Mengintip Koleksi Sandro Fall/Winter 2026 di Plaza Senayan
JIPFest 2026 Mengajak Kita Melihat Arti Bertahan Lewat Fotografi

JIPFest 2026 Mengajak Kita Melihat Arti Bertahan Lewat Fotografi

Dari ketidakpastian hingga harapan, JIPFest 2026 melihat fotografi merekam berbagai cara manusia untuk bertahan, beradaptasi, dan terus tumbuh di tengah perubahan.
jipfest
Suasana pameran JIPFest 2026 yang mempertemukan berbagai karya fotografi dari beragam perspektif tentang manusia, perubahan, dan resiliensi.

Jakarta International Photo Festival (JIPFest) 2026 kembali hadir dengan tema “Resilience”, menghadirkan lebih dari 50 proyek fotografi, instalasi, dan multimedia dari 19 negara. Berlangsung pada 11–20 September 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, edisi keenam JIPFest mengajak publik melihat potret manusia menghadapi perubahan, mempertahankan harapan, dan menemukan cara untuk terus tumbuh.

Melihat Resiliensi dari Berbagai Perspektif

2
Karya The Fish Dies by Its Mouth (2016–2024) karya Santiago Escobar-Jaramillo yang mengangkat kehidupan komunitas nelayan pesisir Kolombia di tengah konflik dan ancaman terhadap identitas mereka.

Melalui JIPFest Open Call 2026, kurator Chelsea Chua dan Yoppy Pieter memilih 22 proyek dari 408 proposal yang berasal dari 58 negara. Karya-karya tersebut menghadirkan beragam pengalaman personal dan kolektif dalam menghadapi ketidakpastian.

Salah satunya adalah karya fotografi dari Santiago Escobar-Jaramilo yang berjudul The Fish Dies by Its Mouth (2016-2024). Karya ini bercerita tentang kehidupan para nelayan di komunitas pesisir Kolombia yang berada di antara warisan tradisi maritim dan bayang-bayang perdagangan narkoba. Melalui figur nelayan bertopeng, Escobar-Jaramilo menggambarkan bagaimana mereka melindungi identitas serta mempertahankan ingatan, solidaritas, dan tradisi budaya di tengah situasi yang penuh konflik.

Advertisement

“Karya-karya yang ditampilkan menawarkan beragam perspektif personal dalam menafsirkan ketangguhan, harapan, dan solidaritas,” ujar Chelsea Chua. Menurutnya, fotografi membuka kesempatan untuk melihat bagaimana pengalaman menghadapi perubahan dapat dipahami dari berbagai konteks dan sudut pandang.

Sepuluh Hari untuk Bertemu dan Bertukar Cerita

3
JIPFest 2026 menjadi ruang pertemuan bagi fotografer, seniman, dan publik untuk berbagi cerita, berdiskusi, dan melihat fotografi dari perspektif yang lebih luas.

Selama sepuluh hari, JIPFest 2026 menghadirkan 29 program publik yang melibatkan fotografer, seniman, pembicara, dan praktisi lintas disiplin. Mulai dari Walking Tour, Artist Talk, diskusi, ulasan portofolio, workshop, hingga kuliah umum, berbagai program ini menjadi ruang untuk bertemu, berdiskusi, dan melihat fotografi dari perspektif yang lebih luas.

Tahun ini, JIPFest juga memperkenalkan JIPFest Connect, yang memperluas kolaborasi dengan berbagai komunitas, institusi, dan pelaku industri kreatif. Lebih dari 30 fotografer, seniman, serta praktisi lintas medium turut terlibat dalam memperkaya percakapan mengenai resiliensi.

Ketika Bertahan Berarti Terus Bertumbuh

Bagi Yoppy Pieter, resiliensi bukan sekadar tentang bertahan menghadapi keadaan. “Tidak hanya tentang ketangguhan untuk bertahan, karya-karya yang terkurasi juga berbicara tentang kemampuan untuk beradaptasi di tengah perubahan, memulihkan diri, dan terus tumbuh melalui berbagai tantangan.”

Semangat tersebut kemudian diperluas melalui Indonesia Photo Fair (IPF) yang berlangsung pada 18–20 September 2026 di Taman Ismail Marzuki. Mengusung semangat “Where Photography Meets Culture, Commerce, and Community,” IPF mempertemukan fotografer, penerbit, kolektor, pelaku industri, komunitas, dan publik dalam satu ruang.

Lewat JIPFest 2026, fotografi akhirnya tidak hanya menjadi medium untuk mengabadikan apa yang terjadi, tetapi juga cara untuk memahami cara-cara manusia terus beradaptasi dengan dunia yang berubah.

Teks: Lunetta Maliha
Editor: Mardyana Ulva

Previous Post
19

Mengintip Koleksi Sandro Fall/Winter 2026 di Plaza Senayan

Advertisement
Sign in