Menilik Masa Depan Mode dalam “Jakarta Via Paris”

Sembilan jenama mode Indonesia kembali dari pesiar ke trade show Tranoï Paris, menampilkan akulturasi Timur dan Barat dalam garis rancang.
Finale presentasi Nagita Slavina berkolaborasi dengan Voneworld dalam gelaran “Jakarta Via Paris” di Jakarta Fashion Week 2026.

Jakarta dan Paris: dua metropolitan dari dunia yang begitu berbeda. Paris adalah jantung kebudayaan Eropa, sementara Jakarta tumbuh dengan denyut urbannya. Pun, dalam gelaran “Jakarta Via Paris” di Jakarta Fashion Week 2026, pembuluh yang menghubungkan kedua kota berdetak dengan gairah: perpaduan dua tesis dalam dialog masa depan.

“Jakarta Via Paris” mempresentasikan sembilan jenama yang memamerkan koleksi dalam trade show internasional bergengsi, Tranoï Paris, pada awal bulan Oktober 2025 silam. Program inkubasi diprakarsai oleh Jakarta Fashion Week bekerja sama dengan pemerintah provinsi DKI Jakarta. Sembilan jenama dari berbagai garis rancang menampilkan pusparagam mode Indonesia: CALLA, Studiomoral, Rounn, Masshiro Atorie, Nadjani, Nagita Slavina, Voneworld, BIASA, dan Buttonscarves.

Advertisement

CALLA mencetak corak dalam katun terawang penuh tekstur, seakan menghayati mural 13th Arondissement. Tata busana bergaya jalanan seperti hoodie jumper dan celana pendek dibesut dalam corak flanel dekonstruktif. Setapak yang dijejak CALLA, nampaknya, alih-alih dicoret grafiti segala rupa, justru diwarnai pusparagam warna.

Studiomoral hadir dengan permainan lapisan nan kuat, dalam kontras di sana-sini. Baju hangat seperti mantel overcoat bersandang celana pendek. Corak dalam syal turut hadir sebagai tekstur dalam luaran. Keseluruhan koleksi adalah busana untuk menantang segala caturmusim Eropa.

Masshiro Atorie dan Rounn menghadirkan duet busana dasar dan tas kerja, semuanya dalam struktur yang tegas. Demikian tegas hingga bahkan kerut pun nihil dalam tiap gerak, menjamin tampilan rapi dan necis. Permainan lipatan menjadi ornamentasi yang mempermanis, bak origami kain.

Nadjani hadir dengan terjemahan Nadjani akan khazanah Baroque Prancis khas Versailles. Corak bunga rampai Nadjani mengemuka dengan busana sandingan nan polos, bermain siluet A-line bak tutu menggembung. Aksen cutout dalam luaran turut menjadi pencuri perhatian menarik.

Nagita Slavina dan Voneworld membesut tabrak-warna berpalet pastel dalam geometri arsitektural. Nagita Slavina bermain dengan pola sapu tangan, membesut siluet asimetris dalam potongan busana. Polos tanpa corak, kontras bentuk ini menjadi permainan yang kenes dalam tampilan.

BIASA bermain dengan garis warna biner, cenderung monokromatis, dalam garis rancang tegas bak pencakar langit La Défense. Teknik dari patchwork hingga makrame membesut saling-silang garis. Gaya pelesir resortwear khas BIASA dieksplorasi ke dalam bentuk-bentuk yang lebih urban dan modernis.

Buttonscarves, seluruhnya dalam magenta nan ikonis, membesut busana formal dalam berbagai siluet, dari yang jangkung hingga bervolum gembung. Tren gaya khas Jakarta seperti luaran berlanggam janggan, bertemu dengan gaun membentuk tubuh berhias draperi dan jubah megah berkerah pita.

Pesiar ke Paris ini jelas menanggalkan jejak pasar Eropa dalam garis rancang tiap jenama. Akulturasi Timur dan Barat menciptakan sintesis menarik dalam jenama-jenama yang biasa kita kenal. Bisa jadi, yang kita intip dari cuplikan koleksi jenama-jenama ini, adalah masa depan mode kita: ketika Jakarta telah mapan menjadi ibukota mode dunia.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Menziarahi Hikayat Serumpun dalam "ASEAN Fashion Parade

Next Post

InJourney Hospitality Persembahkan Kolaborasi Eksklusif Erwin Gutawa & Indra Lesmana di Sanur

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.