Perjalanan Personal Nina Nikicio
Kesehatan adalah hal yang menyeluruh. Ia bukan sekadar urusan fisik, tetapi juga mental. Itulah mengapa kesehatan yang kafah selalu berangkat dari kesadaran akan kebutuhan diri.
16 Jul 2020




Kesehatan adalah hal yang personal. Tidak bisa distandardisasi. Semua serba disesuaikan dengan masing-masing. Tak jarang, jalan menuju hal itu berujung jadi sebuah perjalanan personal nan spiritual sebagaimana yang dialami Nina Nikicio.

 
Sampai dua tahun yang lalu, wellness dan fitness bukan dua hal yang akan dikaitkan dengan sosok Nina Nikicio. Gaya hidupnya sampai saat itu begitu jauh dari standar hidup sehat. Tak usah soal nutrisi, pola makanannya amat berantakan. Menu sarapannya tak jauh dari mi instan, menu sarapan McDonald, atau martabak manis sisa malam sebelumnya. Tapi kemudian hidup membawanya ke satu titik tolak baru. “Everything seems to happen in the right time,” tutur Nina lewat panggilan video. Tak ada yang berubah dari penampilan Nina, rambut hitam panjangnya masih ia biarkan terurai. Pilihan pakaiannya masih santai. Hanya parasnya nampak lebih bercahaya, nada suaranya ringan.
 
Bagi orang yang menyaksikan proses Nina sampai ke titik balik itu mungkin punya pendapat sebaliknya. Ia sendiri pun mengakui ketika semua masalah menimpanya secara bertubi-tubi ia hanya bisa mencoba mengatasinya satu per satu. Mulai dari masalah personalnya di rumah yang kemudian berujung pada keputusan di ranah profesional untuk mengambil jeda dari brand garapannya, Nikicio. Seiring waktu ia merasakan bagaimana seluruh permasalahan yang ia hadapi itu mempengaruhi kesehatan mental dan fisiknya, “I got really sick, tapi enggak tahu kenapa,” katanya. Ia merasa jauh dari dirinya sendiri. Lemas, cemas, dan lelah. Ia akhirnya memutuskan untuk mulai mengatasinya.
 
Dimulai dengan membenahi masalah di ranah personalnya lewat konsultasi dan terapi. Di saat yang bersamaan ia juga menjajal kebiasaan baru, yaitu olahraga. Pilates jadi pilihan. “Itu pertama kalinya saya olahraga seumur hidup hahahaha,” ujar perempuan kelahiran Jakarta ini. Perubahan itu pastinya tidak terjadi dalam semalam. Namun perlahan tapi pasti Nina merasa semua kecemasan dan rasa lelah yang ia rasakan berkurang sedikit demi sedikit. Desainer yang kini tengah merintis WIF, sebuah unit bisnis di bidang supply chain ini bercerita, dari proses itu ia menemukan bagaimana kesehatan fisik dan kesehatan mental saling berkait demi mencapai state of wellness. “Benar-benar harus keduanya connect. Bahkan di sains dan ilmu nutrisi pun dijelaskan,” sambungnya. Makanan yang kita konsumsi misalnya dapat membantu kita meningkatkan fungsi otak, sehingga membuat kita konsentrasi lebih baik. Dengan konsentrasi yang baik, maka kita akan lebih bisa menganalisa masalah lebih baik.
 
Begitu pula olahraga, kami setuju olahraga bisa menjadi hal yang meditatif. Dalam artian, olahraga bisa membantu kita fokus. “It’s part of my healing process. Karena habis pilates itu aku jadi konsentrasi dan bisa assessing apa yang terjadi dalam satu hari. Jadi seperti melatih lagi self-awareness,” tutur Nina. Bagi perempuan yang satu ini, konsentrasi adalah elemen penting dari pilates. Ritmenya yang lambat membuat mereka yang melakukan pilates dituntut untuk terus fokus dan benar-benar berkonsentrasi dalam menggerakkan otot-otot.
 
