Sandra Hüller Raih Silver Bear Kedua di Berlinale 2026 lewat Film “Rose”

Film Rose yang membawanya kepada kemenangan ini adalah kisah tentang penyamaran; namun bukan hanya secara fisik, tetapi juga eksistensial.
Sandra Hüller dalam perannya di film Anatomy of A Fall (2023) sebagai Sandra Voyter, seorang istri yang dicurigai membunuh suaminya setelah kematian misterius di rumah mereka di pegunungan Alpen

Aktris Jerman Sandra Hüller kembali mencatatkan namanya dalam sejarah perfilman Eropa dengan memenangkan Silver Bear for Best Leading Performance di ajang Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026. Penghargaan ini diraihnya berkat peran utama dalam film Rose (2026), arahan sutradara Austria Markus Schleinzer. Ini menjadi kemenangan keduanya setelah sebelumnya meraih Silver Bear pada 2006 untuk film Requiem (2006).

Rose: Penyamaran Eksistensial

Dalam drama hitam-putih berlatar abad ke-17, Sandra Hüller memerankan seorang perempuan yang menyamar sebagai laki-laki demi mendapatkan pengakuan dan tempat di tengah masyarakat yang membatasi ruang geraknya.

Film hitam-putih berlatar abad ke-17 ini mengikuti kisah seorang perempuan yang menyamar sebagai laki-laki. Di tengah kekacauan Perang Tiga Puluh Tahun, seorang prajurit misterius muncul di sebuah desa terpencil. Ia mengklaim sebagai pewaris sah sebuah manor yang telah lama terbengkalai dan menunjukkan dokumen sebagai bukti, klaim yang memicu ketidakpercayaan komunitas desa.

Namun, di balik identitas barunya, Rose menyimpan rahasia besar: ia adalah perempuan yang hidup dengan nama dan gender palsu. Demi mendapatkan pengakuan dan kebahagiaan, ia bahkan mempertimbangkan pernikahan yang diatur dengan putri seorang petani kaya, Susanna. Rose bukan sekadar drama sejarah, melainkan potret tentang identitas, ambisi, dan batas-batas sosial yang dilanggar demi bertahan hidup. Dalam tangan Hüller, karakter ini tampil ambigu—rapuh sekaligus keras kepala, asing namun sangat manusiawi.

Advertisement

Peran-Peran Berisiko Sandra Hüller

Kemenangan ini semakin menegaskan posisi Hüller sebagai salah satu aktris paling berani dan konsisten di sinema Eropa. Lahir pada 1978 di Suhl, Jerman Timur, Hüller memulai kariernya di dunia teater sebelum merambah layar lebar. Sejak awal, ia dikenal memilih proyek-proyek yang tidak konvensional; film yang lebih mengutamakan kedalaman psikologis ketimbang sensasi komersial.

Di film Zone of Interest (2023), tidak menjerit, tidak menangis, tidak meledak. Justru ketenangannya yang membekukan membuat penonton sadar: kejahatan bisa berdampingan dengan rutinitas, dan wajahnya bisa sangat biasa.

Kita melihat aktingnya dalam film The Zone of Interest (2023), film drama sejarah arahan sutradara Jonathan Glazer yang diadaptasi dari novel karya Martin Amis. Dalam film tersebut, Hüller memerankan Hedwig Höss, istri komandan Auschwitz Rudolf Höss (Christian Friedel). Keluarga mereka tinggal di sebuah rumah nyaman tepat di sebelah kamp konsentrasi Auschwitz, di area yang disebut ‘Zone of Interest‘.

Yang menarik, film ini terasa horor tanpa menunjukkan adegan kekerasan eksplisit. Film ini terasa horor karena kontras mengerikan antara kehidupan keluarga yang tampak tenang dan lanskap suara yang terus-menerus menghadirkan jeritan, tembakan, serta deru kereta dari balik tembok kamp. Performa Hüller sebagai Hedwig pun dingin dan nyaris banal—dan justru di situlah letak kekuatannya. Ia menghadirkan potret seorang perempuan yang menikmati privilese tanpa mempertanyakan fondasi moralnya.

Dalam performa yang presisi dan berlapis, Sandra Hüller memperlihatkan betapa perempuan sering kali diadili bukan hanya atas tindakan, tetapi juga atas karakter, ambisi, bahkan nada suara.

Di tahun yang sama, sosoknya hadir pula dalam film Anatomy of A Fall. Ia memerankan Sandra Voyter, seorang istri yang dicurigai membunuh suaminya setelah kematian misterius di rumah mereka di pegunungan Alpen. Hubungan pernikahan mereka digambarkan penuh ketegangan dan konflik kreatif. Putra mereka yang setengah buta menjadi saksi kunci, sekaligus berada dalam dilema moral yang menyayat.

Aktris yang Memeluk Ambiguitas

Dari Requiem hingga Rose, dari sosok Hedwig Höss hingga Sandra Voyter, benang merah dalam karier Hüller adalah keberaniannya memerankan perempuan yang tidak mudah disukai, tidak mudah dipahami, dan sering kali berdiri di wilayah abu-abu moral. Ia bukan tipe aktris yang mencari simpati; ia justru menantang penonton untuk bertahan dalam ketidaknyamanan.

Kemenangan Silver Bear keduanya di Berlinale 2026 bukan hanya pengakuan atas satu peran, melainkan perayaan atas konsistensi artistik selama dua dekade. Lewat Rose, Sandra Hüller kembali membuktikan bahwa sinema dapat menjadi ruang untuk membongkar identitas, mempertanyakan norma, dan menampilkan perempuan dalam seluruh kompleksitasnya—tanpa harus menyederhanakan mereka menjadi hitam dan putih, bahkan ketika filmnya sendiri tampil dalam warna monokrom.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Film Alegori Politik Yellow Letters Menang Golden Bear, Tiga Karya Indonesia Tampil di Berlinale 2026

Next Post

Ruang Baru MASSHIRO&Co.

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.