Belajar Seni Kegagalan A la CEO Artotel, Erastus Radjimin
Pepatah Jepang mengatakan, jatuh tujuh kali untuk bangkit delapan kali. Erastus Radjimin menerima kegagalan dengan tangan terbuka sebagai tantangan yang mendorongnya menemukan peluang dan makna baru.
23 Nov 2020




“I want to be the dumbest leader in my office,” begitu Erastus Radjimin, Founder dan CEO Artotel berkata. Pernyataannya memang berkonotasi negatif jika didengar sepotong saja. Tapi kalimat itu punya maksud tertentu. Ia memilih dikelilingi oleh para profesional yang paham betul apa yang mereka kerjakan, termasuk dalam kategori orang-orang terbaik, terpandai, terlogis, berpengalaman, dan punya dedikasi tinggi.

Keterlibatannya dengan dunia perhotelan karena ketidaksengajaan. Kendati sang ayah, R.J. Radjimin adalah pemilik hotel J.W. Marriott Surabaya, ia tidak pernah bercita-cita untuk bekerja atau malah memiliki hotel sendiri.

“Kebetulan waktu kuliah dapat tawaran magang kerja di hotel di Hawaii. Dengan alasan ingin tinggal gratis di Hawaii selama tiga bulan, saya berangkat dan kemudian jadi jatuh cinta,” ujar pria yang akrab dipanggil Eri.

Tapi ia tak memungkiri, terpapar dengan dunia ini sejak kecil sedikit banyak meninggalkan bekas tertentu. “Saat saya kecil hotel itu masih dibangun, jadi saya sering ke proyek, ikut meeting. Mungkin secara tidak langsung terhipnotis dan terinspirasi,” ujar pria kelahiran 1986 ini.

 


Setelah akhirnya masuk dalam dunia perhotelan, Eri merasa dengan mudah dapat beradaptasi. Kepribadiannya yang senang bertemu dan berkomunikasi dengan berbagai tipe manusia menjadi amunisi yang ia gunakan sebaik-baiknya. Kariernya pun menanjak di dunia perhotelan dan turisme dari London, Singapura, sampai Jakarta. Hingga ia kemudian, pada 2010, bersama sang kakak Christine Radjimin, memutuskan untuk mendirikan perusahaan sendiri, Artotel.

Menjalani karier yang terus meluas, Eri punya taktik tersendiri. “Harus selalu merasa gagal, tidak boleh merasa sukses, itu paling bahaya,” katanya. Lagipula, sukses adalah seluruh perjalanannya, bukan satu titik tujuan. Rangkullah kegagalan itu sehingga bisa menjadi pemicu untuk hari esok. Tidak perlu stres berkepanjangan karena gagal sedikit.

Ia mengibaratkan dirinya sebagai pemimpin perusahaan adalah gerbong terdepan dalam rangkaian kereta. “Jadi tidak boleh stop, kalau stop, semua gerbong akan berhenti. Kalau gagal hari ini, ya besok dan lusa jangan gagal lagi. (NTF) Foto: Adiansa Rachman, Dok. Artotel


 

 

 

Author

DEWI INDONESIA