
Bagi Cox London, alam bukan sekadar referensi visual, melainkan sumber inspirasi yang diterjemahkan melalui proses artistik dan keterampilan tangan. Bentuk-bentuk yang ditemukan di alam, mulai dari lekukan batang, struktur akar, hingga tekstur bebatuan, menjadi titik awal bagi karya yang kemudian hadir sebagai furniture, lighting, dan objek sculptural.
Didirikan oleh pasangan seniman Christopher dan Nicola Cox, Cox London adalah studio yang mempertemukan seni patung, desain, dan craftsmanship dalam berbagai karya bespoke. Berbasis di London, studio ini dikenal melalui pendekatannya dalam menerjemahkan bentuk-bentuk natural ke dalam objek dengan karakter yang kuat. Setiap karya dirancang dan dikerjakan di workshop mereka, menggunakan material seperti tembaga dan besi yang ditempa serta teknik tradisional seperti lost-wax casting, forging, casting, dan hand-finishing.
Dari Seni Patung ke Cox London
Kecintaan terhadap bentuk dan material menjadi titik temu Christopher dan Nicola sejak pertama kali bertemu pada pertengahan 1990-an. Keduanya memiliki ketertarikan yang sama terhadap patung dan seni dekoratif, yang kemudian membawa mereka menekuni dunia barang antik dan restorasinya.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari cara keduanya memahami sebuah objek. Mereka belajar melihat bagaimana usia, material, teknik pengerjaan, dan detail dapat memberikan karakter pada sebuah benda. Dari sana, ketertarikan untuk merawat benda dengan sejarah perlahan berkembang menjadi keinginan untuk menciptakan objek dengan cerita mereka sendiri.
Pada 2004, Christopher dan Nicola mendirikan studio pertama mereka. Setahun kemudian, Cox London resmi dibentuk dengan visi yang berakar pada prinsip slow design dan bentuk-bentuk yang terinspirasi dari alam. Sejak saat itu, studio ini terus mengembangkan furniture, lighting, dan objek bespoke yang berada di antara fungsi dan karya seni.
Material yang Membentuk Cerita

Perpindahan dari restoration menuju penciptaan karya sendiri membuat hubungan Cox London dengan material semakin intens. Di workshop mereka di London, material tidak sekadar dipilih berdasarkan tampilan, tetapi menjadi bagian dari proses artistik yang menentukan bagaimana sebuah karya akan terbentuk.
Tembaga, besi tempaan, dan berbagai teknik casting menjadi medium untuk menerjemahkan bentuk-bentuk natural tersebut. Salah satu teknik yang menjadi bagian dari fondasi praktik mereka adalah lost-wax bronze casting, sebuah metode kuno yang memungkinkan bentuk sculptural diterjemahkan ke dalam logam. Teknik forged ironwork juga memberi karakter tersendiri melalui proses pembentukan besi dengan panas dan pukulan palu.
Karena itu, proses pengerjaan menjadi bagian dari identitas visual Cox London. Setiap twist pada besi, bekas pukulan palu, permukaan tembaga yang melalui patination, hingga sapuan akhir yang dikerjakan dengan tangan menyimpan jejak proses di balik sebuah objek.
Membawa Alam ke Dalam Ruang

Cara Cox London bekerja membuat bentuk-bentuk natural tidak hadir sebagai salinan literal dari alam. Sebuah cabang dapat diterjemahkan menjadi struktur lampu, akar dapat menjadi inspirasi bagi kaki sebuah meja, sementara tekstur dan ketidakteraturan material justru dipertahankan untuk memberikan karakter pada objek.
Di titik ini, furnitur dan pencahayaan Cox London mulai bergerak ke wilayah yang lebih dekat dengan seni patung. Fungsinya tetap penting, tetapi kehadirannya di dalam ruang juga membawa kualitas visual dan emosional yang kuat. Objek dirancang untuk berinteraksi dengan ruang, sekaligus mengundang perhatian terhadap material dan proses yang membentuknya.
Pendekatan tersebut juga menjelaskan mengapa slow design menjadi bagian penting dari identitas Cox London. Setiap karya dibuat secara bespoke dan melalui proses yang panjang, dengan keterlibatan seniman, desainer, engineer, dan finishing experts di bengkel mereka. Waktu, keterampilan, dan material kemudian bertemu dalam satu objek yang dirancang untuk memiliki kehidupan panjang.
Kini, Christopher dan Nicola memimpin tim yang terus berkembang di London, mengembangkan karya yang mempertemukan tradisi craft dengan eksplorasi bentuk kontemporer. Melalui sebuah media gathering, Cox London memperkenalkan karya dan pendekatan tersebut kepada pasar Indonesia, membuka kesempatan untuk melihat furniture, lighting, dan objek dari perspektif yang lebih dekat dengan seni dan craftsmanship.
***
Alam dalam karya Cox London tidak berhenti sebagai sesuatu yang dilihat. Ia diterjemahkan melalui material, dibentuk oleh tangan, dan kemudian dihadirkan kembali sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Sebuah proses yang memperlihatkan bagaimana inspirasi dari dunia natural dapat menemukan bentuk baru ketika bertemu dengan imajinasi dan keterampilan manusia.