
Di film-film karya Edwin, realitas sering kali hadir dalam bentuk yang ganjil. Dalam Monster Pabrik Rambut (Sleep No More), yang ditulis bersama Eka Kurniawan, keganjilan itu muncul sejak awal dan tidak pernah benar-benar dijelaskan. Namun mungkin memang bukan itu tujuannya.
Film ini mengikuti tiga bersaudara, Putri (Rachel Amanda), Ida (Lutesha), dan Bona (Iqbaal Ramadhan), yang bekerja di PT Raga Abadi untuk melunasi utang sang ibu yang meninggal secara misterius di pabrik tersebut. Dari sinilah kisah bergerak ke wilayah yang semakin absurd, sekaligus semakin mengganggu.
Ketika Keanehan Menjadi Hal yang Normal
Karakter paling ganjil dalam film ini adalah Bona. Putri menyebutnya “anak aneh” karena memiliki kemampuan yang tak masuk akal: tubuhnya dapat tumbuh kembali setelah terpotong. Sepanjang film, penonton menyaksikan jari, telinga, tangan, kaki, bahkan seluruh tubuhnya terpisah dari kepala, namun semuanya dapat tumbuh kembali seolah tidak terjadi apa-apa.
Tidak pernah dijelaskan dari mana kemampuan itu berasal. Bahkan asal-usul Bona sendiri terasa misterius. Dalam satu adegan, Putri menyebut bahwa ibu mereka pernah bekerja sebagai TKI di Taiwan dan pulang membawa Bona, mengakuinya sebagai anak sendiri.
Alih-alih menjelaskan keanehan tersebut, film justru memperlakukannya sebagai sesuatu yang biasa. Penonton seperti diajak untuk menerima absurditas sebagai bagian dari dunia yang sedang dibangun.
Pabrik yang Memakan Tubuh (dan Tidur)
Jika Bona adalah simbol keanehan, maka PT Raga Abadi adalah simbol yang jauh lebih familiar. Bayangkan, pabrik ini punya slogan: “Kerja, Kerja, Kerja”. Pabrik rambut milik Mariati (Didi Nini Thowok) menjadi ruang yang menganggap kelelahan sebagai hal normal dan pengorbanan dirayakan.
Para pekerja lembur tanpa henti demi tambahan upah. Mereka kurang tidur, mengalami gangguan fisik dan mental, lalu mulai dirasuki sosok misterius yang mendorong mereka melakukan kekerasan terhadap diri sendiri.
PT Raga Abadi menjadi representasi ruang kerja yang menganggap kelelahan sebagai hal normal dan pengorbanan dirayakan.
Meski di film ini sosok monster hadir mengendap-ngendap, rasanya yang paling horor justru bukan unsur mistisnya. Melainkan situasi lingkungan kerja yang menerima semua kelelahan dan pengorbanan sebagai sesuatu yang wajar.
“Namanya juga kerja, mana ada yang nggak ada risikonya?” kata Togar dalam salah satu adegan.
Sementara karakter lain menambahkan, “Manusia kalau capek suka nggak bisa kontrol. Wajar itu.”
Kalimat-kalimat tersebut terdengar absurd. Tetapi justru karena terlalu dekat dengan realitas, ia terasa menakutkan.
***
Monster Pabrik Rambut mungkin akan memecah pendapat penonton. Ada banyak pertanyaan yang tidak terjawab dan beberapa elemen cerita yang terasa sengaja dibiarkan menggantung. Tapi, rasanya semua akan sepakat: di kehidupan ‘modern’ yang semakin memuja produktivitas tanpa henti, horor terbesar film ini bukanlah monster atau tubuh yang terpotong-potong; melainkan realitas bahwa eksploitasi dianggap normal, kelelahan menjadi kebanggaan, dan pengorbanan pekerja diterima sebagai harga yang harus dibayar.