Panggilan Anatomi Hutan Wilsen Willim
Dengan peragaan eksklusif yang digelar di tengah hutan kota, Wilsen Willim menyuguhkan koleksi pakaian wanita terbarunya.


1 / 14

Dengan sejumlah petunjuk lokasi rinci bagi para undangan peragaan Wilsen Willim, Diaz Parzada mengirimkan pesan melalui WhatsApp malam hari sebelum peragaan. Diaz, yang juga partner bisnis dari Wilsen ingin memastikan mereka yang hadir di Hutan Kridaloka, Gelora Bung Karno Senayan tidak tersesat dan terlambat hadir di peragaan yang digelar pada pukul 10 pagi, Jumat, 22 November 2019.

Lokasi Hutan Krida Loka yang terletak di dekat Stadion Akuatik GBK itu memang sedikit tersembunyi. Terletak di bagian belakang Stadion Akuatik, Krida Loka merupakan kumpulan area tajuk pepohonan rimbun yang dipilih Wilsen sebagai latar peragaan bertajuk Anatomy.

Bekerjasama dengan Lenzing untuk mengolah EcoVero, sebuah material bio degradable yang terbuat dari bubur kertas dengan asal pohon yang terjamin dengan rangkaian sertifikat ramah lingkungan, Wilsen berupaya menampilkan suguhan koleksi wanita yang jauh lebih feminin.

Gaun-gaun yang sedikit melayang serta permainan bahan yang transparan menjadi salah satu kunci koleksinya kali ini. Wilsen juga menjungkirbalikkan istilah pakaian siang dan malam yang telah lama dipergunakan dalam industri mode.

Ada gaun dan blazer yang dipadukan dengan rok yang mengembang, serta gaun dengan aplikasi bordir atau brokat yang saling menyilang untuk kembali diolahnya. Seperti peragaan-peragaan sebelumnya, Wilsen juga berupaya menyuguhkan pesan inklusif.

Terdiri dari banyak wajah baru dalam dunia modelling, Wilsen berupaya menyuguhkan pesan itu melalui casting para modelnya. Mulai dari yang berkulit gelap, hingga oriental, atau bahkan berhijab. Model pria juga tetap hadir dalam koleksi ini. Meskipun mengenakan koleksi wanita, namun tampilannya tetap maskulin.

Lewat Anatomy, Wilsen berupaya membedah kembali tailoring miliknya. Dia berupaya menggabungkannya dengan aplikasi-aplikasi yang lebih sederhana, ataupun paduan warna monokromatik serta violet.

Yang agak kurang dari koleksi ini adalah, cerita dan konteks pakaian atas presentasi koleksinya yang diperagakan pada lokasi khusus. Aspek penataan gaya dari koleksi Wilsen--yang biasanya cukup kuat--kali ini terasa kurang. Padahal, dengan memeragakan koleksi di sebuah lokasi khusus, Wilsen memiliki kemewahan dan otoritas yang lebih kuat untuk mewujudkan visinya sebagai sebuah brand. Meskipun begitu, ini jadi awal yang baik bagi Wilsen. (SJH) Foto: Dok. Wilsen Willim
 

 

Author

DEWI INDONESIA