
Yogyakarta menyambut sebuah destinasi andrawina baru: ROSO Restaurant, fine dining milik Grand Hotel de Djokja. Dalam pembukaan pada 15 Agustus 2026, cabang dari ROSO di The Meru Sanur ini menyambut penikmat gastronomi yang mendamba gourmet bercita rasa Indonesia. Pun, restoran ini begitu berbeda dalam keberaniannya meracik cita rasa yang begitu Nusantara, melanjutkan sejarah panjang perjuangan hotel historis ini.
Mengagungkan sejarah dalam arsitektur dan rasa



ROSO Restaurant menyambut penikmat gastronomi di salah satu bangunan bersejarah Yogyakarta. Grand Hotel de Djokja adalah bangunan era kolonial yang telah berdiri sebagai sanggraloka terkemuka di pusat pariwisata Yogyakarta, Jalan Malioboro, sejak 1911. Namanya silih-berganti sepanjang zaman: ia dikenal sebagai Hotel Asahi pada masa pendudukan Jepang dan Hotel Garuda pada dekade 1980-an Republik Indonesia. Bahkan, pada masa kemerdekaan Indonesia sendiri, hotel ini dikenal sebagai tempat berkantornya Jenderal Sudirman.
ROSO Restaurant bertempat di lobby asli bangunan ini. Setelah dipugar tiga tahun penuh, lobby ini kembali dengan keindahan klasiknya. Kandelir kristal yang tergantung di langit-langit tinggi bersanding dengan kaca patri beraneka warna dan aksentuasi dinding kayu berpahat. Mural yang menggambarkan masa perjuangan Indonesia, seperti proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dan perlawanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, menguatkan nilai historis bangunan ini.



Di luar ruang bersantap, halaman yang dahulu menjadi akses masuk utama, kini ditutup menjadi taman air untuk menikmati koktail. Kolam-kolam dangkal berapit semak-semak tropis menjadi pemandangan bagi ROSO Restaurant dan dua paviliun suite yang telah diperbarui. Suite ini mereplikasi kamar kerja Jendral Sudirman dengan autentik.
Bercakap-cakap dengan tim Grand Hotel De Djokja, DEWI mempelajari bahwa mayoritas tamu hotel ini justru berasal dari luar negeri. Fenomena yang tidak mengherankan, memang, mengingat hotel ini adalah satu-satunya hotel bintang lima kalibernya di Jalan Malioboro yang masyhur. Pun, DEWI bertanya-tanya, mengapa ROSO Restaurant begitu berani menyajikan hidangan yang tanpa basa-basi begitu Nusantara ini?
Memperjuangkan cita rasa Nusantara



Semangat Indonesia yang sangat kuat dalam arsitektur bangunan diejawantah dalam racikan yang tegas bercita rasa Nusantara. ROSO mengangkat tajuk “The Finest Expression of Indonesian Taste“. Sesuai yang tersirat, ROSO mengangkat menu kulinaria Nusantara sebagai sajian utamanya. Pun, seluruhnya disajikan dengan medok, tanpa diperhalus pun dikurangi untuk menyesuaikan lidah mancanegara.
Andreas Kahl, General Manager Grand Hotel De Djokja, menegaskan bahwa mereka tidak akan mengompromikan cita rasa Nusantara demi mengikuti lidah pelancong mancanegara. Justru, Andreas Kahl bertekad bahwa ROSO harus menjadi destinasi seminal bagi pelancong yang ingin mencicipi cita rasa Nusantara secara autentik.
“Yogyakarta sangat terkenal akan jajanan kaki lima yang meriah,” jelas Andreas eksklusif kepada DEWI. “Saya percaya bahwa ROSO menambahkan cita rasa yang melengkapi lanskap kuliner Yogyakarta dengan menyajikan hidangan Nusantara lewat gastronomi nan inggil… Kami percaya bahwa warisan kuliner Indonesia memiliki kualitas dan kedalaman yang layak ditempatkan sejajar dengan destinasi gastronomi terbaik di dunia.”
Sentimen yang sama turut ditegaskan Chef Philip Walasary, Executive Chef Grand Hotel De Djokja. “Kuliner Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa… Karena itu, ROSO tidak menyajikan hidangan secara sembarangan. Talenta kami harus memahami sejarah di balik setiap makanan, mengenali nilai budaya yang membentuknya, serta menemukan kembali cita rasa yang tepat.”
Sebuah kenduri sarat tradisi



