Perjalanan Eva Celia Merancang Warisannya Sendiri
Terlihar sebagai putri dari dua nama besar di Indonesia, Eva Celia sempat merasa mesti harus membuktikan banyak hal.
11 Dec 2020




Eva Celia tidak terlahir sebagai orang biasa-biasa. Ia adalah putri dari dua nama besar di Indonesia Raya.

Sang Ibu adalah, Sophia Latjuba, aktris dan mantan model yang hingga hari ini masih memukau begitu banyak orang. Sementara ayahnya adalah Indra Lesmana, salah satu musisi jaz kenamaan Indonesia. Menjadi putri tunggal dari dua orang dengan nama cemerlang tentu menempatkannya dalam posisi yang tricky.

Di satu sisi, ekspektasi tertentu dari lingkungan sekitarnya adalah sebuah keniscayaan. Begitu pula akan selalu ada orang yang meragukan potensi seorang Eva yang sebenar-benarnya. Posisi yang sempat membuatnya merasa mesti terus membuktikan banyak hal.

“Teman-teman terdekat saya tahulah betapa saya dulu sangat driven by pembuktian,” akunya. Padahal ekspektasinya tidak datang langsung dari orangtuanya. Tentu ada nama baik mereka yang ingin dijaga Eva. Tapi, “Pressure-nya memang datang dari lingkungan dan dari diri saya sendiri,” katanya.

Hari ini, tekanan-tekanan itu sudah lebih bisa ia atasi. Namun, tak bisa dimungkiri, hidup sebegitu lama dengan keraguan semacam itu tentu meninggalkan bekas. “Ada kayak in the back of my mind yang mengingatkan saya untuk selalu perform,” ujarnya.

Tekanan internal itu yang menurutnya sering kali membuat ia kesulitan menyelesaikan apa yang ia mulai. “Karena if it’s not good enough, I’m not gonna put it out. Atau, what will people say if it’s not good enough?”

Hal-hal semacam itu yang kemudian kerap menuntunnya kepada lingkar kegelisahan. Ditambah dengan keberadaan media sosial yang menjadi etalase sukses semua orang. Eva tidak hanya mencoba menjadi versi terbaik dirinya, tetapi juga lantas membandingkan apa-apa yang ia capai dengan orang lain.

Namun, pada akhirnya ia menyadari bahwa kini ia sudah tidak perlu membuktikan apapun kepada siapapun. Ia tahu apa yang mampu ia lakukan, dan ia tahu bahwa ia tak akan pernah menjadi ibu ataupun ayahnya. “I love them, and I respect them very much. But I want to create my own legacy.

Warisan yang ia maksud tidak selalu mewujud sebagai produk. Bisa pula ia hadir dalam rupa nilai dan proses hidup serta kreasinya. Terutama di usianya yang menginjak penghujung 20-an.

“Saya rasa sekarang saya sudah cukup dewasa untuk merancang sendiri warisan macam apa yang akan saya tinggalkan.”

Maka di situlah kini fokusnya berada; untuk bekerja semampumampunya demi mencapai makna sukses untuknya sendiri. Bukan orang lain. (Shuliya Ratanavara) Foto: Hendra Kusuma.


 
 

 

Author

DEWI INDONESIA