Menjemput Jeda Sore di ERRE & Urrechu Jakarta
Bincang Desain: Kapan Eksplorasi Budaya Berubah Menjadi Eksploitasi?

Bincang Desain: Kapan Eksplorasi Budaya Berubah Menjadi Eksploitasi?

Budaya bisa menjadi inspirasi. Tapi apakah semua yang menginspirasi boleh diambil?Cynthia dari Alto Project dan Andi Rachmat dari Nusae membahas batas antara eksplorasi dan eksploitasi budaya, dari pentingnya memahami makna dan tradisi hingga bagaimana menerjemahkannya tanpa sekadar menyalin apa yang sudah ada.
luxina nusae (1)
Nusaé menghadirkan sistem komunikasi visual yang menghubungkan identitas, informasi, dan
pengalaman pengunjung melalui pameran “The Sacred Horse of Sumba” di Plaza Indonesia, sebuah kolaborasi dengan LUXINA, dan Cita Tenun Indonesia (CTI)

Ketika budaya diterjemahkan ke dalam desain, batas antara eksplorasi dan eksploitasi sering kali ditentukan oleh seberapa jauh kita memahami konteks, makna, dan batas dari budaya yang kita bawa. Pertanyaan inilah yang menjadi bagian dari perbincangan kami bersama Cynthia dari Alto Project dan Andi Rachmat dari Nusae.

Perbincangan ini berlangsung dalam konteks kolaborasi antara LUXINA dan Cita Tenun Indonesia (CTI) melalui pameran “The Sacred Horse of Sumba”, mengangkat makna sakral kuda dalam budaya Sumba melalui koleksi tenun pilihan dari CTI.

Dalam proyek ini, Nusaé dipercaya sebagai Creative & Exhibition Design Consultant, mengembangkan pengalaman pameran secara menyeluruh, mulai dari exhibition direction, storytelling, content development, narrative flow, hingga visual identity, graphic design, spatial experience, dan information graphics. Seluruh elemen dirancang sebagai satu kesatuan untuk membawa pengunjung mengikuti perjalanan cerita tentang Sumba, kuda, tenun, dan makna kemewahan secara utuh.

Advertisement

Memahami Sebelum Menerjemahkan

Ketika motif, simbol, material, atau cerita dari sebuah tradisi diterjemahkan ke dalam bahasa desain kontemporer, kapan ia menjadi bentuk apresiasi dan kapan ia berubah menjadi eksploitasi? Bagi Cynthia, batas tersebut mulai ditentukan sejak tahap paling awal. Pengalamannya mempelajari wastra melalui Cita Tenun Indonesia (CTI) membuatnya memahami bahwa mengenal sebuah kain berarti mempelajari pula makna, ritual, tradisi, serta aturan yang mengikutinya.

“Kita diajari bukan hanya sekadar menghargai, tapi benar-benar tahu dan paham maknanya dari kain itu sendiri dan segala ritual dan tradisinya,” jelasnya. Pengetahuan tersebut kemudian menjadi pegangan ketika ia menerjemahkan berbagai unsur wastra ke dalam desain.

Dalam proses mengolah inspirasi dari Sumba, Toraja, hingga Kalimantan, misalnya, Cynthia tidak menempatkan kain yang sudah ada sebagai bentuk yang dapat disalin. Jika terdapat figur seperti kijang atau kuda, bentuk tersebut perlu diinterpretasikan kembali melalui bahasa visual Alto Project.

“Kita hanya boleh menginterpretasikan lewat apa yang kita bisa lihat dan kita bisa maknai lewat kreativitas kita,” ujarnya. Perbedaan tersebut mungkin tampak tipis, tetapi bagi Cynthia justru menjadi bagian penting dari cara menghormati karya yang lahir dari tanah adat, pengetahuan leluhur, dan tradisi masyarakatnya.

Ketika Inspirasi Tidak Berarti Mengambil

Kesadaran terhadap konteks menjadi semakin penting karena motif dalam sebuah wastra tidak selalu lahir dari proses kreatif yang dapat dipisahkan dari kebudayaan pemiliknya. Andi melihat bagaimana sebagian penenun Sumba mendapatkan gambar melalui mimpi, leluhur, atau apa yang mereka lihat di lingkungan sehari-hari.

“Ada yang dikasih lewat mimpi, ada yang lewat leluhurnya, ada yang lewat tanah adatnya, apa yang mereka tahu,” tuturnya. Karena itu, mengambil sebuah bentuk tanpa memahami nilai yang melekat padanya dapat membuat desain kehilangan konteks sekaligus mengabaikan asal-usulnya.

Andi juga mengingatkan tentang kecenderungan menggunakan elemen dari kelompok budaya lain hanya karena dianggap merepresentasikan “Indonesia”. Ia menyebut fenomena ketika seseorang mencoba berbicara tentang budaya daerah yang bukan latar belakangnya sendiri, tetapi hanya mengambil bentuk yang tampak di permukaan. Jika sebuah proyek memang menuntut penggunaan unsur budaya yang tidak dikuasai, ia memilih datang langsung ke tempat asalnya dan berbicara dengan orang-orang yang memahami tradisi tersebut untuk mengetahui apa yang boleh digunakan dan apa yang sebaiknya tidak disentuh.

Menemukan Takaran yang Cukup

luxina nusae (2)
Melalui garis, bentuk, dan tipografi, NUSAÉ menginterpretasikan kuda sakral Sumba menjadi identitas visual pameran “The Sacred Horse of Sumba”.

