
Selama beberapa tahun terakhir, konsep Financial Independence, Retire Early atau FIRE kerap menjadi gambaran ideal tentang financial freedom atau kebebasan finansial. Memiliki aset yang cukup untuk berhenti bekerja lebih awal memang terdengar seperti bentuk kemerdekaan yang menarik untuk dikejar. Namun, ketika kita mulai melihat kondisi finansial dengan lebih mindful, pertanyaannya tidak lagi berhenti pada seberapa cepat kita bisa mencapai angka tertentu, melainkan bagaimana uang dapat mendukung kehidupan yang ingin kita jalani.
Sebabnya, bagi setiap orang, kebebasan finansial dapat memiliki bentuk yang berbeda. Bagi perempuan, misalnya, kebebasan tersebut dapat berarti memiliki ruang untuk mengambil career break, melanjutkan pendidikan, memulai usaha, merawat keluarga, atau menjalani hidup dengan lebih tenang tanpa terus-menerus dihantui kekhawatiran tentang uang.
Ketika Pensiun Bukan Lagi Ukuran Kebebasan

Menurut Myura Blessya Vevanya, Investment Specialist Sucor Asset Management, financial freedom tidak harus diukur dari nominal tertentu atau usia saat seseorang berhenti bekerja. Ia melihatnya sebagai sebuah state, kondisi ketika seseorang merasa cukup aman dan mampu mengelola keuangannya dengan bijak.
“Secara umum, financial freedom bisa dimaknai sebagai sebuah state atau kondisi, ketika seseorang merasa aman dan bijak dalam mengelola keuangannya. Namun bagi kebanyakan orang, bentuk kemandirian finansial itu bisa terlihat sangat berbeda-beda,” jelas Myura.
Menurut Myura lagi, kondisi financial freedom ini bagi sebagian orang bentuknya adalah memiliki dana untuk menghadapi keadaan tak terduga, mampu membayar kebutuhan tepat waktu, atau merasa percaya diri dengan kondisi finansial di masa depan. Karena itu, pensiun dini lebih tepat dilihat sebagai salah satu pilihan hidup, bukan tolok ukur tunggal.
Myura juga melihat retirement atau pensiun sebagai sebuah fase, bukan sebuah tolok ukur yang menjamin financial freedom seseorang. Kebebasan finansial, menurutnya lagi, justru semakin terasa ketika keputusan hidup tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh tekanan finansial, sehingga seseorang memiliki ruang untuk memilih berdasarkan kebutuhan, nilai, dan prioritas pribadinya.
Dari Rasa Khawatir ke Kebebasan Memilih

Bagi Myura, perubahan tersebut juga berkaitan dengan cara kita mengambil keputusan tentang uang. “Financial freedom lebih dekat dengan kebebasan untuk memilih, bukan sekadar memiliki lebih banyak uang,” jelasnya.
Ketika kebutuhan dan keinginan dapat dikenali tanpa terus merasa terkungkung, seseorang memiliki keleluasaan untuk mengambil kesempatan yang sejalan dengan apa yang dianggap penting. Rasa aman secara finansial pun dapat membawa ketenangan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam relasi dan keputusan-keputusan personal.
“Jadi kalau ditanya “kapan”, jawabannya bukan pada parameter angka tertentu di rekening, tapi pada perubahan persepektif dan rasa dalam mengambil keputusan finansial dari yang tadinya didorong rasa takut atau keterpaksaan, menjadi keputusan yang lahir dari nilai dan pilihan diri sendiri,” jelasnya lagi.
Perspektif ini membuat financial wellbeing terasa lebih dekat dengan kehidupan nyata. Kebebasan finansial dapat hadir ketika seseorang mampu berkata ya pada kesempatan baru, mengambil jeda dari pekerjaan, mengganti arah karier, atau membangun sesuatu yang berarti baginya tanpa keputusan tersebut langsung terasa mengancam kestabilan hidup. Jadi, ukuran financial freedom bukan seberapa cepat seseorang mencapai angka tertentu, melainkan seberapa besar kondisi finansial memberi ruang untuk menjalani pilihan dengan lebih sadar.
Strategi Finansial yang Mengikuti Fase Kehidupan

Myura menambahkan, pilihan tersebut tentu dapat berubah seiring perjalanan hidup. Perempuan dapat melewati fase membangun karier, mengembangkan bisnis, menikah dan membangun keluarga, merencanakan pendidikan anak, membantu orang tua, hingga mempersiapkan masa pensiun. Setiap fase membawa kebutuhan dan prioritas yang berbeda, sehingga strategi finansial pun perlu memiliki ruang untuk beradaptasi.
“Tidak ada satu strategi yang cocok untuk semua orang,” kata Myura. “Salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan adalah mengenali profil risiko dan tujuan finansial, kemudian memilih instrumen yang sesuai. Reksa dana, misalnya, dapat menjadi salah satu pilihan untuk dipelajari karena tersedia dalam berbagai karakteristik risiko dan dapat dimulai secara bertahap.”
Menurutnya, reka sana juga bisa disesuaikan dengan profil risiko (konservatif, moderat, hingga agresif) dan tetap relevan meski prioritas berubah seiring fase hidup, baik saat masih lajang, membangun keluarga, maupun mendekati masa pensiun. Sifatnya yang terjangkau dari sisi modal awal dan bisa dimulai secara bertahap membuatnya jadi salah satu pintu masuk yang cukup ramah untuk mulai membangun kebiasaan finansial yang baik, sehingga investasi ditempatkan sebagai alat yang membantu menciptakan ruang bagi pilihan hidup, bukan beban tambahan yang harus diselesaikan sebelum seseorang merasa layak menikmati hidup.
Menutup perbincangan, Myura mengatakan bahwa Financial freedom tidak perlu berujung pada pertanyaan, “Kapan saya bisa pensiun?” Pertanyaan yang lebih personal adalah, “Kehidupan seperti apa yang ingin saya pilih, dan bagaimana kondisi finansial dapat memberi saya ruang untuk menjalaninya?” Ketika uang dikelola dengan kesadaran terhadap kebutuhan, nilai, dan tujuan pribadi, kebebasan finansial menemukan maknanya sebagai kemampuan untuk menentukan arah hidup dengan lebih tenang dan percaya diri.