Setelah beberapa waktu ia mengolah kembali fisiknya yang lama terabaikan, ia pun mulai mempraktikkan gaya hidup sehat dengan lebih serius, yaitu dengan mengonsumsi makanan yang lebih sehat. Ia memulainya dengan secara rutin mengonsumsi salad di pagi hari. Nina memang selalu menyukai cita rasa salad. Namun, pekerjaan yang padat sebagai desainer sebelumnya tidak memungkinkannya untuk membuat salad sendiri di pagi hari. Maka ketika ia memutuskan untuk berhenti dari Nikicio, ia pun mulai merapikan rutinitas sarapannya dengan konsisten membuat salad sendiri. “Nah terus seiring dengan itu, saya jadi kepengin tahu ini nutrisinya bener enggak, ya. Terus juga banyak followers [Instagram] yang tanya, ‘memang kenyang makan salad doang?’ Ya kenyang sih, cuma enggak tahu gimana caranya,” katanya. Maka ia kemudian mengambil kursus daring singkat tentang nutrisi di Stanford selama tiga bulan. Dari kursus itu, Nina ternyata tidak hanya mendapatkan ilmu dan penjelasan seputar nutrisi, tetapi juga perspektif baru tentang kesehatan dan wellness.

“Kesehatan itu sebetulnya act of maintenance. It has to be chosen by you,” katanya. Kesehatan adalah komitmen sadar yang dibuat oleh seseorang. Ia bukan sekadar banyak makan sayur dan mengurangi makan daging merah. Bukan pula tentang diet ketat dan olahraga intens. Akan tetapi kembali lagi tentang mengenali diri agar bisa memahami apa yang dibutuhkan oleh tubuh dan bagaimana cara memenuhi kebutuhan itu tanpa malah membuat stres. Bagi Nina misalnya, hal itu tidak dia lakukan dengan diet ketat. “Kalau diet ketat, justru aku jadi stres dan akan rebel,” aku Nina. Maka yang ia lakukan adalah dengan mempraktikkan aturan dasar konsumsi nutrisi, yaitu mengonsumsi banyak sayur dengan protein serta lemak sehat. Tentunya hal ini bisa divariasikan dan diolah sesuai kebutuhan agar tetap menyehatkan, mengenyangkan, dan—yang juga tak kalah penting—memuaskan.

 
 
 
 

Asupan nutrisi yang lebih baik ternyata tak hanya bermanfaat untuk dirinya, tetapi juga bagi kedua anaknya. Nina menceritakan bagaimana efeknya terhadap sang putra yang berada dalam spektrum autisme. “Dia enggak bisa berkomunikasi dengan baik. Tapi kemudian setelah saya belajar nutrisi dan mempraktikkannya di rumah, saya jadi melihat ternyata dia tuh selama ini butuh makanan yang lebih di-tailored saja,” jelas perempuan yang sekarang beralih profesi menjadi VP Marketing di perusahaan rintisan barunya.
Mendengar bagaimana Nina juga menerapkan asupan nutrisi yang baik dan berimbang kepada kedua anaknya, mungkin akan membuat banyak orangtua bertanya, “How?” Jawaban Nina adalah dengan secara konsisten memperlihatkan ke anak-anak bahwa kita juga makan hal yang sama seperti mereka makan dan juga menikmatinya. “Karena anak-anak itu pada dasarnya monkey see monkey do. Kalau mereka melihat mamanya nyemil aur-auran, ya mereka juga pasti ikut. Enggak peduli mau kita kasih tahu kayak gimana pun. Jadi ketika anakmu enggak doyan sayur, coba tanya dirimu juga doyan sayur enggak? Karena kita mesti kasih lihat ke mereka secara konsisten kebiasaan makanan yang sama.”
 
