
Pernahkah Anda melebur dalam suaka yang sepenuhnya milik Anda; begitu privat hingga Anda bisa bertelanjang kaki sepanjang setapak? Di Tanjung Kelayang Reserve, Anda diundang menyambangi sebuah suaka istimewa satu jam dari Jakarta. Melebur dengan bahari Belitung, pelancong akan menemukan sebuah kemewahan yang liyan, merdeka dari pretensi.
Kelindan alam dalam geometri arsitektural

Meskipun berada di notabene Kawasan Ekonomi Khusus, Tanjung Kelayang Reserve adalah benar-benar sebuah konservasi alam. Karang-karang granit alami yang terserak di perairan Bangka Belitung menjadi pemecah ombak alamiah. Hal ini membuat perairan Belitung luar biasa tenang: ibarat ombaknya meminta izin hanya untuk membasuh pucuk-pucuk kaki.






Bangunan bergaya paviliun kolonial yang ada rimbun oleh semak-semak bakau. Setapaknya mentah, masih berhampar pasir putih Belitung yang masyhur. Di antara paviliun adalah danau-danau reservoir untuk mendaur-ulang air payau. Begitu tak terjamahnya alam Tanjung Kelayang, Anda masih akan mendengar orkestra burung dan serangga, dari fajar hingga Bimasakti menerangi langit malam.
Sheraton Belitung dan ruang berpadu alam

Tata ruang properti utama di kawasan ini, Sheraton Belitung, pun dirancang melebur dengan pesisir perawan. Bangunan sangat jarang di kawasan ini. Hal ini justru membuatnya terasa megah karena lengang lanskap spasial. Bentang pasir putih, lautan di sepanjang cakrawala, dan langit berbintang maha luas menegaskan megahnya Tanjung Kelayang.





Mayoritas material yang digunakan di Tanjung Kelayang Reserve berasal dari bahan bangunan lokal. Dinding properti ini dibuat dari bata putih khas Belitung. Biasanya berwarna koral, bata putih dianggap sebagai defek, pun disulap menjadi struktur minimalis.
Langit-langit dianyam dari ranting kayu lokal yang disebut kayu renggadai. Biasanya digunakan untuk nelayan menjemur ikan, anyaman renggadai disulap menjadi balairung megah yang menyambut tamu. Tegel granit dipahat dari granit Belitung, lebih keras dari Jawa.






Menjadi anak pulau sepanjang tetirah

Pelesir ke Tanjung Kelayang Reserve berarti Anda akan pesiar menjadi anak pulau. Aktivitas yang ditawarkan sanggraloka ini berpusat kepada thalassotherapy. Dari pagi hingga malam, pelancong dimanjakan oleh kekayaan bahari.






Perjalanan pertama DEWI dimulai dengan matahari terbenam di sebuah karang, tempat bean bag dan meja bersila telah disiapkan di seberang Mercusuar Pulau Lengkuas. Teh dan jajan pasar menemani DEWI menatap terbenam matahari. Makan malam di pulau utama ditemani oleh menu Nusantara dan desir ombak dari lautan yang gelap.
Keesokan harinya adalah island hopping. Setelah menilik karang-karang granit Belitung yang ternama, pelancong diajak bermain air di atoll koral yang cantik. Makan siang dihidangkan di sebuah pulau pribadi. Paviliun kecil, dengan estetika tropis yang rustik, menjadi suaka untuk meletakkan penat. DEWI terutama menikmati sayur lodeh dan bacem ayam yang bercita rasa autentik.






Tamu dapat bermalas-malasan, entah bersantai di dipan, bermain ayunan, atau kembali berenang di pantai jernih yang tenang. Apabila cuaca memungkinkan, perahu dapat membawa ke tengah perairan untuk snorkel di laut jernih Belitung.
Awan mendung menjadi tanda untuk pulang. Tetapi, kami menolak berpamitan dengan pesisir ini. Tiba di pulau utama, kami kembali berjemur dan berenang hingga petang menjelang. Di Tanjung Kelayang Reserve, kita semua menjadi sejatinya insan kepulauan: menyatu dengan laut Belitung dan bertelanjang kaki di pesisir putih ini.