
Dalam konteks fashion lifestyle, mode kerap dilihat sebagai sesuatu yang bergerak cepat: berganti musim, tren, dan selera. Namun, di balik sifatnya yang dinamis, mode juga menyimpan potensi untuk membentuk legacy. Fashion & Lifestyle Universitas Indonesia (FLUI), salah satu konsentrasi media kreatif di program studi (prodi) Produksi Media, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI), mengelaborasi hal ini dalam salah satu sesi diskusi di panggung JFW Center Stage.
Hadir dengan tajuk “Reframing Legacy: Media Storytelling, and Cultural Memory in Fashion Lifestyle.”, diskusi ini mengungkit peran media dalam industri fashion lifestyle: mempertemukan jenama dengan audiens, sekaligus menorehkan sebuah kisah yang dapat diwariskan. Legacy atau warisan dalam fashion lifestyle bukan semata soal usia sebuah jenama, melainkan tentang nilai, cerita dan makna yang terus diingat dan tetap relevan. Legacy tidak lahir dari produk yang berdiri sendiri. Ia tumbuh dari rangkaian proses kreatif, konteks budaya, serta cara sebuah jenama menempatkan dirinya di tengah masyarakat. Mode mejadi medium awal,ruang ekspresi untuk identitas dan nilai mulai diperkenalkan.
Identitas Jenama Hari Ini
Di zaman ini, jarak antara pelaku mode, seni dan audiens semakin kabur. Proses kreatif yang sebelumnya berlangsung tertutup kini dapat diakses lebih luas. Publik tidak sekadar melihat hasil akhir, tetapi juga cerita, latar belakang, dan nilai yang menyertainya.
Kondisi ini menciptakan ruang yang relatif setara. Teknologi dan media yang terus berkembang membuka peluang bagi banyak pihak untuk mengambil peran yang sama. Situasi yang semakin mengikis jarak dan menimbulkan pertanyaan tentang identitas.
“Semua orang bisa menciptakan sebuah produk. Namun, kondisi ini menimbulkan masalah baru. Ketika semua memiliki kesempatan daya cipta yang sama, lalu apa yang dapat membedakan satu jenama dengan jenama lainnya?” ujar Alif Ibrahim (Head of Content Strategy & Analytics VIDIO).
Pertanyaan ini kembali mengingatkan kita bahwa identitas dan legacy tidak dibangun lewat keberadaan produk saja. Dibutuhkan sesuatu yang lebih dalam, seperti cerita, konsistensi, dan pemahaman konteks, agar mode dapat bertahan sebagai bagian dari ingatan budaya.
Di sinilah proses belajar sebuah jenama menjadi penting. Monica Esther (Retail Director USS Networks, SonderLab) menekankan bahwa pemahaman terhadap audiens dan arah branding justru tumbuh beriringan dengan perjalanan sebuah produk.
“Kita baru bisa mengenal audiens dan arah sebuah jenama ketika produknya sudah hadir.” ujar Monica, menekankan bahwa pemahaman terhadap respons audiens dan arah branding justru tumbuh beriringan dengan hadirnya sebuah produk.
Dengan demikian, mode tidak dilihat hanya sebuah hasil akhir, melainkan proses. Ia menjadi pintu bagi jenama untuk memahami dirinya sendiri dan relasinya dengan publik.
Warisan dalam Lanskap Media
Di era yang serba digital, media hadir hampir tapa jeda. Informasi dapat diakses kapan saja, berpindah dari satu layar ke layar lainnya, menjadi bagian dari keseharian. Kemudahan ini mengakibatkan semakin padatnya lanskap media. gambar, video, dan suara saling bersaing untuk menarik perhatian dalam waktu yang singkat. Oleh karena itu, banyak cerita yang hadir tanpa arah yang jelas. Bukan karena ia tidak menarik, melainkan karena cerita yang dibawa kehilangan konteks dan tujuan.
Kondisi ini turut memengaruhi proses branding suatu jenama. Setiap langkah dalam membangun identitas produk tidak berlangsung dalam ruang hampa. Media menjadi penghubung yang memperluas pengalaman mode ke ranah yang lebih kolektif.
Dengan arus media yang serba cepat dan semakin mengikis jarak, maka proses menorehkan cerita di media perlu dipoles dengan penuh perhatian. Agar publikasi yang dihadirkan tidak sekadar lewat, tetapi tetap tinggal dan diingat oleh audiens.
Media bukan hanya mengantarkan informasi tentang apa yang diciptakan, tetapi juga membingkai bagaimana suatu autentisitas dipahami publik. Media memberi konteks pada proses, membantu audiens melihat mode sebagai bagian dari cerita budaya, bukan sekadar konsumsi visual.
Melalui kontribusi inilah legacy mulai terbentuk. Media menjaga agar cerita sebuah jenama tidak berhenti sebagai tren sesaat, tetapi selalu hidup sebagai ingatan yang dirawat. Legacy fashion lifestyle pada akhirnya lahir dari pertemuan antara mode, cerita, dan media yang menorehkan kisah, bukan sekadar kecepatan, melainkan dari makna yang bertahan.
Teks: Nadia Indah
Editor: Mardyana Ulva