Ketika Manusia Merindu untuk Melebur dengan Tanah
Ada cara lain untuk berbicara tentang alam tanpa angka statistik, tanpa narasi bencana yang mencekik. Han Chandra, seorang seniman multitalenta yang namanya telah melanglang dari panggung busana Indonesia hingga Jepang, memilih untuk melukis kerinduannya. Ia menuangkan kegelisahan akan relasi yang retak antara manusia dan alam ke dalam 13 kanvas berwarna-warni, lalu memberinya nama: Tanadiri, atau I am Forest.

Pameran tunggal keduanya ini berlangsung di Artsphere Gallery, The Dharmawangsa Square Lt. 2 Unit 66, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dari tanggal 23 Mei hingga 23 Juni 2026. Bukan sekadar pajangan, setiap goresan adalah ajakan untuk berhenti, menyingkir dari hiruk-pikuk, dan menemukan kembali kesadaran bahwa kita adalah hasil evolusi panjang yang belum selesai.
Haruu: Figur Naif yang Merangkum Kerapuhan dan Perubahan
Di setiap lukisan Han Chandra, hadir seorang karakter bernama Haruu, sebuah representasi idealis tentang kesatuan manusia dengan alam. Haruu tidak sempurna. Ia rapuh, cemas, dan selalu dalam proses memulihkan diri. Matanya terpejam, mulutnya terbungkam, tubuhnya kadang berlumut. Namun, di situlah letak kejujurannya.

“Tanadiri adalah tumpahan kerinduan, limpahan kegelisahan, dan luapan keresahan akan relasi antara manusia dan alam.”
Haruu bukanlah figur heroik. Ia adalah wadah bagi kerapuhan, kecemasan, pemulihan dan perubahan. Hutan menjadi ruang perlindungannya, gurun adalah kedamaiannya dan gelap adalah ruang bermainnya. Dalam pameran ini, Haruu juga hadir dalam wujud collectible art toys, cetakan tiga dimensi yang diwarnai secara manual oleh Han Chandra sendiri menggunakan cat akrilik. Sebuah perwujudan yang membuat figur imajiner ini dapat disentuh dan dirasakan lebih dekat.
Perjalanan Karya dari Jakarta ke Osaka
Ide pameran ini sudah digodok bersama kurator Venerdi Handoyo sejak November 2024. Sketsa-sketsa awal mulai dibuat pada Februari 2025, menjadi pijakan bagi penciptaan 13 karya lukis cat akrilik di atas kanvas dengan beragam ukuran.

Sebagian dari lukisan yang sudah selesai sempat dipamerkan di Unknown Asia 2025, Osaka, Jepang pada 3–5 Desember 2025. Kini, setelah mendapat apresiasi internasional, karya-karya tersebut pulang ke Jakarta untuk disapa oleh publik Tanah Air.
Antara Tubuh dan Tanah: Sebuah Peleburan Tanpa Batas
Dalam semesta yang diciptakan Han Chandra, koneksi antara manusia dan alam menjadi tanpa batas. Sebab dan akibat pun absen. Namun, jangan keliru: figur-figur humanoid di atas kanvas tidak luput dari rasa resah, rentan, dan rindu. Mata terpejam, mulut terbungkam, tubuh berlumut, semua adalah persoalan yang masih perlu didiskusikan, bahkan ketika manusia dan alam telah mencapai harmonisasi yang rangkum.

“Peleburan ini sebenarnya menjadi sebuah siklus yang terus-menerus berulang; dari tanah menjadi diri menjadi tanah.”
— Venerdi Handoyo, Kurator
Inilah inti dari Tanadiri: sebuah pengakuan bahwa kita berasal dari tanah, dan pada akhirnya akan kembali menjadi tanah. Antara perjalanan itu, ada seni yang merangkum rindu.
Han Chandra: Lebih dari Sekadar Wajah di Panggung Busana
Nama Han Chandra mungkin lebih dulu dikenal sebagai model yang telah menapaki panggung busana di Indonesia, Cina, Thailand, dan Jepang sejak 2011. Namun, ia bukan sekadar wajah tampan di balik lensa kamera. Han adalah kreator, penulis, dan seniman yang juga mengajar modelling untuk anak-anak, aktif dalam gerakan sosial, serta telah menerbitkan dua buku cerita anak-anak.

Pameran tunggal pertamanya, bertajuk Teduh, diselenggarakan di Jakarta dan Bali pada tahun 2018. Kini, delapan tahun kemudian, ia kembali dengan Tanadiri, sebuah lompatan artistik yang lebih matang, lebih jujur, dan lebih dalam.
Artsphere Gallery: Rumah bagi Talenta Muda yang Terus Berkembang
Pameran ini tidak akan terwujud tanpa ruang yang tepat. Artsphere Gallery, didirikan pada tahun 2006 oleh Maya Sujatmiko, dikenal sebagai galeri yang fokus pada seni modern dan kontemporer dari talenta muda Indonesia maupun mancanegara yang sedang berkembang. Kolaborasi dengan kurator Venerdi Handoyo, seorang penulis, pemerhati seni, kolektor, dan kurator yang pernah bekerja sama dengan galeri di Jakarta dan Zürich, memberikan kedalaman kuratorial yang memperkaya makna setiap karya.

Sebuah Ajakan untuk Berhenti dan Meresapi
Di tengah dunia yang berputar cepat, Tanadiri adalah undangan untuk berhenti sejenak. Bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk meresapi kembali hubungan kita dengan alam yang selama ini mungkin kita lupakan. Melalui figur Haruu yang naif, Han Chandra mengingatkan bahwa kerinduan akan alam adalah kerinduan akan diri kita sendiri.