Menikmati Pesona Pantai Keramas dengan Komaneka Resort
Pantai Keramas yang jauh dari keramaian menjadi pilihan untuk menghindari kerumunan turis.
15 Jan 2021


1 / 5
Hamparan sawah hijau mengiringi perjalanan mobil menyusuri jalan kecil yang membawa saya ke Komaneka at Keramas Beach. Hamparan hijau ini pun menjumpai saya di dalam properti, saat saya berjalan di atas jembatan yang menghubungkan area lobi dan gedung utama dengan area villa. Suara debur ombak seperti tak mau kalah, membuai siapa pun yang masuk ke resor ini.
 
Komaneka at Keramas Beach adalah resor terbaru Komaneka Resort dan yang pertama berada di pinggir pantai. Menempati area seluas 4 hektar, resor ini memberikan pemandangan Samudra Hindia, pulau Nusa Penida, serta Gunung Agung. Semua kamar di sini dibuat sebagai private villa yang masing-masing memiliki kolam renang pribadi serta menghadap ke arah laut.
 
Pantai Keramas yang memiliki pantai berpasir vulkanik hitam, memang bukan pantai yang terlalu komersil, sehingga lokasi resor ini sangat ideal untuk beristirahat dan bersembunyi dari dunia luar, namun tetap dekat dengan laut.

 

 
Ombaknya yang besar cocok untuk para peselancar, dan membuat resor ini popular di kalangan peselancar internasional, serta sempat menjadi tuan rumah World Surf League (WSL) World Championship Tour di tahun 2018. Peselancar legendaris, Kelly Slater, bahkan menginap di sini selama sebulan saat ia berkunjung ke Bali tahun itu.
 
Meski lokasinya cukup jauh dari keramaian, saya tidak merasa bosan sama sekali saat menginap di sini selama dua malam. Pasalnya, selain saat itu saya diundang mengunjungi pembukaan pameran lukisan I Made Wianta, resor ini juga menawarkan banyak kegiatan. Pun untuk urusan perut, Timur Kitchen menyajikan menu Indonesia dan internasional yang memanjakan lidah.
 
Melukat jadi salah satu aktivitas yang bisa dipilih. Melukat adalah upacara atau tradisi membersihkan diri secara spiritual dalam agama Hindu. Ini bukan pertama kalinya saya melakukan melukat, namun saat dilakukan di pinggir pantai—dengan suara deburan ombak, angin yang meninggalkan lapisan garam tipis di kulit dan rambut, serta sensasi tekstur pasir di telapak kaki—membuat energinya terasa begitu kuat dan berbeda.
 
Seusai acara melukat, saatnya untuk membersihkan dan memanjakan fisik di Segara Wangi Spa. Therapeutic Black Sand, menu perawatan terbaru yang menggunakan pasir hitam dari pantai Keramas yang kaya akan mineral yang baik untuk kulit, seolah menjadi penyambung dari aktivitas di pantai sebelumnya.
 


Perawatan dimulai dengan sesi pijat untuk melancarkan peredaran darah dan melemaskan otot-otot yang tegang. Kemudian terapis akan memanaskan dua kantung kompres berisi pasir hitam yang diambil dari Pantai Keramas, yang dicampur dengan bubuk adas manis. Kantung-kantung ini dikompres ke beberapa titik tubuh untuk memberi energi hangat yang merelaksasi.
 
Selepas perawatan selama 90 menit, saya disambut dengan camilan high tea/coffee time yang selalu dikirim untuk para tamu di sore hari, berupa snek asin dan manis yang didampingi dengan teh atau kopi—tepat dinikmati di pinggir kolam renang utama yang dikelilingi oleh ‘pantai’ berpasir putih, yang tampil kontras dengan pantai pasir hitam di depannya.
 
Saya pun menyeruput es kopi hitam saya ambil menyaksikan ombak yang saling berkejaran dan menggulung ke pantai saat senja mulai turun. It is, indeed, so easy to fall in love with the charms of this place. (Margaretha Untoro) Foto: Dok. Komaneka Resorts

 

 

Author

DEWI INDONESIA