
Menjelang usia 40 tahun, Kelly Tandiono justru merasa sedang berada di salah satu fase terbaik dalam hidupnya. Setelah bertahun-tahun bekerja nyaris tanpa jeda sejak usia 20-an, ia kini mulai memberi dirinya ruang untuk menikmati hasil dari kerja keras yang telah dijalani. “Pas lagi umur dua puluhan, saya literally bekerja setiap hari. Saya sampai enggak punya waktu untuk menikmati apa yang sudah saya dapatkan,” ujarnya usai sesi pemotretan dengan DEWI yang berkolaborasi dengan Magnum.
Kini, perjalanan, keluarga, dan berbagai kegiatan kreatif mulai mendapat tempat yang lebih seimbang dalam hidup Kelly. Bagi model, aktris, enterpreneur, dan atlet triatlon ini, usia 40 bukan sesuatu yang perlu ditakuti, melainkan kesempatan untuk menjalani hidup dengan ritme yang lebih tenang.
Belajar Menerima
Katanya, salah satu pelajaran terbesar yang datang bersama fase ini adalah penerimaan. Kondisi kesehatan sang ibu membuat Kelly berhadapan dengan sesuatu yang selama ini belum pernah benar-benar ia pahami. “Saya belum pernah betul-betul belajar makna kata ‘penerimaan’ yang sesungguhnya,” katanya.
Berbagai perubahan dalam hidup, juga tantangan dan adaptasi yang ia lakukan pun pelan-pelan mengubah cara pandangnya terhadap keluarga, waktu, dan hal-hal yang tidak selalu bisa dikendalikan. Perubahan itu juga membuat makna keluarga terasa semakin kuat. Jika dahulu pekerjaan hampir selalu menjadi prioritas, kini Kelly sengaja menyisihkan lebih banyak waktu untuk orang-orang terdekatnya.
Selain keluarha, di sela perjalanan dan aktivitas kreatifnya bersama Cover Me Not, jenama busana renang yang dia dirikan, ia juga menemukan kebahagiaan dalam hal-hal yang sebelumnya mungkin luput karena kesibukan. “Tahun ini, makna keluarga bagi saya juga menjadi semakin berarti dan punya porsi yang besar dalam hidup saya.”
Menikmati Proses
Dari luar, perjalanan Kelly mungkin terlihat penuh pencapaian. Namun, ia tahu bahwa apa yang terlihat di media sosial hanya sebagian kecil dari perjalanan panjangnya. “Orang-orang nggak melihat belakang layarku seperti apa, seberapa keras saya bekerja, dan betapa banyaknya ups-and-downs yang harus saya lalui untuk bisa mencapai posisi aku sekarang,” ujarnya. Karena itu, ia memilih untuk tetap percaya pada proses, termasuk ketika perjalanan tersebut tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Bagi Kelly, kemampuan menikmati naik turunnya kehidupan justru menjadi salah satu hal yang membuatnya terus bertahan. Kerja keras tetap menjadi bagian penting dalam hidupnya, tetapi kini ia memahami bahwa istirahat memiliki peran yang sama penting.
“Kita perlu rehat juga agar kita bisa tetap punya energi untuk melanjutkan hidup,” katanya. Baginya, mengambil jeda bukan berarti kehilangan momentum, melainkan memberi diri sendiri kesempatan untuk kembali dengan energi yang lebih utuh.
Tahu Kapan Berhenti, Tahu Kapan Kembali
Energi Kelly memang sulit benar-benar diam. Kegemarannya pada triatlon menjadi salah satu cerminan karakternya yang senang terus bergerak. Ia juga selalu membutuhkan ruang untuk menyalurkan kreativitasnya. “Saya selalu bersemangat dengan hal-hal yang saya lakukan,” katanya. Semangat itulah yang selama ini mendorongnya untuk mencoba berbagai hal dan tetap menemukan kesenangan dalam apa yang dikerjakannya.
Namun, memasuki usia 40, cara Kelly memaknai gerak mulai berubah. Jika dahulu bekerja keras berarti terus berjalan tanpa banyak jeda, kini ia memahami bahwa berhenti sejenak juga merupakan bagian dari perjalanan. Ia tetap ingin berkarya, bepergian, berolahraga, dan mengeksplorasi berbagai hal, tetapi dengan kesadaran bahwa hidup tidak harus selalu dipacu.
“Pokoknya, tahun ini tentang penerimaan dan mengambil jeda dari waktu ke waktu,” pungkasnya.
Ada kematangan tertentu dalam cara Kelly melihat fase hidupnya sekarang. Setelah bertahun-tahun mengejar banyak hal, ia mulai menikmati ruang yang tercipta ketika tidak semua waktu harus diisi dengan pekerjaan. Ia masih punya energi untuk bergerak dan rasa ingin tahu untuk mencoba, tetapi kini keduanya berjalan berdampingan dengan kemampuan untuk berhenti. Mungkin itu yang membuat usia 40 terasa begitu istimewa baginya: untuk pertama kalinya, kerja keras dan menikmati hidup tidak lagi harus saling mengalahkan.