
Menopause sering kali dibicarakan seolah-olah menjadi satu titik yang menandai berakhirnya menstruasi. Padahal, sebelum sampai ke sana, tubuh perempuan melewati sebuah perjalanan yang dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Fase tersebut dikenal sebagai perimenopause, ketika produksi dan keseimbangan hormon mulai mengalami perubahan yang dapat dirasakan dalam berbagai bentuk.
Dalam talkshow Sahabat Kian Podcast di Osteria Gia, Dr. Dinda Derdameisya, Sp.OG membahas fase tersebut sebagai bagian yang wajar dalam perjalanan hidup perempuan. Sahabat Kian sendiri dibangun oleh Happy Salma, Lena Budiman, Dian Purba, dan Arletta Danisworo sebagai ruang aman untuk membuka percakapan tentang perimenopause dan menopause, dua fase yang selama ini masih kerap diselimuti stigma dan kurang dibicarakan secara terbuka.
Perimenopause Bukan Sekadar Menunggu Menopause
Menurut Dr. Dinda, perjalanan hormonal perempuan dapat dipahami melalui empat tahap, yaitu pre-menopause, perimenopause, menopause, dan post-menopause. Perimenopause merupakan fase ketika produksi hormon mulai berubah dan berfluktuasi sebelum akhirnya memasuki menopause.
“Jadi, sebelum mencapai berhenti haid atau menopause, kita melewati suatu fase di mana hormon mulai turun. Itu adalah fase perimenopause,” jelasnya.
Estrogen, progesteron, dan testosteron merupakan tiga hormon yang turut mengalami perubahan dalam perjalanan tersebut. Sementara itu, menopause sendiri baru dapat disebut terjadi ketika seorang perempuan sudah tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut.
“Kalau misalnya tiga bulan yang lalu saya menstruasi, kemudian tidak menstruasi, lalu menstruasi lagi, itu belum menopause. Masih perimenopause,” katanya.
Perubahan ini merupakan bagian alami dari proses penuaan ovarium. Sel telur yang sudah dimiliki sejak berada di dalam kandungan akan terus berkurang seiring waktu, hingga produksi hormon ovarium pun perlahan menurun. Dari sinilah fase baru dalam kehidupan perempuan dimulai.
Mengapa Gejala Perimenopause Bisa Berbeda pada Setiap Perempuan?

Salah satu hal yang membuat perimenopause terasa begitu personal adalah gejalanya yang dapat muncul dalam berbagai bentuk. Estrogen sendiri memiliki peran di banyak bagian tubuh, mulai dari otak, jantung, kulit, persendian, otot hingga saluran kemih.
“Jadi bisa dibayangkan, ketika hormon itu mulai turun, efeknya bisa terasa di seluruh area organ tubuh seorang perempuan,” ujar Dr. Dinda.
Sebagian perempuan mungkin mengalami perubahan siklus menstruasi, sementara yang lain merasakan jantung berdebar, mata lebih kering, perubahan pada kulit dan persendian, hingga gangguan tidur atau suasana hati. Tidak semua perempuan mengalami gejala yang sama, bahkan tingkat keparahannya pun dapat berbeda.
Dr. Dinda mengibaratkannya seperti PMS atau postpartum blues. “Ada yang ngeri banget, ada yang tidak. Memang beda-beda antara satu dengan yang lain,” katanya.
Karena itu, perubahan yang dirasakan sebaiknya tidak langsung dibandingkan dengan pengalaman perempuan lain. Apa yang dianggap ringan bagi seseorang dapat terasa cukup mengganggu bagi yang lain.
Mengenali Perimenopause, Bukan Sekadar Menebak-nebak
Perubahan menstruasi dan berbagai gejala dapat menjadi petunjuk awal, tetapi memahami fase perimenopause tidak selalu sesederhana melihat satu gejala atau satu hasil pemeriksaan.