Pada malam pembukaan, dua chef asal Yogyakara bekerja sama dengan dua chef asal Bali. Head Chef ROSO, Chef Kolibin, dan Executive Chef Grand Hotel De Djokja, Chef Philip Walasary, menyajikan menu Nusantara bersama-sama Chef Ketut Gede Arya Prima Udayana dan Chef Komang Kardana dari ROSO Bali. Kolaborasi ini seakan menjadi estafet yang meneruskan kehalusan racikan ROSO Bali ke ROSO Yogyakarta.



Andreas Kahl, General Manager Grand Hotel De Djokja, memukul gong sebagai bentuk peresmian ROSO Restaurant. Tamu yang sedianya menunggu di teras antara bangunan lama dan arsitektur baru, diundang melangkahi ambang pintu kayu secara perdana. Pengalaman ini direkam DEWI dalam reels berikut. Tamu lantas dipersilakan duduk di meja yang telah disiapkan.
Tanpa dinyana, cahaya meredup. Penari Kinanti Sekar masuk dan membawakan seni performans sebagai ritual untuk mulai bersantap. Seniman yang baru saja mempersembahkan tarian di pelataran Vatikan ini membawa nampan berhias ronce melati dan dengan kedemat menarikan puja-puji atas sajian malam ini. Demikianlah lantas para pramusaji masuk membawakan pinggan masakan; jamuan pun dimulai.
Jatuh hati dengan Nusantara dalam tujuh course



Terdapat tujuh course sajian dalam malam pembukaan ini. Pertama adalah amuse-bouche pusparagam tempe: lemper tempe, koin tempe, dan cone tempe. Camilan pembuka ini diteruskan dengan appetizer berupa Salmon Naniura khas Sumatra Utara, lengkap dengan bumbu bertabur andaliman Batak. Setelah berlayar ke Sunda Kecil lewat Rujak Tuna dan kembali ke Jawa lewat Soto Lenthok, sebuah interlude dari jeruk Bali dan sitrus Kalamansi mengizinkan lidah untuk santai sejenak.
Hidangan utama datang dari darat dan laut. Pertama, Lobster Base Genep dengan bumbu kenamaan Bali; lantas ayam ingkung yang masyhur sebagai hidangan hajatan Jawa; sebelum kembali ke Bali dengan Sampi Menyat-Nyat, suguhan US Prime Beef Short Ribs beracik bumbu manis. Lantas seluruh hidangan ditutup dengan nyamikan istimewa dari jantung Mataram, Manuk Nom, yakni emping gurih dengan tapai hijau nan legit, favorit para sultan Yogyakarta.






Menarik bahwa ROSO Restaurant tidak bermain-main dengan rasa: seluruhnya diracik autentik, dengan bumbu yang kuat. Taruhlah salmon naniura, misalnya. Saus yang melingkupi salmon penuh rempah, nyaris mirip jamu, pun justru memanjakan lidah Nusantara. Rujak Tuna pun tidak malu-malu dengan kuah seafood yang gurih dengan rasa bahari pesisiran. Sesuai janji para punggawa hotel dan brigade dapur: medok khas Indonesia, tidak dikompromikan autentisitasnya sedikit pun.
Dengan keberaniannya menyajikan cita rasa Nusantara yang autentik, ROSO Restaurant menuliskan babak baru perjuangan Indonesia dalam sejarah Grand Hotel De Djokja. Sebuah destinasi gastronomi anyar yang pas untuk kota sarat tradisi seperti Yogyakarta.