukan karena ketidakmampuan, melainkan karena pilihan estetik dan konseptual.

Dari Bandung ke Banyak Kota

Yang menarik, kecenderungan ini ternyata tidak berhenti di Bandung. Asikin menegaskan bahwa apa yang dulu dilabeli sebagai “Bandung” kemudian menyebar dan bertransformasi di berbagai kota.

“Dulu disebut Bandung sebagai laboratorium Barat,” ujarnya. “Tapi ternyata ini nggak berkembang di Bandung saja. Ada di Bali, di Jogja, di Jakarta juga.”

Memang, Jogja dikenal dengan kecenderungan realisme yang kuat, berakar pada narasi perjuangan. Namun pengaruh lintas kota tidak bisa dihindari. Perbedaan medium pun ikut memainkan peran: dari cat minyak, beralih ke akrilik, hingga kini ke medium digital.

Pameran sebagai Ruang Membaca

Bagi Asikin, di sinilah peran pameran menjadi penting. Ia melihat pameran bukan sekadar ruang pajang, melainkan ruang baca.

“Pameran itu seperti perpustakaan yang dibuka di tengah publik. Di situ kita bisa membaca karya, membaca pikiran.”

Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme dihadirkan dengan semangat itu. Karya-karya dari berbagai generasi diletakkan berdampingan, bukan untuk dibandingkan, melainkan untuk memperlihatkan perjalanan: ini yang dulu, ini yang sekarang.

Dengan cara itu, pameran ini tidak menawarkan satu narasi tunggal, melainkan membuka kemungkinan membaca seni rupa Indonesia sebagai proses yang hidup. Ia terus bergerak, berubah medium, dan menegosiasikan tradisi dengan zamannya.

Di hadapan karya-karya tersebut, kita diajak tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi juga memahami bagaimana pikiran, sejarah, dan material saling berkelindan. Seni rupa, pada akhirnya, bukan tentang bentuk semata, melainkan tentang cara manusia berpikir melalui visual.

Bekerja sama dengan ArtSociates, pameran Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme ini menghadirkan sejumlah karya seni rupa Indonesia dari berbagai periode generasi. Termasuk di antaranya yakni A.D. Pirous, G. Sidharta Soegijo, Mochtar Apin, Umi Dachlan, Gabriel Aries, Galih Adika Paripurna, Mujahidin Nurrahman, Fadjar Sidik, dan masih banyak lainnya. Pameran ini dibuka pada Jumat, 16 Januari 2026 di Galeri Salihara dan bisa dikunjungi hingga 22 Februari 2026.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Obsessive Artist: Seni Ambisi dalam Film

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.