Berkelana dari Sofa Anda dengan 5 Buku Ini
Obati rasa rindu akan pelesir dengan beberapa buku travel literature berikut.
31 Mar 2020



Anda yang hobi traveling mungkin merasa tersiksa saat harus berdiam diri dalam jangka waktu yang lama atau tak menentu seperti saat ini. Diam di rumah adalah keputusan yang tepat, dan akan ada waktunya di masa depan di mana Anda bebas bertualang lagi. Untuk sementara, coba buka beberapa buku bertema travel untuk meredam si travel bug dalam diri.

Sejak dulu saya doyan melahap travel literatures. Umumnya berupa cerita non-fiksi/memoar, saya selalu hanyut ke dalam setiap kisah dan pengalaman yang tertuang di dalamnya. Sekarang jika saya akhirnya bisa punya kesempatan untuk mengunjungi sebuah kota atau negara baru yang saya impikan dan pernah saya baca di sebuah buku, saya suka membawa buku dengan cerita yang berlatar belakang kota/negara tersebut untuk dibaca di sana (kalau ada waktu, seringnya sih terbengkalai).

Anggap masa isolasi dan social distancing ini sebagai waktu yang tepat untuk lebih matang merencanakan destinasi pelesir Anda berikutnya, yang inspirasinya juga bisa didapatkan dari buku-buku ini. Berikut adalah beberapa yang jadi favorit saya.

 

A Year in Provence oleh Peter Mayle

Mungkin ini buku yang berjasa membuat saya jatuh cinta mendalam pada travel literature. Diterbitkan pada tahun 1989 dan ditulis oleh seorang mantan pekerja iklan yang memutuskan untuk pindah dari Inggris dan memulai hidup baru bersama istrinya di Provence, Prancis. Ceritanya berpusar pada setahun pertama mereka beradaptasi dengan lingkungan baru. Mulai dari proses pembangunan rumah dan kebun mereka, iklim yang terkadang ekstrim, etos kerja dan budaya yang lebih santai ala Mediterania, hingga pedagang truffle ilegal. Tak ketinggalan, narasi tentang beragam hidangan yang mereka santap di restoran-restoran Provence. Kisahnya ringan, hangat, dan lucu, dengan sentuhan sarkasme khas Inggris yang seringkali membuat saya terbahak-bahak. Mayle lalu melanjutkan kesuksesan buku pertamanya ini dengan tiga lagi kisah tentang kehidupannya di Provence, yakni Toujours Provence, Encore Provence, dan yang terbaru, My Twenty-Five Years in Provence.
 
 

Holy Cow! oleh Sarah Macdonald

India yang penuh warna dan sangat spiritual tak ayal menarik banyak orang dari dunia barat untuk mengunjunginya. Tidak demikian dengan Sarah Macdonald, seorang Radio DJ dari Sydney yang pernah bersumpah tidak akan kembali ke India setelah pengalaman buruknya backpacking keliling India saat ia masih muda. Nyatanya, sesuai dengan ramalan seorang pengemis saat itu, ia kembali ke India untuk mengikuti tunangannya yang adalah seorang jurnalis. Saat Sarah jatuh sakit dan hampir meninggal namun berhasil sembuh dan mulai mempertanyakan arti hidup dan mati, di sini kisah-kisah penuh humor dan satir terjadi. Ia pun berkeliling India mencari tahu beragam agama dan kepercayaan yang dianut di negara tersebut, melompat dari satu ashram ke ashram lainnya mencari pencerahan, sampai melihat penguburan ala Zoroastrianisme yang tak lazim untuk kebanyakan orang. Gaya tutur Sarah yang gamblang dan penuh humor membuat saya tak bisa berhenti tertawa, meski banyak hikmah yang ia torehkan dari perjalanan spiritualnya tersebut.

 

A Year in The World oleh Frances Mayes

Pengarang yang populer berkat buku memoarnya Under the Tuscan Sun (dan buku-buku lanjutannya) ini menuangkan pengalamannya bertualang selama setahun bersama suaminya keliling dunia—atau tepatnya Eropa dan sekitarnya. Mulai dari Andalucia, Italia, Maroko, Turki, hingga Skotlandia, Frances mampu mendiskripsikan degup kehidupan di setiap kota yang ia masuki dengan detail dan seringkali puitis. Kisahnya juga dibumbui dengan berbagai judul buku, penggalan paragraf maupun prosa dari penulis-penulis favoritnya yang berhubungan dengan tempat-tempat yang ia kunjungi tersebut, serta beragam makanan khas yang disantap oleh Mayes dan Ed, suaminya. Dari buku ini, saya juga mempelajari cara seorang penulis memetik inspirasi dari tiap tempat atau kejadian yang ia alami atau lihat.
 


The Sweet Life in Paris oleh David Lebovitz

Bagi seorang pastry chef dan penulis buku masak seperti Lebovitz, pindah dan menetap di Paris adalah impiannya sejak lama. Saat hari itu tiba, nyatanya ia tak luput pula dari culture shock. Observasi dan pengalamannya akan Paris dituangkan Lebovitz ke dalam blog-nya yang penuh humor namun juga kritis. Blog inilah yang menjadi cikal bakal dari buku memoar ini. Selain berisi cerita tentang Paris, Lebovitz juga menuliskan tips berkomunikasi dengan Parisienne, hingga penjelasan mengenai jenis-jenis minuman kopi yang biasanya tersedia di kafe-kafe Paris. Setiap bab dari buku ini selalu diakhiri dengan beberapa resep masakan—yang tentunya bisa Anda praktikkan di masa #dirumahaja sekarang.

 


Traveling with Pomegranates oleh Sue Monk Kidd dan Ann Kidd Taylor

Sebuah memoar menarik mengenai perjalanan seorang ibu dan anak berkeliling tempat-tempat suci di Yunani, Turki, dan Prancis. Kisah ini dituliskan dari dua sudut pandang, sang anak dan sang ibu, dalam memaknai perjalanan tersebut. Selain deskripsi tentang beragam gereja, biara, dan kuil yang menarik, saya lebih terserap ke dalam tali hubungan dan dinamika yang unik antara sang Ibu dengan putrinya, yang saat perjalanan tersebut terjadi, masing-masing sedang memasuki fase pencarian jati diri dan pemaknaan hidup, serta saling mengenal lagi. Saat membalik halaman terakhir dan kemudian menutup buku ini, saya pun merefleksikan hubungan saya dengan ibu saya sendiri. (Margaretha Untoro) Foto: Istimewa.





 

 

 


Topic

Travel

Author

DEWI INDONESIA