Bagi Andi, batas eksplorasi juga berkaitan dengan kemampuan seorang desainer menentukan kapan sebuah gagasan sudah cukup. “Cukup, pasti tiap orang takarannya beda-beda,” katanya.

Dalam praktiknya, ia memulai dengan konteks dan riset untuk memastikan bahwa apa yang dikerjakan memiliki dasar informasi yang valid. Setelah itu, berbagai kemungkinan dikembangkan dan diuji. Di Nusaé, ia bahkan terbiasa membuat lebih dari seratus opsi sebelum membandingkan dan menyaringnya satu per satu. Proses tersebut memberinya ruang untuk mengeksplorasi sejauh mungkin sebelum memutuskan bentuk yang paling tepat.

Namun, eksplorasi yang maksimal tidak selalu berujung pada desain yang paling ramai. “Optimalkan dulu, baru kalau dalam desain saya biasanya bikin opsi bisa seratus lebih,” ujarnya.

Setelah seluruh kemungkinan dicoba, ia memilih mundur dan merasakan kembali apakah sebuah desain sudah terlalu banyak atau justru masih membutuhkan sesuatu. Ia juga terbiasa memvalidasi gagasan kepada beberapa orang untuk melihat apakah informasi yang disampaikan terlalu berlebihan atau masih mudah ditangkap. Bagi Andi, desain tidak harus menjelaskan semuanya. Ia justru menyukai ketika masih ada ruang untuk membuat orang bertanya dan merasa penasaran.

Desain yang Tahu Kapan Harus Mundur

Cara Andi melihat “cukup” berhubungan dengan prinsip yang ia bawa dalam praktik desain selama sekitar dua dekade. “Saya percaya desain itu adalah tentang menghubungkan atau tentang hubungan, not only about visual,” katanya.

Karena itu, ia tidak melihat desain sebagai proses mengambil satu bentuk budaya lalu memindahkannya ke medium baru. Yang dicari adalah hubungan antara manusia, lingkungan, ekonomi, budaya, estetika, dan konteks tempat sebuah gagasan berasal. Ketika hubungan tersebut dipahami, bentuk visual menjadi salah satu bagian dari keseluruhan sistem.

Prinsip ini pula yang diterapkan ketika ia mengolah identitas visual yang terinspirasi dari Sumba. Katanya, “Saya tidak mencoba untuk menggambarkan ulang Sumba.”

Alih-alih mereproduksi bentuk yang sudah ada, ia bersama tim melakukan riset visual dan mengembangkan lebih dari seratus studi kuda untuk mencari interpretasi yang dapat membawa nilai Sumba ke dalam konteks pameran. Kuda, tenun, alam, manusia, waktu, tangan, dan leluhur kemudian diterjemahkan melalui berbagai lapisan desain, dari tipografi hingga ruang. Bagi Andi, tugas desain bukan mengambil identitas sebuah budaya untuk dipakai kembali, melainkan menemukan cara agar nilai di baliknya dapat dipahami dalam konteks yang baru.

Mengolah Tanpa Menghapus Asal

Batas antara eksplorasi dan eksploitasi pada akhirnya tidak selalu dapat ditentukan melalui satu aturan yang berlaku untuk semua proyek. Ada bentuk yang boleh diinterpretasikan, ada yang membutuhkan izin dan percakapan lebih jauh, dan ada pula yang sebaiknya dibiarkan berada dalam konteks asalnya. Karena itu, bagi Cynthia, mengikuti do’s and don’ts bukan sekadar prosedur, tetapi bentuk tanggung jawab selama proses kreatif.

“Kita tidak boleh meng-copy,” tegasnya. Revisi yang berulang justru menjadi bagian dari usaha memastikan bahwa interpretasi yang dihasilkan tetap memiliki jarak dari karya asli sekaligus menghormati makna yang dibawanya.

Andi melihat proses tersebut sebagai bentuk kesadaran seorang desainer terhadap posisi dan keterbatasannya sendiri. Ketika tidak memahami sebuah simbol atau objek secara utuh, mengambilnya begitu saja bukanlah eksplorasi. Pengetahuan menjadi titik awal, sementara kreativitas menentukan bagaimana pengetahuan itu diterjemahkan tanpa menghilangkan konteks asalnya. Dalam pengertian tersebut, desain dapat menjadi ruang pertemuan budaya tanpa menjadikan budaya sebagai sekadar sumber visual.

***

Menerjemahkan budaya ke dalam desain membutuhkan rasa ingin tahu, tetapi juga kerendahan hati untuk mengetahui apa yang belum kita pahami. Eksplorasi memberi ruang bagi kreativitas untuk berkembang, sementara konteks memberi batas agar kreativitas tidak mengambil alih cerita milik orang lain.

Bagi Cynthia, batas itu dibangun melalui pengetahuan dan kepatuhan terhadap tradisi yang ia pelajari. Bagi Andi, ia hadir melalui riset, validasi, hubungan, dan kemampuan untuk mengenali kapan sebuah desain sudah “cukup”.

Di antara keduanya terdapat satu prinsip yang sama: budaya bukan sekadar bentuk untuk dipinjam. Ia membawa pengetahuan, sejarah, kepercayaan, dan identitas yang perlu dipahami sebelum diterjemahkan.

Previous Post
WEB HERO HEADER (5)

Menjemput Jeda Sore di ERRE & Urrechu Jakarta

Advertisement
Sign in