Oscar Lawalata Culture dan Senandung Wastra UMARATU Foundation

Perancang Asha Darra berpose dengan para model yang mengenakan tenun Sumba binaan yayasan Umaratu.
Perancang Asha Darra berpose dengan para model yang mengenakan tenun Sumba binaan yayasan Umaratu.

Sebuah rumah bagi budaya Sumba. Perancang Asha Smara Darra melansir UMARATU Foundation, yayasan yang bergerak dalam pelestarian sandang, pangan, dan papan tradisional Sumba Timur. Dirilis dalam diskusi dan gelaran budaya di The Dharmawangsa pada Hari Tenun Nasional, Kamis, 3 September 2026, yayasan di bawah naungan Oscar Lawalata Culture ini seakan menjadi napas baru dalam pelestarian budaya di Indonesia.

Pameran: menarasikan kisah tenun-tenun Sumba Timur

DSC00147

UMARATU Foundation mengangkat tiga pilar budaya dalam pelestarian mereka: sandang, pangan, dan papan. Masing-masing memiliki program pelestarian komprehensif yang dipimpin secara empiris dan memberdayakan masyarakat sekitarnya. Untuk sandang, fokus program ini adalah mengarsipkan motif-motif tradisi Sumba Timur, termasuk warisan keluarga yang sakral.

Sebagai undangan bagi penikmat budaya ke Sumba, Umaratu Foundation menjelaskan sepak-terjang mereka dalam pameran dan trunk show bertajuk “Narasi Kain Tenun Dari Kampung Raja“. Pameran ini memajang kain tenun eksklusif dari Kampung Raja Prailiu, Pau, Rende, serta Kampung Adat Kanatang dan Kaliuda.

Advertisement

Ruang Sriwijaya The Dharmawangsa pun disulap menjadi galeri pameran. Lembar-lembar kain Sumba dalam beraneka ragam warna dan corak menyambut dalam lambaian nan syahdu. Beberapa motif ini sejatinya adalah motif keluarga, diarsipkan oleh Oscar Lawalata Culture bersama Umbu Kudu Maramba Lewa (Uka) dan Mama Rambu Margaretha (Mama Retha).

Keduanya adalah ibu dan anak keturunan Kerajaan Rende yang kini fokus menenun wastra. Uka dan Mama Retha bekerja sama dengan Asha Darra untuk mengembangkan corak-corak tenun modern sambil mempertahankan pakem-pakem yang penting. Kain-kain ini sendiri berasal dari dua dari total lima kampung yang bekerja sama dengan rumah budaya Umaratu.

DSC00064

Trunk show: menyenandungkan warisan budaya dalam wastra

DSC00591

Kain-kain ini tidak hanya dipajang, tetapi turun dipamerkan sebagai adibusana Oscar Lawalata Culture. Pameran ini seakan menyaripatikan dedikasi 25 tahun Oscar Lawalata Culture terhadap wastra Indonesia. Asha Darra membalut para model dalam tenun-tenun bercorak pakem dan perhiasan mamuli sakral khas Sumba Timur.

Trunk show ini turut mempertunjukkan alunan syahdu dan puitis dari Maestro Jungga, Mama Ata Ratu. Sastra oral Sumba Timur dinyanyikan dalam langgam yang mengiringi sepanjang pertunjukan. Hasilnya adalah sebuah pengalaman spiritual, berbalut helai-helai wastra dan lipit-lipit tenun. Magis.

DSC00449

Diskusi: melestarikan warisan pengetahuan Sumba Timur

DSC00283

Dalam pangan, UMARATU Foundation meneliti keragaman pangan Sumba Timur dan mengolahnya dalam andrawina. Sedangkan berkaitan dengan papan, seluruh arsitektur rumah budaya ini dibangun dari bambu, bahan lokal Sumba Timur, dengan teknik arsitektur modern yang diajarkan kepada pekerja lokal.

Lima orang penggerak UMARATU Foundation menuturkan hal ini dalam diskusi dan jamuan untuk media. Mereka adalah Asha Smara Darra, Pendiri Oscar Lawalata Culture & Umaratu Foundation; Maria Stephanie, peneliti pangan lokal independen; Jajang Agus Sonjaya, arkeolog dan pengusaha bambu; Umbu Kudu Maramba Lewa (Uka), perwakilan generasi muda Sumba Timur; dan Mama Rambu Margaretha, ibu dari Uka yang juga salah satu penenun Sumba Timur.

DSC00511 (2)

Apabila Asha memimpin pelestarian wastra bersama Mama Retha dan Uka, maka Jajang memimpin pembangunan rumah budaya, sedangkan Maria Stephanie meriset ragam pangan Sumba Timur. Masing-masing menjelaskan dengan mendetail program pelestarian dan pemberdayaan yang dilakukan.

Jajang, misalnya, menjelaskan bahwa bambu dipilih sebagai material mengingat tanaman ini sejatinya tumbuh alami di Sumba Timur. Stigmatisasi membuat bambu dipandang sebagai bahan pembangun kandang; bahkan, rumah-rumah adat diganti bata dan semen. Jajang ingin mengembalikan marwah bambu, mengajarkan kepada warga asli Sumba Timur cara mengonstruksi bangunan bambu dengan teknologi modern.

Jamuan: meracik ulang selera Nusantara dengan pangan lokal

DSC00425

Bahan pangan dan teknik memasak yang diarsipkan oleh Maria Stephanie direkayasa ulang oleh Chef Emmanuel Julio, Executive Chef The Dharmawangsa Jakarta. Sebanyak tujuh masakan khas Sumba Timur diracik menjadi menu jamuan sore khusus untuk acara ini. Menariknya, semuanya berhias ragam sayur-mayur yang jarang ditemukan di Ibukota. Hal ini sesuai dengan tradisi kuliner Sumba. Jamuan selalu semarak dengan hasil kebun, untuk menunjukkan kemakmuran tangan hijau empunya rumah.

Taruhlah, rowe lo’o luwa pakobuk. Sayur daun ubi tumbuk ini diracik dengan bumbu dan teknik khas Sumba Timur, membuat cita rasanya berbeda dari sayur serupa di Nusantara. Toro lang’nga, sambal wijen, disajikan dengan lobster bakar, daun kelor, dan salad jali-jali. Toro kapu alias sambal jantung pisang menjadi compote gurih yang melapisi roti dari jali-jali dan tuna perairan Sunda Kecil.

Menu menarik lainnya adalah okkula. Bahan pangan serupa tiwul ini dikriya menjadi kue berlapis cokelat khas Sumba. Tepung gaplek, yakni singkong yang dikeringkan dan ditumbuk, diolah dengan kelapa parut menjadi sponge cake yang legit dengan tekstur yang lembut. Lapisan cokelat Sumba Timur, pekat dan mewah, membalut manis alamiah singkong menjadi lebih halus.

Menanti selesainya rumah budaya Umaratu di Sumba Timur kelak, tak elak terbayang-bayang betapa kaya warisan budaya Nusantara sesungguhnya. Tidak sabar, rasanya, untuk menyambangi Sumba Timur dan melebur dalam senandung tradisi Sumba…

Previous Post
3

Swarovski Classica dan Cara Baru Memaknai Perhiasan Sehari-hari

Next Post
6

L’OCCITANE Immortelle Divine Targeted Wrinkle Care: Perawatan Tepat untuk Lima Jenis Keriput

Advertisement
Sign in