
Sebuah pameran baru akan hadir di Jakarta dengan fokus pada medium kertas. Bertajuk Art Jakarta Paper, perhelatan yang akan berlangsung pada 5–8 Februari 2026 mendatang di City Hall Mall Pondok Indah 3 ini menjadi cerminan skena seni dalam lanskap seni rupa Indonesia. Jika selama ini praktik seni berbasis kertas kerap berada di pinggir perhatian, art fair ini memberikan panggung utama baginya.
“Selama ini, kita harus jujur mengakui bahwa di banyak art fair, karya di atas kanvas selalu jadi pusat perhatian,” ujar Enin Supriyanto, Artistic Director Art Jakarta Papers. “Sementara karya kertas, patung kecil, atau medium lain sering kali dianggap sekunder.”
Kesadaran inilah yang mendorong lahirnya Art Jakarta Paper: sebuah ruang khusus yang memberi waktu, fokus, dan penghargaan setara bagi medium yang sering diremehkan, namun justru kaya kemungkinan.
Memberi Ruang Khusus bagi Medium Kertas
Gagasan ini berakar dari pengalaman Art Jakarta di Jakarta International Expo pada Oktober tahun sebelumnya. Di sana, Enin dan tim mengamati pola yang berulang: karya kanvas besar menjadi magnet utama, sementara karya berbasis kertas dan bentuk non-konvensional kerap terlewatkan.
“Dari situ kami berpikir, mungkin memang sudah waktunya ada platform yang lebih spesifik,” jelas Enin. Pendekatan ini mengingatkannya pula pada Art Jakarta Gardens yang mereka gagas pada 2012—sebuah pameran yang secara khusus membuka ruang luar bagi patung dan instalasi, agar medium tersebut bisa berbicara dalam konteks yang tepat. Art Jakarta Paper lahir dari logika yang sama: bukan memisahkan, melainkan memberi tempat yang adil agar setiap medium bisa tampil utuh dengan bahasanya sendiri.
Art Jakarta Paper lahir dari logika yang sama: bukan memisahkan, melainkan memberi tempat yang adil agar setiap medium bisa tampil utuh dengan bahasanya sendiri.
Kertas sebagai Praktik yang Terus Bergerak
Dalam pameran ini, seluruh galeri peserta diwajibkan menampilkan karya yang berbasis kertas sebagai medium utama. Namun yang dimaksud “kertas” di sini jauh dari pengertian sempit.
“Kalau kita bicara konvensional, orang langsung membayangkan gambar di atas kertas, ilustrasi, atau cetak grafis,” kata Enin. “Padahal praktik seni kontemporer sudah melampaui itu sejak lama.”
Ia menyebut bagaimana seniman masa kini mengolah kertas menjadi karya dua dimensi, tiga dimensi, hingga instalasi berskala kompleks. Dari papier-mâché yang dikenal sejak ratusan tahun lalu, hingga eksplorasi mutakhir yang memadukan teknologi, material, dan narasi personal.
***
Sebanyak 28 galeri dari berbagai kota dan negara akan berpartisipasi, mulai dari Yogyakarta, Malaysia, Bangkok, Seoul, hingga Taipei. Selain karya individual, pameran ini juga menampilkan instalasi khusus, termasuk karya bertema catur dari Naufal Abshar yang berkolaborasi dengan Succor Asset Management, Rudy Aceh Dermawan yang mengolah teknik gunting kertas, dan Iwan Effendi yang akan menghadirkan karya patung papier-mâché.
Bagi Enin, keberagaman ini penting. “Ini bukan hanya soal Jakarta atau Indonesia,” ujarnya. “Ini tentang bagaimana praktik berbasis kertas berkembang di berbagai konteks, dan bagaimana kita bisa saling belajar.”