Sarita Ibnoe: Batas dan Rwa Bhineda di Art Jakarta Gardens 2026

Apa yang tersisa dari sebuah perjalanan? Bagi Sarita Ibnoe, jawabannya bisa hadir dalam segenggam tanah, anyaman kain, dan proses yang terus diulang
Dalam performans ini, Sarita Ibnoe melebur seluruh tanah yang ia kumpulkan. Asal-usul geografisnya dilebur menjadi satu tubuh baru

Art Jakarta Gardens kembali hadir tahun ini di Hutan Kota by Plataran. Selain menghadirkan ragam karya rupa, pameran seni terbuka ini juga menghidupkan kembali program publik yang beragam; mulai dari musik, performance art, hingga sesi diskusi yang terbuka untuk pengunjung.

Salah satu penampil yang hadir di gelaran tahun ini adalah Sarita Ibnoe, yang dalam praktik seninya kerap menggunakan material yang dekat dengan kerja tangan seperti kain, benang, tali, tanah, hingga anyaman. Material-material ini bukan sekadar medium, tetapi bagian dari cara ia memahami hubungan antara manusia, ruang, dan ingatan.

Di Art Jakarta Gardens 2026, karya-karya Sarita Ibnoe membawa percakapan yang lebih personal. Oleh sebab itu, ia mengangkat tema tentang perjalanan, batas, dan cara manusia menemukan titik temu di tengah perbedaan. Bersama YIRI Arts, Sarita menampilkan performans Bertemu di Tengah (2025 – 2026) sekaligus memamerkan seri karya Repetition of Experiments. Kedua proyek tersebut berangkat dari pengalaman tubuh, pergerakan, dan proses berulang dalam keseharian.

Advertisement

Bertemu di Tengah: Eksplorasi Tanah di Art Jakarta Gardens

Performans ini menjadi cara ‘traveling backwards’—menyusuri perjalanan bukan lewat paspor atau cap imigrasi, melainkan melalui fragmen tanah dari berbagai tempat.

Performans ini menjadi cara ‘traveling backwards’ dengan menyusuri perjalanan bukan lewat paspor atau cap imigrasi, melainkan melalui fragmen tanah dari bebagai tempat.

Proyek Bertemu di Tengah bermula dari kebiasaan Sarita Ibnoe mengumpulkan tanah dan pasir dari berbagai tempat di dunia, sebagian besar dibawakan oleh teman-temannya dari perjalanan mereka. Setiap genggam tanah menyimpan jejak lokasi, perpindahan, dan pengalaman yang berbeda.

Pada awalnya, praktik ini menjadi cara personal bagi sang seniman untuk bernostalgia. Dirinya menelusuri perjalanan bukan melalui paspor atau dokumen, tetapi lewat serpihan tanah. Narasi di baliknya merekam pengalaman tentang keterbatasan mobilitas dan rasa frustasi terhadap batas – batas perjalanan yang sering kali terasa tidak setara.

Eksplorasi narasi tanah ini kemudian berkembang menjadi sebuah pameran seni kontemporer yang mendalam. Melalui agenda Art Jakarta Gardens 2026 Jakarta bertajuk “Bertemu di Tengah”, Sarita Ibnoe menyuguhkan karya instalasi seni yang menantang batas-batas geopolitik dan mobilitas manusia.

Bagi para pencinta art exhibition Jakarta yang mencari makna lebih dari sekadar estetika visual, karya ini menawarkan ruang refleksi tentang bagaimana sebuah materi alam mampu merekam memori kolektif dan kritik sosial. Konsep ‘traveling backwards‘ yang diangkat tidak hanya menjadi manifestasi seni rupa, tetapi juga sebuah dialog terbuka mengenai isu kesetaraan dan kebebasan bergerak di era modern.

Menariknya, Sarita Ibnoe juga mengungkapkan bahwa karya ini menemukan konteks baru saat pandemi melanda. Ketika itu, pergerakan manusia nyaris berhenti total.

“Saat itu semua orang seperti mengalami imobilitas bersama,” ungkapnya. Dunia memang terpisah oleh batas, tetapi pada saat yang sama juga mengalami kerentanan yang serupa.

