Memperkenalkan Wajah Baru Everbest lewat Soft Architecture
Wonderful Indonesia Gastronomy 2026, dari Rumah Makan ke Fine Dining

Wonderful Indonesia Gastronomy 2026, dari Rumah Makan ke Fine Dining

Wonderful Indonesia Gastronomy 2026 memperkenalkan kuliner berakar warisan (heritage) di Solo dan Yogyakarta kepada lidah mancanegara.
SCC09710

Pada tahun 1925, Leopold Godowsky merilis sebuah simfoni ikonis: Java Suite. Simfoni ini melagukan perjalanan Godowsky menjelajah Jawa, terinspirasi dari langgam pentatonis gamelan. Seabad kemudian, Wonderful Indonesia Gastronomy 2026, dengan caranya, mengangkat pendekatan yang sama dengan Godowsky. Bak Godowsky dengan karyanya, WIG 2026 mengejawantah warisan, budaya, dan tradisi Jawa lewat gastronomi: dari rumah makan ke fine dining seantero Surakarta dan Yogyakarta.

Memperkenalkan Kuliner Berakar Warisan

ADT09629

WIG 2026 bertandang ke dua kerajaan besar di Pulau Jawa: Surakarta dan Yogyakarta. Berbeda dari gelaran tahun lalu yang mengeker andrawina fine dining, WIG 2026 lebih terfokus kepada kuliner berakar warisan. Dari rumah makan legendaris ke restoran andrawina hotel, semua mengangkat khazanah kulinaria Indonesia.

DEWI berkesempatan membahas hal ini dengan sosok yang menyokong WIG 2026, Widiyanti Putri Wardhana, Menteri Pariwisata Republik Indonesia.

Advertisement

“Pada WIG 2026, kami memang ingin memberikan ruang yang lebih kuat kepada gastronomi yang berakar pada warisan Indonesia,” jelas Menteri Pariwisata Widiyanti. “Bagi kami, heritage bukan berarti sesuatu yang harus berhenti pada bentuk tradisionalnya.”

ADT09518

WIG 2026 mengundang delapan belas jurnalis nasional dan mancanegara–tastemakers, demikian tajuk yang disematkan–untuk mengulas lanskap gastronomi Surakarta dan Yogyakarta. 

“Tujuannya adalah memperkuat identitas gastronomi Indonesia. Kita ingin wisatawan tidak hanya menikmati makanan yang enak, tetapi juga memahami: dari mana rasa itu berasal, siapa masyarakat yang menjaganya, dan cerita apa yang dibawanya?

Sebuah jurnal cita rasa dalam sepekan WIG 2026

Mengikuti WIG 2026 selama sepekan pelaksanaannya, dari 26 September-2 Oktober 2026, DEWI memperkaya repertoar dalam jurnal cita rasa.

Hari pertama

RM Adem Ayem – Kampung Batik Laweyan – Pracima & Pura Mangkunegaran

SCC09143

Berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta, DEWI mendarat di Bandara Adi Soemarmo. Destinasi pertama adalah Rumah Makan Adem Ayem di jantung Solo. Rumah makan legendaris ini terkenal akan gudeg basah dan ayam kremes, keduanya bergaya khas Jawa Tengah. 

Lantas, DEWI menjelajah gang-gang Laweyan, kampung yang memiliki sejarah sebagai pusat lokakarya batik. Sesuai namanya: lawe merujuk kepada benang yang digunakan untuk kain batik.

Pada malam harinya, DEWI diundang menghadiri Royal Dinner di Pura Mangkunegaran. Para puan menyandang kebaya kembang batu, sementara para tuan berbalut beskap Solo warna hitam. Royal Dinner enam tangan ini dibesut oleh Chef Degan Septoadji, Chef Wayan Ari Wibowo dari Pracima Mangkunegaran, dan peraih dua bintang Michelin, Chef Stéphane Carrade.  

Hari kedua

Atsiri Jawa – Museum Danar Hadi & SOGA Restaurant – Sate Pak Pinchuk

ADT09819

Hari kedua dimulai dengan mengunjungi Atsiri Jawa. Pusat kebugaran di kaki Gunung Lawu, Karanganyar, ini adalah kepanjangan dari Rumah Atsiri, manufaktur minyak aromaterapi yang pernah menjadi penghasil minyak sereh terbesar di Asia Tenggara. Selain menjajal massage dan lokakarya parfum, DEWI juga mengikuti yoga beksan, terinspirasi dari gerakan tari Jawa. Sajian dari Atsiri Jawa mendekonstruksi kuliner tradisi Jawa dengan bahan-bahan yang sehat.

