Di Artesian Bar, Nico De Soto Mengambil Alih dengan Racikan Khas Paris

Nico de Soto, pendiri Danico Paris, menyemarakkan Artesian Bar, The Langham, Jakarta, 6 Agustus 2026 silam.
WEB HERO HEADER (1)
Kemegahan pemandangan malam dari langit ke-65 The Langham, Jakarta.

Ada bartender yang menjaga resep. Ada pula yang justru senang mengusiknya. Nico de Soto termasuk yang kedua. Pendiri Danico Paris, bar peringkat ke-30 dalam The World’s Best Bars ini dikenal lewat racikan yang mempertemukan rasa, bahan, dan teknik secara tidak terduga. Selama satu malam, eksplorasi rasa Nico singgah di Artesian Bar, The Langham, Jakarta, mempertemukan karakter khas koktail Paris dengan spektrum cita rasa Asia Tenggara yang lebih berlapis.

Rasa yang Tidak punya Satu Alamat

PIC2024 2
Potret Nico de Soto, pemilik Danico Paris, yang meramaikan panggung mixology ibu kota lewat kolaborasi teatrikal di Artesian Bar Jakarta.

Bagi Nico de Soto, perjalanan bukan sekadar berpindah dari satu kota ke kota lain. Setiap tempat meninggalkan sesuatu di gelasnya, mulai dari sebuah bahan, aroma, hingga cara baru memandang rasa. Dari Eropa, Asia, hingga Timur Tengah, ia mengumpulkan potongan-potongan tersebut dan membawanya kembali ke bar.

Bahan yang tak terduga bertemu cita rasa lokal, sementara teknik presisi memberi bentuk pada eksperimen yang nyaris tak memiliki batas. Sebuah bar yang terasa seperti paspor, dengan setiap koktail membawa cerita dari tempat yang pernah ia singgahi.

Advertisement

Kehadiran Nico di Artesian Bar menjadi bagian dari program yang terus membawa talenta mixology dari berbagai penjuru dunia ke Jakarta. Lebih dari sekadar menghadirkan nama besar, justru ini membuka ruang untuk pertukaran budaya dan kreativitas di tengah komunitas koktail Jakarta yang semakin berkembang.

Empat Cocktail, Empat Arah Rasa

Sambal & Un Mars membuka percakapan dengan Negroni yang mendapat sentuhan Indonesia. Keselarasan dari Citadelle Gin, Campari, Sweet Vermouth, dan sambal matah Bali menciptakan pertemuan antara sentuhan pahit, aroma botani, dan pedas aromatik. Sebuah koktail klasik yang seolah mengambil jalan memutar ke Bali.

Lalu ada Blue Is the Stinkiest Colour, perpaduan Planteray Stiggins’ Pineapple Rum, Fennel Seeds, Green Apple, dan Blue Cheese Distillate. Meski begitu, racikannya dirancang untuk menghasilkan harmoni yang seimbang antara rasa manis, gurih, dan kompleksitas aroma yang tidak biasa. Sebab bagi Nico, rasa yang menarik sering kali dimulai dari sesuatu yang tidak terduga.

Sweet Banane membawa suasana yang lebih lembut. Planteray Cut & Dry dan Planteray OFTD bertemu pisang, rempah, dan Whey, menghasilkan tekstur yang bulat dengan karakter tropis Otentik, tetapi dibuat cukup asing untuk membuat kita mencicipinya kembali.

Terakhir, It’s Super Pandan Jelly Time! merangkum cita rasa Asia Tenggara dalam satu tegukan. Kombinasi Citadelle Gin, Moringa, Coconut Yogurt, dan pandan menghasilkan koktail yang segar dan aromatik. Bahan-bahan yang akrab di meja makan berubah menjadi sesuatu yang sama sekali baru.

Empat koktail ini mungkin datang dari resep yang berbeda, tetapi memiliki satu benang merah. Lebih dari sekadar mencampurkan rasa, mereka memberikan kesempatan bagi bahan dasar untuk bercerita dengan cara yang baru.

Teks : Cut Rashya Zebina L. Shiddiqie

Editor : Akib Aryo Utomo

Previous Post
MINA SK-II (4)

SK-II Facial Treatment Serum: Mengunci Tampilan Kulit Awet Muda

Next Post
TEMMA PRASETIO FOR IWAN TIRTA

Koleksi UNBOUND TEMMA PRASETIO for IWAN TIRTA: Mendefinisikan Ulang Batik untuk Pria Modern

Advertisement
Sign in