
Dua pameran yang saat ini tengah berlangsung di ara contemporary, Senayan, mengajak kita melangkah sejenak dari dinamika kota dan masuk ke dalam ruang refleksi yang lebih intim. Galeri ini membuka ruang Main Gallery untuk pameran tunggal seniman asal Yogyakarta, Enggar Rhomadioni, yang bertajuk Pāṭha, serta Focus Gallery untuk pameran kelompok Trinket Philosophy yang dikurasi oleh Pearamon Tulavardhana.
Keduanya memanggil kita untuk menyelami bagaimana makna sebuah peristiwa, ingatan, hingga benda-benda paling personal tidak pernah hadir secara mendadak., Semua itu melainkan mengendap perlahan lewat cara kita melihat, mengingat, dan merawatnya.
Menelusuri Lorong Duka dan Sisi Feminin bersama Enggar Rhomadioni

Di Main Gallery, Enggar Rhomadioni menampilkan faset karya terbarunya yang menandai titik balik penting dalam perjalanan karyanya. Jika sebelumnya Enggar dikenal kerap mengeksplorasi konsep keperkasaan ksatria Jawa yang utuh (Ksatria Jawa Paripurna), yaitu sebuah simbol maskulinitas yang tenang, teguh, dan tak tergoyahkan, kali ini ia justru memilih melangkah ke area yang rentan.
Perubahan sudut pandang ini berawal dari pengalaman personal saat ia kehilangan sang ibu. Kejadian tersebut mengguncang batas-batas ketangguhan yang selama ini dipegang teguh. Di Dalam ruang perawatan intensif (ICU), saat ia memeluk ibunya dan merasakan perlahan kehangatan tubuh sang ibu memudar, Enggar menyadari ada duka dan ruang hampa yang tak sanggup ditambal oleh kebanggaan maskulin. Dari titik itulah, kerinduan serta rasa ingin tahunya terhadap sosok dan nilai-nilai feminin bermula.
Enggar tidak menempatkan dirinya sebagai sosok yang paling paham atau ingin menguasai definisi femininitas. Sebaliknya, ia memposisikan diri sebagai seorang murid yang tekun membaca dan mencatat. Tajuk Pāṭha sendiri diambil dari istilah Sanskrit yang bermakna ganda: ‘pembacaan atau pendarasan teks suci’ sekaligus ‘jalan perlintasan’.
Melalui karya-karya lukisan surealis berukuran besar hingga detail visual yang dramatis, Enggar menghadirkan bentuk-bentuk simbolis tubuh, kurva, hingga lanskap warna merah tua, perak, dan biru samudra. Ia menyusun perjalanan hidup manusia ke dalam tiga fase utama: kelahiran, interaksi antarmanusia, dan kematian. Duka baginya adalah sebuah pāṭha—sebuah proses belajar dan perjalanan panjang tanpa harus tergesa-gesa sampai pada titik akhir. Lewat pameran ini, Enggar membiarkan dirinya jujur pada ketidaksempurnaan dan kerentanan manusia.
Cerita Memorial di Balik Benda-Benda Kecil dalam Trinket Philosophy

Beralih ke Focus Gallery, suasana berganti menjadi lebih intim melalui pameran Trinket Philosophy. Kurator asal Thailand, Pearamon Tulavardhana, mengumpulkan karya dari empat seniman perempuan: Kanokwan Sutthang, MM. Kosum, dan Tuna Dunn dari Thailand, serta Miranda Mazuki dari Indonesia.
Pameran ini berangkat dari fenomena ekonomi yang dikenal sebagai Lipstick Index, —sebuah kecenderungan di mana masyarakat cenderung membeli barang-barang kecil yang terjangkau saat situasi ekonomi sedang penuh ketidakpastian. Hari ini, ketimbang membeli rumah atau kendaraan yang makin sulit dijangkau, banyak orang beralih mengumpulkan gantungan tas, pernak-pernik, gashapon, atau barang koleksi kecil untuk mendapatkan kenyamanan singkat di tengah tekanan hidup.
Namun, Trinket Philosophy mengajak kita melihat jauh melampaui angka penjualan atau fungsi sekadar penghias. Benda-benda kecil ini memuat jejak emosional, hubungan antarmanusia, serta memori yang tersimpan rapat.
Kanokwan Sutthang

Ia menggambar lanskap persawahan di daerah asalnya, Ubon Ratchathani, menggunakan pensil warna di atas kain kassa halus. Ia menyoroti rumput liar dan kehidupan mikro yang kerap diabaikan, padahal menjadi bagian penting dari keberlangsungan ekosistem.
MM. Kosum

Seniman ini menghadirkan karya keramik, lukisan, dan sketsa lembut yang memetakan proses tumbuh kembang, kepolosan masa kecil, serta kebutuhan manusia untuk jeda sejenak dari hiruk-pikuk kota.
Tuna Dunn

Perupa satu ini menangkap ritme hubungan antarmanusia dan momen-momen singkat lewat animasi loop digital, lukisan minimalis, hingga hasil pemindaian cangkang kerang laut yang ia kumpulkan saat berlibur.
Miranda Mazuki

Ia merangkai objek-objek kecil berbalut perunggu, lilin, dan rantai yang menyerupai liontin atau jimat. Karya ini menyimpan memori personal, kerinduan, dan ikatan intim dengan orang-orang terkasih yang melintasi jarak serta waktu.
xxx
Melalui dualitas yang dihadirkan di Main Gallery dan Focus Gallery, pameran di ara contemporary ini mengingatkan kita untuk berhenti sejenak. Baik duka mendalam yang mengubah cara pandang seorang laki-laki terhadap hidupnya, maupun kehangatan sederhana yang terpancar dari sekuntum bunga rajut dan gantungan kecil favorit kita, seluruhnya merupakan kepingan identitas yang patut dirawat.
Kedua pameran ini berlangsung dari 15 Agustus hingga 13 September 2026 di ara contemporary Jakarta, Senayan.
Teks: Bunga Aurelia
Editor : Mardyana Ulva