ADT09632

Turun dari kaki Gunung Lawu, DEWI mengunjungi Museum Danar Hadi. Koleksi batik Danar Hadi, termasuk lurik kuno dan berbagai batik asli dari kerajaan-kerajaan Surakarta dan Yogyakarta, tersimpan dengan baik. Tersaji di SOGA Restaurant adalah sebuah kenduri berbagai makanan tradisional Solo, seperti ledre dari Laweyan yang masyhur. Terbuat dari kelapa, berisi pisang, dan dimasak tanpa gula maupun minyak, jajanan ini menjadi favorit jurnalis mancanegara.

Selipan tidak resmi: DEWI dan para jurnalis mancanegara menjajal pusparagam sate kambing khas Solo di Sate Pak Pinchuk. Cita rasa yang khas, dari sate buntal manis hingga kronyos mentega, memukai lidah jurnalis mancanegara. Menunjukkan bahwa kehebatan kuliner Nusantara bahkan tersaji di meja bersahaja kaki lima.

Hari ketiga

Pasar Gedhe – Taman Sari, Yogyakarta – Royal Ambarrukmo

SCC09583

Pagi hari ketiga diawali dengan mengunjungi Pasar Gedhe. Dari dawet selasih hingga kopi tubruk, kunjungan ini menjadi perkenalan terhadap lanskap sosial Surakarta. Selanjutnya DEWI bertolak ke Yogyakarta dalam gerbong panorama Kereta Api Yogyakarta.

Sebuah sambutan istimewa menanti di Taman Sari, Yogyakarta. Gusti Bendara, putri bungsu Sri Sultan Hamengkubuwono X dan pengampu sayap pariwisata Kraton Yogyakarta, menyambut lewat tradisi patehan tradisional khas Kraton Yogyakarta. Teh tubruk yang diracik dari teh hitam, teh hijau asli Kulonprogo, dan melati kering disajikan bersama kudapan santapan Sri Sultan.

Dari Taman Sari, DEWI menghadiri jamuan andrawina Kraton Yogyakarta yang disajikan oleh hotel Royal Ambarrukmo. Disebut Ladosan Dhahar, seluruh sajian ditandu dalam peti bernama jodhang, lantas disajikan ke piring bergaya rijsttafel oleh abdi dalem. Sebuah jamuan yang pas bagi tamu kenegaraan.

Hari keempat

Bhumi Bhuwana – Kotagede (Salim Silver & Loka Nusa) – Hotel Tentrem Yogyakarta

Dari meja makan, kembali ke dapur. DEWI mengunjungi Bhumi Buwana, sebuah bulk store yang menjajakan bahan pangan berkelanjutan dan buatan artisan lokal. Seluruh bahan dikurasi oleh Bukhi Prima Putri, seorang pengarsip kuliner. DEWI mencicipi sambal asam udeung yang disajikan bersama tempe mentah–menariknya, tempe yang berkualitas terasa sangat gurih, mirip keju.

Siang hari, DEWI mampir ke Kotagede. Di Salim Silver, DEWI menilik pembuatan perhiasan perak di Salim Silver. Lantas, makan siang disajikan oleh Loka Nusa, sebuah warung makan inisiatif anak muda Yogyakarta. Mie lethek yang bebas-gluten dan menjadi favorit DEWI.

Malam harinya, DEWI bertandang ke Hotel Tentrem Yogyakarta untuk sebuah jamuan istimewa. Bukhi Prima Putri untuk meracik kembali andrawina kuno Mataram. Sajian-sajian ini direkonstruksi dari Serat Centhini, manuskrip abad ke-19 milik Kasunanan Surakarta. 

Berbagai sajian plant-based, seperti sego megono dalam labu, mendampingi bola-bola semur daging kerbau nan eksotis. Dengan tiap hidangan didampingi narasi apik, dipungkas dengan lima koktail terinspirasi Sumbu Filosofis Yogyakarta, seluruh jamuan malam hari keempat terasa paripurna.

