Langkah Mesty Ariotedjo Dalam Memperjuangkan Fasilitas Kesehatan Yang Merata
Melalui WeCare.id yang ia dirikan, Mesty Ariotedjo ingin membantu memastikan setiap warga memiliki jaminan kesehatan
23 Nov 2020




Ketidakmerataan akses, sistem, fasilitas, dan tenaga kesehatan di Indonesia sudah jadi masalah lama. Bappenas mencatat, kesehatan penduduk dengan tingkat sosial ekonomi tinggi, di kawasan barat Indonesia dan di kawasan perkotaan, cenderung lebih baik. Sebaliknya, status kesehatan penduduk dengan sosial ekonomi rendah, di kawasan timur Indonesia dan di daerah perdesaan masih tertinggal.

Mesty Ariotedjo Juanda merasakan betul bagaimana keterbatasan fasilitas kesehatan di wilayah timur Indonesia sewaktu magang di kota Ruteng, Nusa Tenggara Timur. Delapan tahun lalu, tempatnya bekerja merupakan satu-satunya rumah sakit yang tersedia di tiga kabupaten. Memang, hampir semua warga memiliki jaminan kesehatan namun fasilitas kesehatannya tidak memadai. Banyak pasien yang pada akhirnya
harus dirujuk ke rumah sakit besar di Jawa ataupun Bali.

“Sudah dirujuk pun, mereka masih tidak berdaya karena tak punya biaya. Bahkan untuk pasien dengan penyakit parah, mereka hanya bisa pasrah kehilangan nyawa,” kata dokter spesialis anak kelahiran 1989 ini.

Mesty terpanggil. Bersama rekannya, ia mendirikan WeCare.id sebagai platform crowdfunding yang fokus untuk membantu biaya pengobatan masyarakat kurang mampu. Tahun 2015, WeCare.id mulai bergerak dengan membantu satu sampai tiga pasien saja. Hingga saat ini, jumlah pasien yang terbantu mencapai lebih dari 2.000 pasien.

“Setiap masyarakat berhak atas fasilitas kesehatan yang baik dan merata. Seperti yang kita ketahui, banyak masyarakat Indonesia di desa-desa yang belum bisa mendapat pelayanan kesehatan yang optimal,” ungkapnya.

WeCare.id berisi orang-orang profesional yang turun langsung ke lapangan untuk memonitor dan mengawasi program bantuan. Mulai dari pengolahan dana, pendistribusian kebutuhan kesehatan, dan
mengevaluasi setiap pasien agar bantuan bisa sampai tepat sasaran.

"Di dunia ini, setiap orang punya perannya masing-masing. Saya bersyukur terlahir dari keluarga mampu. Tapi pada akhirnya, saya sendirilah yang memilih, seorang Mesty ingin jadi pribadi yang seperti apa,” ia menerangkan. Mesty memegang kutipan dari Mother Teresa, If you can not feed everyone, feed just one.

“Kita bisa membantu orang itu dari lingkungan terdekat dahulu, tidak perlu langsung ke lingkup yang besar, sekecil apapun kita membantu orang lain pasti Tuhan kasih jalan untuk kita membantu lebih banyak lagi,” ungkapnya.

Sekecil memberikan edukasi pada masyarakat. Kebetulan saat pandemi, ia tidak berpraktik di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo dan memutuskan tinggal di rumah.

“Melalui media sosial, saya masih bisa berbagi informasi tentang kesehatan, khususnya kesehatan anak. Saya melihat informasi kesehatan yang ada di media sosial saat ini banyak yang kurang tepat. Jadi, saya memberikan informasi dari narasumber yang kredibel dan mudah diakses,” ungkapnya. (WHY) Foto: Hakim Satriyo.

 

 

Author

DEWI INDONESIA