Dokter dapat mempertimbangkan pola menstruasi, gejala yang dialami, serta pemeriksaan tertentu bila diperlukan. Salah satunya adalah pemeriksaan follicle-stimulating hormone (FSH), hormon yang berperan dalam merangsang ovarium untuk menghasilkan sel telur.
“Kalau kita mau tahu apakah ini early perimeno atau late perimeno, kita bisa melihat FSH sebagai salah satu petunjuk,” jelas Dr. Dinda.
Pada fase perimenopause yang lebih lanjut, kadar FSH dapat mulai meningkat seiring perubahan fungsi ovarium, sementara kadar estrogen masih dapat mengalami fluktuasi. Karena itu, hasil pemeriksaan sebaiknya dibaca bersama kondisi dan gejala yang dialami, bukan berdiri sendiri. Mengenali perubahan tubuh bukan berarti mencari sesuatu yang salah, tetapi memahami apa yang sedang terjadi.
Lifestyle Menjadi Investasi Sebelum Menopause
Memahami perimenopause juga berarti memiliki kesempatan untuk mempersiapkan tubuh menghadapi fase berikutnya. Bagi Dr. Dinda, perubahan gaya hidup dapat menjadi salah satu langkah penting yang dilakukan sejak awal.
“Kita modifikasi dari lifestyle dulu,” ujarnya.
Pola makan, kadar gula darah, aktivitas fisik, dan kebiasaan sehari-hari menjadi bagian yang dapat diperhatikan. Menurutnya, perempuan dengan kondisi metabolik yang kurang baik dapat mengalami keluhan perimenopause yang lebih berat, sehingga menjaga pola hidup sehat sejak dini menjadi semakin relevan.
Olahraga pun sebaiknya tidak hanya berorientasi pada pembakaran kalori. Seiring bertambahnya usia, mempertahankan dan meningkatkan massa otot menjadi semakin penting karena metabolisme tubuh turut mengalami perubahan.
“Tujuan olahraga di fase perimenopause adalah olahraga yang membantu meningkatkan metabolisme. Makanya lebih banyak strength training,” jelasnya.
Latihan kardio tetap dibutuhkan untuk menjaga kebugaran dan kesehatan kardiovaskular, tetapi dapat dilengkapi dengan latihan kekuatan untuk membangun serta mempertahankan otot. Dengan pendekatan tersebut, olahraga tidak lagi sekadar tentang bentuk tubuh, tetapi menjadi investasi untuk kesehatan jangka panjang.
Perimenopause Bukan Akhir dari Masa Terbaik Perempuan

Di luar perubahan biologis, ada persoalan lain yang tidak kalah penting: bagaimana masyarakat memandang perempuan yang menua.
“Society benar-benar pressuring kita untuk tetap muda,” kata Dr. Dinda. “Aku umur 30 saja dibilang orang sudah tua. Padahal kayaknya hidup baru mulai, ya.”
Pandangan bahwa menopause berarti seorang perempuan telah melewati masa terbaiknya membuat fase ini sering dibicarakan dengan rasa takut atau malu. Padahal, perimenopause dapat menjadi kesempatan untuk mengenal tubuh dengan lebih baik, memperhatikan kebutuhan yang berubah, dan mempersiapkan kesehatan untuk tahun-tahun yang akan datang.
Gagasan untuk menciptakan ruang percakapan yang lebih terbuka inilah yang turut melandasi Sahabat Kian. Lena Budiman juga membagikan pengalamannya tentang bagaimana ia pernah merasa sendirian ketika menghadapi perubahan tersebut, terutama karena belum banyak ruang untuk bertanya dan berbagi pengalaman.
Kini, semakin terbukanya pembicaraan tentang perimenopause memungkinkan perempuan untuk datang dengan pertanyaan, mencari informasi yang tepat, dan mendiskusikan pilihan bersama tenaga kesehatan. Bukan untuk melawan proses penuaan, melainkan untuk menjalaninya dengan pemahaman yang lebih baik.