Art&Bali 2026 Hadirkan Pertemuan Seni, Mode, dan Kriya di Nuanu
Art&Bali: Ketika Fashion Menjadi Seni, tentang Busana, Kriya, dan Identitas 

Art&Bali: Ketika Fashion Menjadi Seni, tentang Busana, Kriya, dan Identitas 

Ada kepala yang membawa ide, ada tangan yang berada di balik desainer, yaitu craftsmanship, dan ada hati
Art and Bali 2026 – svida alisjahbana When Does Fashion Become Art
Di Art&Bali 2026, Svida Alisjahbana, Jiya Ambast, Natasha Preenja atau Princess Pea, dan Bandana Tewari membicarakan pakaian sebagai medium gagasan, identitas, ingatan, serta kerja banyak tangan yang kerap tak terlihat.

Kapan sebuah pakaian berhenti menjadi pakaian dan mulai dipandang sebagai karya seni? Pertanyaan tersebut menjadi titik berangkat diskusi “When Does Fashion Become Art?” dalam rangkaian Nuanu Future Talks: Fashion & Art di Art&Bali, festival seni tahunan yang digelar Nuanu Creative City, Tabanan, Bali. Svida Alisjahbana, Chairman of Jakarta Fashion Week (JFW), hadir sebagai salah satu pembicara bersama Jiya Ambast, founder dan CEO AYNI, serta seniman Natasha Preenja atau yang juga dikenal sebagai Princess Pea, dengan Bandana Tewari, lead curator What The Body Remembers, culture journalist, dan sustainability advocate, sebagai moderator.

Diskusi ini mempertemukan fashion, seni, dan craft dalam sebuah pertanyaan yang terdengar sederhana, tetapi memiliki banyak lapisan. Bandana membuka percakapan dengan mengingatkan bahwa tekstil pada dasarnya lahir untuk dikenakan. Sarong, dhoti, lungi, dan berbagai bentuk busana tradisional merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari sebelum tekstil juga mulai dipindahkan ke ruang pamer dan diperlakukan sebagai objek seni.

Titik Temu Fashion, Seni, dan Kriya

Alih-alih mencari batas yang tegas, percakapan ini memperlihatkan betapa sulitnya memisahkan ketiganya. Bagi Svida Alisjahbana, yang telah lama berkecimpung dalam industri fashion, sebuah karya tidak serta-merta menjadi seni hanya karena dibuat dengan tangan atau menggunakan teknik craft yang rumit. Ada sesuatu yang lebih dari sekadar keterampilan teknis, yakni sebuah gagasan, imajinasi, dan emosi yang kemudian memberikan lapisan baru pada sebuah objek.

Advertisement

Bagi Svida, ingatan menjadi salah satu hal yang membuat sebuah objek memiliki dimensi artistik. “Menurut saya, tindakan artistik muncul ketika sesuatu memiliki kaitan dengan ingatan. Misalnya, motif-motif yang melekat pada tekstil tertentu,” ujarnya. Pandangan tersebut kemudian berkelindan dengan pengalaman Natasha Preenja melalui alter egonya, Princess Pea.

Selama bertahun-tahun, Natasha menggunakan kostum sebagai cara untuk menyembunyikan identitas dan kepribadiannya. Alih-alih menonjolkan tubuh, Princess Pea justru membuat tubuh Natasha seolah menghilang di balik persona dengan struktur visual yang menyerupai karakter anime. Apa yang bermula sebagai perlindungan dan penyamaran kemudian berkembang menjadi bahasa artistik. Princess Pea tidak lagi sekadar kostum yang dikenakan Natasha, tetapi menjadi persona, performans, dan karya dalam dirinya sendiri.

Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa pakaian dapat memiliki fungsi yang jauh lebih kompleks daripada sekadar menutupi tubuh. Ia dapat menjadi cara untuk mengubah bagaimana tubuh dilihat, menciptakan identitas lain, dan menyampaikan gagasan yang tidak selalu dapat diucapkan secara langsung.

Tangan yang Sering Tak Terlihat

Diskusi berlanjut pada pertanyaan lain yang tak kalah penting: jika sebuah karya fashion lahir dari tangan banyak orang, siapa sebenarnya yang memiliki dan mendapatkan pengakuan atas karya tersebut?

Fashion, terutama yang berangkat dari tradisi tekstil Asia, hampir tidak pernah merupakan hasil kerja satu orang. Di balik sehelai kain terdapat penenun, pembatik, penyulam, perajin, pembuat pola, hingga penjahit yang masing-masing membawa pengetahuan dan keterampilan tersendiri. Svida menyoroti bagaimana proses tersebut kerap luput ketika fashion mulai ditempatkan dalam ranah seni.

