Film Frankenstein Memenangkan Oscar untuk Kategori Best Costume Design
Dari Sunyi ke Jernih di Hari Nyepi: Bisakah Kita Melepaskan Sebelum Memulai Lagi?

Dari Sunyi ke Jernih di Hari Nyepi: Bisakah Kita Melepaskan Sebelum Memulai Lagi?

Siklus Nyepi mencerminkan proses emosional kita sebagai perempuan yang terus bertumbuh. Kita membersihkan, melepaskan, berdiam, lalu kembali—dengan cara yang lebih lembut, lebih sadar.

Dalam lanskap budaya Bali, Nyepi tidak hadir sebagai satu hari yang berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari rangkaian yang utuh. Dimulai dari riuhnya pawai Ogoh-ogoh, berlanjut pada keheningan total saat Nyepi, lalu perlahan kembali terhubung melalui Ngembak Geni. Sebuah siklus yang, jika direnungkan, terasa begitu dekat dengan pengalaman batin kita sebagai manusia.

Kita juga punya siklus: riuh, hening, lalu kembali utuh.

Di tengah kehidupan modern yang cenderung linear dan produktif tanpa jeda, Nyepi menawarkan perspektif lain: bahwa hidup tidak selalu bergerak maju dengan intensitas yang sama. Ada saatnya kita perlu melepaskan, berhenti, lalu memulai kembali dengan kesadaran yang lebih jernih.

Advertisement

Dari Membersihkan hingga Melepaskan: Menghadapi yang Perlu Dilepaskan

Siklus Nyepi dimulai dari Melasti, sebuah ritual pembersihan diri yang dilakukan di tepi laut. Ia bukan sekadar simbol, tetapi pengingat bahwa sebelum melangkah ke fase baru, ada hal-hal yang perlu kita bersihkan—emosi yang tertahan, kelelahan yang diabaikan, atau beban yang terlalu lama kita simpan.

Setelah itu, hadir Tawur Kesanga dan Pengerupukan, yang ditandai dengan pawai Ogoh-ogoh, representasi energi negatif yang kemudian dibakar. Di sini, ada filosofi tentang keberanian untuk mengakui sisi gelap dalam diri, lalu melepaskannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, fase ini terasa familiar. Ada momen ketika kita menyadari bahwa tidak semua hal perlu dibawa terus. Bahwa melepaskan bukan berarti kehilangan, melainkan memberi ruang.

Hening sebagai Ruang, Kembali sebagai Kesadaran

Puncaknya adalah Nyepi, hari ketika seluruh aktivitas dihentikan melalui Catur Brata Penyepian: amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mencari hiburan). Dalam keheningan ini, kita tidak hanya berhenti dari dunia luar, tetapi juga dari dorongan untuk terus bereaksi.

Hening menjadi ruang untuk melihat dengan lebih jernih. Tanpa distraksi, tanpa kebisingan.

Dari sanalah, kita memasuki Ngembak Geni, momen kembali terhubung dengan orang lain. Namun, keterhubungan ini tidak lagi sama. Ia datang setelah jeda, setelah refleksi, setelah kita sempat kembali pada diri sendiri.

***

Menyambut Nyepi, yang bisa kita ambil bukan hanya ritualnya, tetapi ritmenya. Bahwa hidup tidak selalu tentang bergerak maju, tetapi juga tentang tahu kapan harus berhenti.

Di antara riuh yang kita jalani, kita pun bisa belajar mengikuti siklus ini—membersihkan yang tak lagi perlu, melepaskan yang membebani, memberi ruang bagi hening, dan kembali dengan hati yang lebih jernih.

Karena pada akhirnya, utuh bukan berarti tanpa riuh.
Utuh adalah ketika kita tahu bagaimana kembali.

Foto: IMDB/Hamnet (2025)

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
Film Frankenstein Memenangkan Oscar untuk Kategori Best Costume Design

Film Frankenstein Memenangkan Oscar untuk Kategori Best Costume Design

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.