
Ada kalanya sebuah ruang tidak perlu banyak bicara untuk mengubah suasana. Di tengah ritme Dubai yang serba cepat, Sanāra Spa di Grosvenor House, a Luxury Collection Hotel, Dubai, justru memilih pendekatan yang lebih tenang. Pembaruan desainnya membawa warna, tekstur, dan kerajinan Asia ke dalam ruang seluas 207 meter persegi, menciptakan pengalaman yang terasa seperti perjalanan perlahan menuju ketenangan.
Dikerjakan oleh LW Design Group dan dipimpin oleh Rachel Kidd, Brodie Kane, serta Casey Carillo, desain baru Sanāra Spa berangkat dari dua gagasan utama, yakni tradisi penyembuhan oriental dan energi simbolis batu permata. Keduanya kemudian diterjemahkan ke dalam interior bernuansa permata, material alami, serta detail kerajinan Asia yang membuat setiap bagian spa memiliki atmosfernya sendiri.
Tujuh Batu Permata Menjadi Bahasa Desain

Konsep Sanāra Spa bertumpu pada tujuh batu permata yang juga dikaitkan dengan chakra. Ruby, Honey Amber, Citrine, Jade, Aquamarine, Lapis Lazuli, dan Amethyst menjadi referensi untuk menentukan warna serta karakter ruang, tanpa membuat keseluruhan interior terasa terpisah satu sama lain.
Pengalaman tersebut dimulai sejak lobi lift. Area ini sengaja dibuat lebih netral sebagai ruang peralihan antara lobi residensial dan suasana spa. Sebuah lampu gantung yang dikembangkan bersama Vann Furniture berada di atas meja penerima tamu dengan aksen warna yang lebih berani, menjadi titik pertama yang memperkenalkan karakter baru Sanāra.
Di bagian dalam, kayu dengan rona hangat berpadu dengan pelapis dinding berwarna lembut dan sentuhan teal. Koridor kemudian dipenuhi karya seni serta artefak yang ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan visual. Patung Buddha berada di ceruk khusus dengan latar bambu berlapis warna emas, menghadirkan detail yang membuat langkah menuju ruang perawatan terasa lebih jauh dari hiruk-pikuk kota.
Dari Jade hingga Amethyst

Masing-masing ruang membawa interpretasi berbeda dari batu yang menjadi inspirasinya. Area ganti Veil of Stillness mengambil karakter Jade melalui meja rias dari batu lava, dinding bertekstur, dan panel kayu yang dibiarkan menonjolkan bentuk ukirannya.
Sementara itu, Chambers of Renewal memberikan identitas tersendiri untuk setiap ruang perawatan. Warna, aroma, dan elemen batu permata disesuaikan dengan chakra yang menjadi inspirasinya. Batu lava, ubin Mittsu buatan tangan dari Jepang, serta karya seni antik kemudian melengkapi suasana yang terasa lebih personal.
Usai perawatan, Radiance of Renewal menawarkan suasana yang lebih lembut. Inspirasi Amethyst diterjemahkan melalui kain berwarna ungu dan wallcovering khusus bermotif bunga sakura, menciptakan ruang yang dirancang untuk memberi jeda sebelum kembali ke kesibukan di luar spa.
Ketika Material Menjadi Pengalaman

Di Sanāra, material tidak sekadar berfungsi sebagai elemen dekoratif. Batu lava yang dibuat khusus, ubin Mittsu dari Jepang, kayu ukir, serta panel kaca bertekstur menghadirkan kedalaman pada interior. Lapisan kain Pierre Frey kemudian memberikan sentuhan yang lebih lembut di antara material yang cenderung berkarakter kuat.
Pilihan furniturnya juga mempertahankan hubungan antara masa lalu dan masa kini. Sejumlah furnitur antik yang berasal dari berbagai wilayah Asia tetap dipertahankan dan direstorasi. Potongan tersebut kemudian berdampingan dengan furnitur baru yang membawa detail ukiran, rumbai, pencahayaan terintegrasi, serta tatahan mother-of-pearl.
Alih-alih membuat ruang yang seragam dan terasa baru, pendekatan ini menghasilkan interior yang tampak telah dikumpulkan dari berbagai waktu. Kerajinan, warisan, dan desain kontemporer bertemu dalam satu komposisi yang terasa lebih berlapis.
Cahaya yang Membuat Ruang Terasa Lebih Hening

Pencahayaan menjadi bagian penting dari pengalaman di Sanāra Spa, ketika kaca beriak dan sekat resin dekoratif menyaring cahaya alami sekaligus menjaga privasi di dalam ruang.
Perpaduan cahaya, warna, material, serta kerajinan Asia tersebut mempertegas pendekatan LW Design terhadap wellness, menghadirkan desain yang tidak hanya untuk dilihat, tetapi juga dirasakan sebagai perjalanan menuju ketenangan di tengah dinamika Dubai.
Teks: Cut Rashya Z.L Shiddiqie
Editor: Akib Aryo Utomo