Sebuah busana yang terlihat sebagai hasil kreativitas seorang desainer sesungguhnya melalui rangkaian proses panjang. Ada penenun, pembatik, perajin manik, penyulam, pembuat pola, penjahit, hingga komunitas yang mempertahankan teknik tertentu dari generasi ke generasi. “Perancangnya, penenun, batik, bordiran… lalu finishing, kemudian berlanjut ke pemotongan pola, dan dijahit. Ini keseluruhan prosesnyam punya siapa?” kata Svida.

Pertanyaan mengenai kepemilikan budaya tersebut menjadi semakin penting ketika craft mulai diposisikan sebagai seni. Bandana mengingatkan bahwa ketika fashion dan craft dibawa ke dalam ruang seni, ada risiko bahwa provenance, narasi, dan asal-usul sebuah karya justru semakin tidak terlihat. Di Asia Tenggara, persoalan ini memiliki bobot tersendiri karena banyak teknik tekstil lahir dari pengetahuan yang diwariskan melalui komunitas.

Svida kemudian menunjuk busana yang dikenakannya sebagai contoh sederhana. “Apa yang saya kenakan saay ini adalah tenun Makassar. Ini bukan karya seni. Ini pakaian belaka.”

Meski demikian, menurutnya, kemeja tersebut tetap membawa kerja banyak orang di baliknya. Ada penjahit, seamstress, dan penenun yang keberadaannya kerap tidak terlihat ketika sebuah busana diperkenalkan kepada publik.

“Tapi di mana mereka? Mereka nggak kelihatan. Mereka bukan senimannya,” lanjut Svida. Ia kemudian merangkum proses tersebut melalui tiga unsur yang saling melengkapi: kepala, tangan, dan hati. Kepala membawa ide, tangan menghadirkan craftsmanship yang berada di balik desainer, sementara hati menciptakan hubungan dan emosi.

“Hati adalah yang membuat kita relate dengan rasa, yang mencipta emosi, dan emosi itu yang menjadi karya seni,” pungkasnya

Pertemuan dengan Identitas

Art and Bali 2026 – svida alisjahbana When Does Fashion Become Art (2)

Dari persoalan kepemilikan budaya, Bandana kemudian mempertanyakan apakah fashion, seni, dan kriya memang perlu dipisahkan. Pertanyaan ini juga mengusik Svida, terutama ketika ia membandingkan pakaian dengan lukisan. Sebuah lukisan tetap disebut karya seni setelah dibeli dan dipajang di rumah.

“Apakah kita berhenti menyebutnya sebagai karya seni karena seseorang membelinya? Karena seseorang memakainya?” tanyanya. Bagi Svida, pakaian yang dikenakan sehari-hari tetap dapat memiliki gagasan, imajinasi, dan nilai emosional, tanpa harus kehilangan maknanya karena memiliki fungsi sebagai busana.

Pemikiran tersebut terasa dekat dengan hubungan pakaian dan identitas, terutama bagi perempuan yang menggunakan busana sebagai cara untuk mengekspresikan diri dan bernegosiasi dengan tubuhnya. Pengalaman Natasha Preenja melalui Princess Pea, misalnya, memperlihatkan betapa kostum dapat menyembunyikan tubuh sekaligus membentuk persona baru.

Svida juga menghubungkannya dengan sejarah tekstil ASEAN, ketika songket dan ikat berkembang melalui pertukaran budaya dan perdagangan di Asia Tenggara. Bagi Svida, kain membawa sejarah yang jauh lebih panjang daripada keberadaannya sebagai benda yang dikenakan.

Karena itu, menutup sesi diskusi di Art&Bali ini, Svida mengajak untuk melihat pakaian tanpa terlalu sibuk menentukan apakah ia termasuk fashion, craft, atau seni. “Mari kesampingkan dulu perkara fashion dan seni ini,” katanya. Menurutnya, nilai sebuah objek dapat muncul dari apa yang membuat seseorang merasa, mengingat, atau mempertanyakan identitasnya. Di balik sepotong pakaian terdapat gagasan, tangan para perajin, komunitas, sejarah, dan pengalaman orang yang mengenakannya. Semua lapisan tersebut dapat hadir bersamaan tanpa harus memaksanya masuk ke dalam satu kategori.

Previous Post
DEWI Website Terbaru

Art&Bali 2026 Hadirkan Pertemuan Seni, Mode, dan Kriya di Nuanu

Advertisement
Sign in