Tips Tulus, Chitra Subiyakto, dan Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik untuk Mengurangi Sampah Plastik
Tulus, Chitra Subiyakto, dan Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik membagikan tips untuk memulai langkah nyata mengurangi sampah plastik
20 Aug 2019


Direktur Pameran "Karya Kita" Felix Tjahyadi dan para panelis talk show "Laut Kita" lainnya, Tulus, Tiza Mafira, dan Chitra Subiyakto.


Aksi nyata menjadi kunci kampanye pelestarian lingkungan, terutama dalam hal pengurangan sampah plastik. Jika dipikir-pikir memang terasa sulit melakukan kegiatan untuk mengurangi sampah plastik. Namun, hal itu bisa dimulai melalui hal-hal kecil.
 
Pegiat lingkungan sekaligus desainer brand Sejauh Mata Memandang, Chitra Subiyakto menceritakan pengalamannya dalam hal mengajak orang lain terlibat dalam pelestarian lingkungan. “Orang itu kan kalo diceramahin malah sebel ya, makanya hal ini bisa kita lakukan dengan memberikan contoh-contoh kecil,” kata Chitra dalam talkshow “Laut Kita” dalam rangkaian Karya Kita” oleh Taco di Senayan City, 19 Agustus 2019.
 
Ia mencontohkan hal-hal yang ia biasa lakukan sesederhana dengan menanyakan apakah air mineral yang disediakan restoran dalam kemasan botol plastik atau botol kaca. “Kalau ternyata dalam botol plastik, ya sudah saya pilih es teh saja. Dan itu pun yang spesifik, es teh tidak pakai sedotan,” jelasnya lagi.
 
Dengan begitu Chitra percaya orang-orang terdekat akan lebih mau ikut melestarikan lingkungan dengan mengurangi penggunaan sampah plastik. Hal ini juga diamini oleh Tulus yang pelan-pelan mulai membiasakan orang-orang di sekitarnya untuk mengurangi sampah plastik.
 
“Saya punya tiga lingkungan; lingkungan privat dengan keluarga dan teman-teman dekat, lingkungan profesional, dan karena saya seorang penyanyi yang karyanya dirilis ke publik, tentunya saya mempunyai lingkungan dengan publik yang lebih luas, dan saya mencoba menyebarkannya di tiga lingkup itu,” kata Tulus pada kesempatan yang sama.
 
Tulus menyatakan, di lingkungan privat keluarganya sudah sebisa mungkin tidak lagi menggunakan kemasan sekali pakai dalam berkegiatan. Begitu pula di lingkup profesional ia pun menerapkannya dengan mengurangi konsumsi air mineral dalam kemasan plastik sekali pakai. “Sebagai gantinya saya minta disediakan galon dan dispenser untuk kemudian tim produksi saya meminum dengan gelas atau botol minum yang dibawa masing-masing,” lanjut Tulus.
 
Pesan tentang pengurangan sampah lingkungan itu juga disampaikan Tulus kepada publiknya yang lebih luas. “Apa saja sih yang bisa saya lakukan, pasti saya lakukan,” katanya.
 
Sementara itu, Direktur & Koordinator Working Group Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik Tiza Magfira memberikan sedikit tips tentang daur ulang sampah plastik. Menurutnya yang bisa dilakukan masyarakat umum saat hendak mendaur ulang sampah plastik itu adalah dengan mencuci terlebih dulu kemasan-kemasan plastik sekali pakai, terutama yang sudah digunakan sebagai tempat makanan.
 
Ia menjelaskan, sampah plastik yang kotor tidak akan bisa didaur ulang. Sebab, mencuci sampah-sampah plastik membutuhkan biaya tambahan bagi para pengolah sampah. “Itulah sebabnya hanya sekitar 10% sampah plastik yang bisa didaur ulang,” tutup Tiza. (Teks & Foto: SIR)
 
 

 


Topic

sustainable lifestyle

Author

DEWI INDONESIA