Simbolisme Batas Lewat Praktik Kriya dan Tekstil Tenun

Dalam performans ini, Sarita menyaring tanah dari berbagai tempat melalui tekstil tenun dan menyimpannya dalam wadah keramik buatannya sendiri sebagai refleksi tentang batas dan pergerakan manusia.

Aksi seni ini diwujudkan dengan menyaring tanah dari berbagai tempat melalui tekstil tenun. Medium ini kemudian disimpan dalam wadah keramik buatan sendiri sebagai refleksi tentang batas dan pergerakan manusia.

Selama proses berlangsung, seluruh tanah yang dikumpulkan kemudian disatukan. Sarita Ibnoe menyaringnya melalui tekstil tenun yang dibuat sendiri. Langkah tersebut menjadi simbol tentang batas, sistem, dan pergerakan manusia yang terus dinegosiasikan.

Hasil akhirnya kemudian ditempatkan dalam wadah keramik yang juga ia buat sendiri. Proses ini menghubungkan performans dengan praktik kriya dan material yang selama ini dekat dengan kesehariannya.

Repetition of Experiments: Filosofi Rwa Bhineda di Art Exhibition Jakarta

Karya seni rupanya yang bertajuk Repetition of Experiments juga hadir di Art Jakarta Gardens kali ini, yang mengeksplorasi filosofi Bali Ruwabineda tentang keseimbangan dua hal yang berlawanan.

Karya seni rupanya yang bertajuk Repetition of Experiments juga hadir di Art Jakarta Gardens kali ini, mengeksplorasi filosofi Bali tentang keseimbangan dua hal yang berlawanan namun mampu bekerja bersama secara harmonis yaitu, Rwa Bhineda, karya yang merupakan kumpulan 20 karya kecil yang dibuat setelah ia menyelesaikan tiga karya besar sebelumnya.

“Material yang kupakai ada yang terkesan ‘feminin’ seperti benang, tali, dan kain. Ada juga material yang terasa ‘maskulin’ seperti kayu dan kawat,” jelas Sarita Ibnoe. Kontras material itu menjadi cara Sarita menerjemahkan gagasan keseimbangan dalam bentuk visual.

Ide repetisi sendiri muncul dari proses menenun. Menurutnya, aktivitas tersebut sangat dekat dengan tindakan berulang. “Menenun itu repetitive action. Jadi, dua puluh karya ini seperti repetisi eksperimen,” katanya.

Bagi Sarita, proses ini juga terasa intuitif sekaligus terapeutik. Alhasil, setiap karya dibuat mengikuti respons tubuh dan insting pada saat itu sehingga tidak ada bentuk karya yang benar-benar sama.

Pendekatan kreatif ini juga dipengaruhi oleh pengalamannya mengajar seni kepada anak-anak di Bali. Oleh karena itu, demi menyesuaikan rentang perhatian anak-anak yang cenderung lebih singkat, ia mulai membuat karya dalam skala lebih kecil agar lebih dekat dan mudah dipahami.

Sarita Ibnoe tidak hanya membicarakan perjalanan secara fisik. Namun, ia juga membisikkan perjalanan emosional tentang bagaimana manusia hidup di antara berbagai batas. Ini adalah potret tentang perbedaan, serta usaha manusia untuk terus terhubung satu sama lain.

***

Melalui karya-karyanya di Art Jakarta Gardens 2026, Sarita Ibnoe tidak hanya membicarakan perjalanan secara fisik. Ia juga membisikkan perjalanan emosional tentang bagaimana manusia hidup di antara berbagai batas. Ini adalah potret tentang perbedaan, serta usaha manusia untuk terus terhubung satu sama lain.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
Frank & co. Merayakan Tiga Dekade Cinta Sejati melalui Pengalaman Imersif Sarat Sejarah

Frank & co. Merayakan Tiga Dekade Cinta Sejati melalui Pengalaman Imersif Sarat Sejarah

Next Post
Inspirasi Wastra dalam Arsitektur Crowne Plaza Labuan Bajo 

Inspirasi Wastra dalam Arsitektur Crowne Plaza Labuan Bajo 

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.