Tentang Kemandirian Perempuan dan Seni Mengubah Arah Hidup
Rekaman Kerapuhan Masa Muda dalam Film Animasi 5 Centimeters Per Second

Rekaman Kerapuhan Masa Muda dalam Film Animasi 5 Centimeters Per Second

5 Centimeters per Second bukan sekadar film tentang cinta jarak jauh, melainkan tentang bagaimana kenangan masa muda bertahan.

Film animasi Jepang 5 Centimeters per Second, karya Makoto Shinkai yang pertama kali dirilis di Jepang pada 3 Maret 2007, akhirnya kembali dinikmati oleh penonton Indonesia di bioskop mulai 16 Januari 2026. Penyajian ulang ini bertepatan dengan gelombang antisipasi menyambut versi live action film 5 Centimeters per Second yang telah lebih dulu dirilis di Jepang pada 10 Oktober 2025 dan juga dijadwalkan tayang di Indonesia. Adaptasi live action tersebut, disutradarai oleh Yoshiyuki Okuyama dan dibintangi oleh Hokuto Matsumura, menjadi alasan kuat kembalinya film animasi ini ke bioskop tanah air.

Penceritaan dalam Tiga Babak

Penayangan kembali animasi 5 Centimeters per Second bertepatan dengan gelombang antisipasi menyambut versi live action film ini, yang telah lebih dulu dirilis di Jepang pada 10 Oktober 2025

Film ini dibangun terdiri dari tiga babak yang masing-masing menelusuri kehidupan protagonis Takaki dan hubungannya dengan Akari serta orang-orang di sekitarnya. Di babak pertama, “Cherry Blossom,” kita dibawa pada momen manis dan pahit perpisahan dua sahabat yang mulai merasakan cinta pertama, ketika jarak mulai memisahkan mereka. Babak kedua, “Cosmonaut,” menggambarkan kehidupan Takaki di masa SMA, di mana ia berjuang dengan perasaan yang masih tersisa sambil ditemani teman sekelasnya yang diam-diam memiliki perasaan cinta yang tak terucap. Lalu di babak terakhir, yang menampilkan judul film itu sendiri, memperlihatkan Takaki di usia dewasa, masih bergulat dengan kenangan masa lalu yang tak akan hilang.

Adegan Puitis

Meski alur ceritanya terlihat sederhana, kekuatan 5 Centimeters per Second justru terletak pada detail-detail puitis yang dibangun Shinkai. Tidak sekedar bercerita melalui dialog, melainkan melalui latar tempat yang digambarkan, adegan-adegan halus seperti lukisan yang bergerak dan karakter-karakter yang terkesan nyata.

Advertisement

Pengalaman menonton terasa seperti membaca sebuah puisi panjang yang visualnya mampu menangkap esensi masa muda dengan sangat raw dan emosional. Setiap adegan dipenuhi dengan visual indah yang mengundang penonton untuk merenung tentang waktu, hubungan, dan nostalgia masa muda.

Refleksi tentang Masa Lalu yang Tak Bisa Diulang

Nuansa yang tercipta bukan sekadar kisah cinta remaja, namun sebuah refleksi tentang bagaimana kita terikat pada masa lalu yang tak bisa diulang. Keindahan visualnya, dipadu musik yang menyentuh, membawa penonton kembali ke masa muda yang manis sekaligus getir. Detail kecil seperti percakapan singkat, tatapan yang tertahan, atau kebisuan di antara dua karakter, semuanya memberi kedalaman yang sering kita lupakan dalam rutinitas sehari-hari. 

***

Pada akhirnya, menonton film ini adalah sebuah pengalaman meditasi tentang waktu. Tentang kembali ke masa lalu, yang merekam sisi paling mentah dari kehidupan masa muda, lengkap dengan segala romantisasinya tentang perasaan dan asmara. 

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Tentang Kemandirian Perempuan dan Seni Mengubah Arah Hidup

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.