Review Film: 'Bebas', Sebuah Pergulatan Zona Nyaman
Adaptasi dari film Korea Selatan bertajuk 'Sunny', 'Bebas' digarap oleh Riri Riza dan ditulis oleh Gina S. Noer dan Mira Lesmana.


Film 'Bebas' telah tayang di bioskop sejak 3 Oktober 2019.

Film 'Bebas' diadaptasi dari film box office hit korea berjudul 'Sunny'. Bebas mengisahkan keenam sahabat saat SMA dan bertemu kembali setelah 20 tahun lebih tidak berjumpa. Masing-masing mulai menggali kehidupan mereka sendiri-sendiri.

Diperankan oleh aktris pemenang Piala Citra untuk Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak, tokoh Vina (Marsha Timothy) mengawali narasi dari Geng Bebas dengan kehadirannya di sebuah keluarga kecil yang ia bangun: satu anak dan suaminya.

Penonton kemudian dilibatkan dalam narasi lanjutan mengenai keluarga ibu dari Vina (Sarah Sechan) yang sakit dan langsung diterpa oleh pertemuannya dengan salah satu anggota Geng Bebas, Kris (Susan Bachtiar).

Kris sedang menjalani pengobatan karena penyakit kanker yang dialami. Cerita pencarian anggota Geng Bebas pun diawali dari permintaan Kris kepada Vina untuk mencarikan di mana para sahabatnya dulu waktu SMA. Perjalanan Vina pun dimulai.

Usai bertemu dengan Jessica (Indi Barends), Gina (Widi Mulia), dan Jojo (Baim Wong), mereka pun mengisi waktu dan bernostalgia bersama. Bebas menghadirkan plot yang maju-mundur dengan kisah persahabatan mereka saat SMA. Di sinilah narasi-narasi tentang latar belakang Vina dan beberapa temannya berkelindan dan membangun relevansi dengan kehidupannya yang sekarang ia jalani.

Mulai dari anak perempuan Vina yang dilecehkan oleh sekelompok laki-laki di sekolah, taksir-menaksir dengan kakak kelas, hingga membantu Kris mempertemukan kembali Geng Bebas yang sudah lama berpencar. Vina hadir sebagai pelopor perlawanan terhadap ketidakadilan saat anaknya mengalami hal yang sama saat ia SMA dulu. Rasa marah Vina memang sewajarnya diperlihatkan, merepresentasikan sebuah perlawanan bahwa adanya tuas yang tidak imbang dalam kekuasaan antara laki-laki dan perempuan.

Di film, Vina bersama ketiga temannya menghampiri si pelaku tukang gencet anaknya dan diberi "pelajaran" soal perbuatan mereka. Momen tersebut adalah salah satu benang bahwa kisah-kisah maupun narasi semacam ini sangat diperlukan: perempuan dapat berkuasa juga di luar wilayah domestiknya.

Perlawanan yang ditampilkan Bebas bukan hanya sekadar perlawanan fisik, melainkan beberapa perlawanan mental dan pelepasan masa lalu, juga ikut dikisahkan dengan manis oleh Riri Riza. Misalnya, saat Vina melawan kesedihan di masa lalunya sendiri dari cerita romantikanya bersama Jaka. Narasi Vina SMA dengan Vina dewasa yang ditampilkan, memuat sebuah pesan sendiri dalam sub-filmnya: berdamai dengan masa lalu dan belajar untuk melepaskannya secara legowo.

Situasi Vina dengan kompleksitasnya adalah pelajaran yang sering sekali ada di kehidupan perempuan. Biasanya, narasinya terbentur dengan sekadar mengurus keluarga anak-suami-rumah, tetapi dari Vina kita belajar soal zona nyaman yang ditampilkan pada umumnya tidak terlalu sering disajikan. Vina lebih sering melakukan aktivitas di luar dan beraksi di jalanan. 

Dari Bebas, kita belajar bahwa perempuan yang sudah menikah bukan hanya memiliki kekuasaan secara domestik dan hanya mengurusi rumah tangga, tetapi menyadari kita bagaimana menjadi peran utama dalam hidup kita sendiri. Sejauh-jauhnya mendalami keenam tokoh Geng Bebas, Vina menyadarkan bahwa setidaknya kita adalah tokoh utama dalam kehidupan kita sendiri. (FH/ Foto: Miles Films)

 


 

 


Topic

Film

Author

DEWI INDONESIA