Lewati Hari-hari Social Distancing dengan 5 Buku Ini
Stay inside, wash your hands, and catch up on your readings, ladies!
27 Mar 2020



Ayo mengaku, kita semua pasti punya tumpukan buku yang belum terbaca meskipun setiap tahun atau setiap bulan sudah berjanji kepada diri sendiri untuk menyelesaikannya. Membaca bisa jadi hobi yang sering tertinggal di hari-hari biasa. Kesibukan Ibu Kota setiap hari memang kerap terasa menyita begitu banyak waktu dan energi sehingga hobi membaca buku kerap terlewat.

Kini, di kala social distancing, rasanya membaca menjadi salah satu pilihan yang tepat untuk dilakukan guna mengisi waktu. Larangan fisik untuk keluar, tidak mesti menjadi alasan untuk mengungkung imajinas Anda bukan. Bawa pikiran Anda melanglang jauh dalam petualangan fiksi seru, perenungan personal, ataupun perspektif sosial dan sains lewat buku. Berikut ini 5 buku pilihan Dewi untuk melewati hari-hari social distancing.

 

Look’s Who’s Back oleh Timur Vermes
Selama masa social distancing ini mungkin Anda sering berandai-andai. Andai Anda bisa berjalan-jalan, andai bisa berkumpul bersama sahabat-sahabat dekat, dan sebagainya. Well, Timur Vermes mengajak Anda berandai-andai lebih jauh lewat bukunya Look Who’s Back.

Dalam buku ini Timur menawarkan narasi bagaimana ceritanya apabila Adolf Hitler hidup kembali. Bagaimana kiranya ia akan mempersepsikan dunia Jerman modern hari ini dan bagaimana pula orang-orang akan menanggapinya. Novel bergenre humor ini cukup berhasil mengajak kita berfantasi tentang kemungkinan mustahil itu dengan cara yang segar. Cocok untuk merehatkan pikiran sejenak dari pekerjaan dan iruk-pikuk berita sekarang.
 

The Little Life oleh Hanya Yanagihara
Jika Anda ingin menenggelamkan diri dalam pusara melankolia, The Little Life karya Hanya Yanagihara bisa menjadi jawabannya. Novel ini berkisah tentang kehidupan empat sahabat di New York. Hanya menghadirkan keempat karakter dengan kompleksitas cerita masing-masing.

Lewat narasinya, ia mengajak kita bukan hanya untuk menyelami karakter dan masa lalu mereka. Melainkan juga ikut bertumbuh dengan empat protagonis kita melewati masa muda hingga ujung usia. Pelan-pelan Hanya menceritakan hubungan yang tumbuh dan kandas, yang hilang dan terganti. Seperti judulnya, Hanya menceritakan sekelumit kecil kehidupan yang membuat pembacanya merefleksikan hidup sendiri. What we’ve been through and what we will become.

 

I AM I AM I AM oleh Maggie O’Farrell
Buku yang satu ini berisi kumpulan esai personal tentang pengalaman near death experience yang dialami penulisnya serta relasinya dengan kedukaan. Maggie menceritakan kembali pengalamannya bergesekan dengan maut dan bagaimana cerita itu mengubah sesuatu dalam dirinya. Sedikit demi sedikit. Membentuk caranya memandang dunia dan kehidupan.

Mulai dari pengalamannya berpapasan dengan pembunuh berantai dan selamat, hingga bagaimana ia menghadapi kedukaan setelah keguguran. Cerita yang ia hadirkan begitu personal dan obeservatif. Ia menelisik ke dalam dirinya dan mempersembahkan kisahnya secara reflektif. Bukan sekadar untuk mensyukuri hidup. Lebih dari itu. Esai Maggie merenungi bagaimana kehidupan dan kematian hanya dipisahkan segaris tipis takdir. Dan itu berlaku untuk semua orang.
 

I Know Why the Caged Bird Sings oleh Maya Angelou
Penyair Maya Angelou menuliskan kisah hidupnya dalam memoar I Know Why the Caged Bird Sings. Dalam buku ini Maya menceritakan masa kecilnya dan kehidupannya Sebelum akhirnya dikenal sebagai salah satu penyair penting di era modern.

Dalam bukunya Maya menghadirkan cerita yang senyata-nyatanya. Sarat harapan dan luka. Lewat tiap-tiap kalimatnya, Maya tak hanya sedang menceritakan kembali. Ia juga tengah berkaca, menghadapi kembali masa lalunya dan mengajak kita berkaca pula bersamanya. Membuat membaca buku semacam menelusuri pergulatan Maya sekaligus terkoneksi dengannya di level personal paling personal.

 

The Selfish Gene oleh Richard Dawkins
Richard Dawkins adalah seorang ahli biologi evolusi asal Inggris dan The Selfish Gene adalah buku sains pertamanya serta salah satu karya kanonnya. Di buku ini Richard berargumentasi bahwa manusia terlahir dengan gen egois dan gen itulah yang bertanggung jawab atas evolusi kita. Hal ini juga tercermin dalam tindakan-tindakan manusia.

Bahkan kegiatan-kegiatan alturistik juga boleh jadi ternyata menjadi selubung dari keegoisan yang sudah terprogram dalam diri manusia. Dan yang memungkinkan manusia terus bertahan dan berevolusi hingga hari ini. Bacaan sains ini cocok menjadi teman Anda melewati social distancing dengan pembahasannya yang konfrontatif dan membuka sudut pandang dalam melihat manusia sebagai spesies dan relasi kita dengan lingkungan. (SIR). Foto: Dok. Istimewa.



 

 


Topic

Culture

Author

DEWI INDONESIA