Bagi banyak orang, wellness dipahami dalam bentuk-bentuknya yang terlihat. Lewat foto-foto salad nan cantik dan pose-pose olahraga. “Saya rasa orang cenderung melihatnya seperti itu karena itu yang paling mudah. Kita melihat refleksi di cermin dan kemudian mempersepsikan wellness dari yang kita lihat. Tapi kan sebenarnya wellness juga tentang yang tak terlihat,” kata Nina tegas. Salah satu yang paling pasti adalah kesehatan mental. Pengalaman menunjukkan langsung kepadanya, bagaimana kesehatan mental berpengaruh langsung ke kesehatan fisik. Ia pun bercerita bagaimana ia sering melihat orang yang fit secara fisik. “Badannya bagus banget, makannya juga sehat. Tapi enggak bisa tidur, cemas juga, and put a lot of pressure on themselves. Saya pikir di situlah posisi kesehatan mental yang kita bicarakan. Maka dari itu, wellness adalah bagaimana kita menyeimbangkan keduanya. Enggak hanya fisik atau enggak hanya mental. Tapi dua-duanya.“

 
 
 


Dalam kasusnya, ia menjaga kesehatan mental dengan berlatih meditasi 15 menit dalam sehari. “Saya mencoba lebih lama, tapi belum bisa hahaha. Susah banget. Kadang-kadang bahkan cuma 5 menit. Tapi enggak apa-apa, yang penting latihan,” katanya. Prosesnya dalam memperbaiki gaya hidup memang mengajarkan ia untuk tidak ngoyo. Semua ia mulai sedikit demi sedikit, pelan tapi pasti. Seperti Pilates yang ia mulai seminggu sekali hingga akhirnya jadi setiap hari. Atau dengan inisiatif mulai makan sehat dengan membuat sarapan salad setiap hari hingga akhirnya mendalami ilmu nutrisi.

Yang jelas, latihan kecilnya bermeditasi punya dampak yang cukup signifikan dalam hal menyeimbangkan kesehatan dirinya secara utuh. “Pertama, [meditasi] membantu saya mengontrol emosi dengan lebih baik. Misalnya ketika marah, saya jadi bisa berhenti dulu untuk mencari tahu alasan saya marah. Jadi saya enggak begitu saja melampiaskannya ke anak-anak atau ke diri sendiri.” Meditasi memang bermanfaat untuk melatih self-awareness. Dan lewat kesadaran diri itu, Nina mengaku bisa jadi mengenali dan memahami siapa dirinya. “Simple things, misalnya kenapa hal-hal tertentu mengganggu saya. Oh ya, mungkin ini karena trauma masa kecil yang belum selesai dan kemudian jadi sadar apa traumanya. Itu bisa kebuka. Akhirnya, saya bisa jadi bisa memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri.”
 
Toh ia tidak merasa prosesnya sudah selesai. “Tapi saya bisa bilang saya mencoba untuk jadi lebih baik dari hari ke hari. I’m living my life to the fullest now. Saya lebih tidak khawatir dengan hal-hal yang terjadi esok hari. Di saat yang bersamaan saya pun masih punya kecenderungan jahat dan keras ke diri sendiri. Dan buat saya, mengakui hal itu adalah bagian dari proses dalam menyadari dan menyembuhkan diri,” katanya.
 
Sementara waktu, sembari terus berlatih Nina kini aktif menyebarkan awareness tentang gaya hidup sehat lewat akun Instagramnya. Tentu ia tak berharap semua orang langsung mengadaptasi gaya hidupnya. Sebab ia, among all people, sadar betul panggilan itu harus datang dari diri tiap-tiap individu. “Saya hanya bisa menunjukkan bagaimana hal tersebut turut andil memperbaiki hidup saya dan beraharap orang terinspirasi lalu ikut serta. Tapi kalau tidak, ya saya tidak bisa memaksakannya hahaha.”
 
Sampai dua tahun yang lalu, wellness dan fitness mungkin tak terlintas di benak Nina Nikicio. Tapi kini kedua hal itu menjadi bagian yang signifikan dalam hidupnya. Bukan sekadar sebagai gaya hidup, tetapi pilihan sadar act of maintenance untuk menjalani hidup dengan lebih baik. Dan perjalanan personalnya menuju state of wellness membawanya ke alam mental yang lebih baik. Masih jauh dari contenment memang, but still a good place. (Shuliya Ratanavara) Foto: Dok. Pribadi.


 

 


Topic

Profil

Author

DEWI INDONESIA