Hari kelima

Candi Borobudur – Hotel Le Temple, Magelang – ROSO Restaurant

SCC00053

Pagi hari dibuka dengan mengunjungi Candi Borobudur. Dalam sebuah panil di lapisan Kamadhatu, terdapat pahatan dua bentuk kecil bak air mata, tersaji berjajar di atas sebuah pinggan—ikan beong yang dimasak mangut. 

SCC00075

Hidangan ini tersaji nyata tatkala DEWI berlanjut ke Hotel Le Temple Borobudur. Sebuah boutique hotel kerja sama Indonesia dan Swiss, hotel ini baru saja menyabet satu bintang Michelin. Ditengarai rinai hujan, DEWI menjajal hidangan-hidangan masa lalu berlatar arsitektur ikonis Le Temple.

Malam harinya adalah jamuan spesial dari ROSO Restaurant. Chef Philip Walasary, Executive Chef ROSO di Grand Hotel De Djokja, menggandeng Chef Agus Hermawan dari Ron Gastrobar, Amsterdam. Medley menu Nusantara, dari mie gomak Batak hingga kohu tuna Manado, menggoyang lidah dalam adidaya rempah yang tidak tedeng aling-aling.

Hari keenam

Pasar Ngasem – Mazaraat Artisan Cheese – Candi Prambanan – Mediterranea by Kamil

Sebuah tur ke Pasar Ngasem dengan becak motor (bentor) memboyong delegasi mancanegara ke jantung kulinaria Yogyakarta. Menilik berbagai bahan pangan dan jajanan, semuanya tersaji tatkala kembali ke ROSO Restaurant. Beragam bubur manis alias jenang, kudapan seperti apem dan corobikang, mendampingi racikan teh dan wedang ROSO Restaurant yang kondang.

Dari jantung kesultanan ke kaki Merapi. DEWI mengunjungi Mazaraat Artisan Cheese, keju racikan pasangan artisan Yogyakarta, Pak Jamie dan Ibu Nieta, yang telah melanglang buana ke berbagai hotel dan sanggraloka Indonesia. Sebuah makan siang semarak dan gebyar, terdiri dari charcuterie keju nan paripurna: brie panggang, baguette dengan keju putih, krim keju manis untuk dicolek dengan buah… Ditemani gelas-gelas anggur Hatten Wines, makan siang ini praktis menjadi salah satu luncheon terbaik di WIG 2026.

Bertolak ke Candi Prambanan, para tamu mancanegara diperkenalkan dengan langgam arsitektur yang berbeda. Hari ditutup dengan makan malam kasual di Mediterranea by Kamil. Chef Camille, pria Prancis yang kokoh menjejakkan kaki di Yogyakarta lewat, menghidangkan masakan Prancis Selatan nan klasik, seperti gurita dengan zaitun dan semur bebek manis.

Menilik rahasia dapur dalam WIG Talks & Artisan Market

SCC00353

WIG 2026 tidak hanya berisi jamuan privat, melainkan juga lokakarya dan pasar artisan untuk publik. Dalam WIG Talks 2026, sejumlah pembicara membahas topik-topik terkini dengan pembicara mumpuni. Sebuah panel yang membahas gastronomi sebagai city branding, misalnya, mengundang Gusti Bendara dari Yogyakarta; Artika Nur Rahmania dari DKI Jakarta; dan Ramlan Nurmatias dari Bukittinggi.

Sementara Artisan Market mengundang berbagai pegiat pangan dan gastronomi dari Yogyakarta dan seluruh Indonesia. Misalnya, Agradaya, produsen rempah yang memberdayakan ibu-ibu Desa Minggir, Yogyakarta, menjadi komoditas ekspor internasional; Adore Cacao, meracik cokelat Indonesia menjadi berbagai kudapan dan minuman lezat; serta Basyira Cookies dari Papua dengan kue kering sehatnya.

Tuntas sudah Wonderful Indonesia Gastronomy 2026 menepati janjinya. Selama satu pekan, kuliner berakar warisan dirayakan. Dari rumah makan ke fine dining, kuliner lokal menjadi primadona sorotan global. Cikal-bakal fine dining Nusantara telah ditanam, untuk selanjutnya dipupuk menjadi mengemuka.

Previous Post
DEWI Website Terbaru-5

Memperkenalkan Wajah Baru Everbest lewat Soft Architecture

Advertisement
Sign in