
Ada momentum dalam sejarah ketika lensa kamera bukan sekadar merekam, tetapi juga ikut hadir di antara konvensi. Khususnya di tahun ke-75 jalinan diplomatik Indonesia dan Prancis, sebuah perayaan digelar melalui harmoni sinema.
Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia, Timor Leste dan ASEAN bersama Institut Français Indonesie (IFI) mempersembahkan Festival Sinema Prancis 2025, sebuah perayaan yang menayangkan 20 karya film terbaik Prancis di 14 kota berbeda yang tersebar di seluruh Indonesia selama 12 hari. Festival ini dihelat pada tanggal 21 November – 2 Desember 2025, dengan mengangkat tema “Nouvelle Vague” (Gelombang Baru) yang merupakan sebuah deklarasi kemerdekaan di dunia sinema. Semangat yang menyoroti sinema sebagai ruang bereskpresi dengan bebas. Festival ini menyambut hangat kumpulan dialog yang menuntut otonomi serta keaslian, khususnya suara para perempuan yang sudah lama dibungkam oleh tirai sejarah.
13 Jours 13 Nuits

Perayaan ini dibuka dengan sebuah film dokumenter bertajuk “13 Jours 13 Nuits”. Sebuah film yang memotret perjuangan Kedutaan Besar Prancis mengevakuasi penduduk Afghanistan saat negara tersebut jatuh ke tangan Taliban.
Perjuangan para polisi kedutaan, bantuan tentara dari Amerika, serta keinginan para penduduk Afghanistan untuk bisa merdeka. Setiap momen digambarkan dengan begitu dalam dan pilu. Menarik para penonton untuk membuka mata terhadap ketidakadilan di belahan dunia lain dan bagaimana hak para perempuan dirampas seutuhnya.
Para Pasukan Taliban memandang rendah para perempuan, hingga hak mereka untuk berbicara pun ikut dirampas. Adegan dalam film ini beberapa kali menunjukkan ancaman mereka terhadap para perempuan, bahwa lidah mereka akan dipotong jika terus bersuara.
Sosok Eva (warga negara Prancis yang menetap di Afghanistan) kemudian hadir sebagai penerjemah antara kedutaan Prancis dan tentara Taliban. Ia memainkan peran penting dalam negosiasi yang dijalin, dan menunjukkan keberanian seorang perempuan di medan konflik.
Malam pembukaan dipenuhi sendu ketika adegan terakhir menampilkan pengambilan bendera dan segenggam tanah Afghanistan, sebelum tim meninggalkan negara tersebut. Sebuah pemandangan yang melambangkan rasa kehilangan, penghormatan, serta janji untuk terus mengingat.
Les Quatre Cents Coups

Sinema ini juga menyajikan sebuah karya abadi dari François Truffaut, Les Quatre Cents Coups atau sering dikenal dengan The 400 Blows. Film ini menceritakan seorang remaja yang terasingkan, bernama Antoine Doinel. Ia mencari kebebasan di tengah dunia yang menuntut keteraturan.
Film ini berhasil menggambarkan nuansa masa muda dengan apik, bagaimana gejolak ketidakadilan serta kehausan akan pengakuan hadir menyelimuti hati seorang remaja. Sinema ini menangkap momen kenakalan remaja yang dituntut untuk menaati peraturan. Sebuah suara yang berteriak menerobos ‘aturan sosial’ untuk menemukan kebebasan sejati.
Marissa Anita, Duta Festival Sinema Prancis Indonesia, menyatakan bahwa film ini merupakan salah satu karya yang ia gemari, “The 400 Blows menangkap esensi kebebasan sekaligus keterbatasan masa muda dengan indah.” ujar Marissa.
Petit Vampire

Pergelaran ini juga menghadirkan sinema yang penuh imajinasi, salah satunya dengan menayangkan film bertajuk Petit Vampire. Mengisahkan seorang Petit Vampire bernama Fernand yang sudah hidup selama 300 tahun di rumah berhantu bersama keluarga monsternya. Namun, sang vampire kecil ini merasa bosan sudah hidup 300 tahun sebagai anak-anak, ia ingin merasakan kehidupan seperti anak-anak lainnya: pergi ke sekolah dan memiliki teman sebaya.
Untuk itu, Fernand mengambil langkah berani menuju dunia luar dan menjelajahi dunia manusia. Ia kemudian bertemu dan berteman akrab dengan seorang anak manusia bernama Michel. Namun, pertemuan ini memicu amarah dari Gibbous, musuh bebuyutan keluarga vampir.
Kisah petualangan sang Petit Vampire menyoroti tentang kebebasan yang terletak pada keberanian untuk melampaui batas yang ada.
Comme un Fils

Sinema ini ikut menghadirkan ruang refleksi sosial melalui Comme un Fils (Like a Son). Sebuah film yang menyoroti kisah seorang guru sejarah yang kehilangan harapan. Namun, kehidupannya berubah ketika ia ikut terlibat dalam penangkapan Victor, seorang remaja 14 tahun yang terlibat kasus perampokan.
Hubungan antar keduanya kemudian berkembang lebih dalam. Tumbuh rasa tanggung jawab yang melebihi batasan profesi dan kekeluargaan. Film ini mengajak kita untuk menilik kembali apa artinya ‘mengasuh’ dan bagaimana komunitas mengambil peran atas anak-anak yang tersesat.
La Venue de l’avenir

Festival Sinema Prancis 2025 ditutup dengan apik melalui penayangan La Venue de l’avenir (The Colours of Time). Film ini memberikan pengalaman lintas waktu dengan latar yang terus berganti antara masa kini dan masa lampau.
La Venue de l’avenir mengisahkan petualangan empat orang yang ternyata saling terhubung melalui seorang perempuan bernama Adèle, nenek moyang mereka. Adèle digambarkan sebagai sosok wanita yang berani untuk menentang norma untuk memperjuangkan seni.
Perjalanan Adèle yang penuh gairah ini kemudian menjadi panduan bagi para keturunannya.
“Dengan menemukan hal-hal tentang mereka (leluhur), kita juga menemukan sedikit hal tentang diri kita sendiri” dialog ini menarik kesimpulan mengenai hadirnya festival sinema ini, dan bagaimana perjuangan para tokoh menjadi fondasi bagi masa depan yang semakin baik, setara, dan harmonis.
***
Festival Sinema Prancis 2025 merupakan sebuah dialog budaya yang berhasil melihat dunia secara luas. Dengan mengangkat semangat Nouvelle Vague, peerayaan 75 tahun Indonesia—Prancis menegaskan bahwa harmoni tercapai ketika semua suara, baik itu pemberontakan remaja hingga perjuangan para wanita, diberikan panggung untuk bersinar.
Teks: Nadia Indah
Editor: Mardyana Ulva