Merayakan Lima Indra: Ritual Rasa dan Raga dalam Kolaborasi JUARA dan House of Tugu
Sarita Ibnoe: tentang Perjalanan, Batas, dan Rwa Bhineda di Art Jakarta Gardens 2026

Sarita Ibnoe: tentang Perjalanan, Batas, dan Rwa Bhineda di Art Jakarta Gardens 2026

Apa yang tersisa dari sebuah perjalanan? Bagi Sarita Ibnoe, jawabannya bisa hadir dalam segenggam tanah, anyaman kain, dan proses yang terus diulang
Dalam performans ini, Sarita Ibnoe melebur seluruh tanah yang ia kumpulkan. Asal-usul geografisnya dilebur menjadi satu tubuh baru

Art Jakarta Gardens kembali hadir tahun ini di Hutan Kota by Plataran. Selain menghadirkan ragam karya rupa, pameran seni terbuka ini juga menghidupkan kembali program publik yang beragam; mulai dari musik, performance art, hingga sesi diskusi yang terbuka untuk pengunjung. Salah satu penampil yang hadir di gelaran tahun ini adalah Sarita Ibnoe, yang dalam praktik seninya kerap menggunakan material yang dekat dengan kerja tangan seperti kain, benang, tali, tanah, hingga anyaman. Material-material ini bukan sekadar medium, tetapi bagian dari cara ia memahami hubungan antara manusia, ruang, dan ingatan.

Di Art Jakarta Gardens 2026, karya-karya Sarita Ibnoe membawa percakapan yang lebih personal tentang perjalanan, batas, dan bagaimana manusia mencoba menemukan titik temu di tengah berbagai perbedaan. Bersama YIRI Arts, Sarita menampilkan performans Bertemu di Tengah (2015–2026) sekaligus seri karya Repetition of Experiments, yang sama-sama berangkat dari pengalaman tubuh, pergerakan, dan proses berulang dalam keseharian.

Bertemu di Tengah: Tanah sebagai Jejak Perjalanan

Performans ini menjadi cara ‘traveling backwards’—menyusuri perjalanan bukan lewat paspor atau cap imigrasi, melainkan melalui fragmen tanah dari berbagai tempat.

Bertemu di Tengah bermula dari kebiasaan Sarita mengumpulkan tanah dan pasir dari berbagai tempat di dunia, sebagian besar dibawakan oleh teman-temannya dari perjalanan mereka. Setiap genggam tanah menyimpan jejak lokasi, perpindahan, dan pengalaman yang berbeda.

Advertisement

Awalnya, praktik ini menjadi cara personal bagi Sarita untuk ‘traveling backwards‘, menelusuri perjalanan bukan melalui paspor atau dokumen, tetapi lewat serpihan tanah. Di baliknya, ada pengalaman tentang keterbatasan mobilitas dan rasa frustrasi terhadap batas-batas perjalanan yang sering kali terasa tidak setara.

Ia bercerita, katanya, ketika pandemi datang dan pergerakan manusia nyaris berhenti, karya ini menemukan konteks baru. “Saat itu semua orang seperti mengalami imobilitas bersama,” ungkapnya. Dunia memang terpisah oleh batas, tetapi pada saat yang sama juga mengalami kerentanan yang serupa.

Dalam performans ini, Sarita menyaring tanah dari berbagai tempat melalui tekstil tenun dan menyimpannya dalam wadah keramik buatannya sendiri sebagai refleksi tentang batas dan pergerakan manusia.

Dalam performans ini, seluruh tanah yang dikumpulkan kemudian disatukan dan disaring melalui tekstil tenun yang dibuat sendiri oleh Sarita. Proses menyaring itu menjadi simbol tentang batas, sistem, dan pergerakan manusia yang terus dinegosiasikan. Hasil akhirnya kemudian ditempatkan dalam wadah keramik yang juga ia buat sendiri, menghubungkan performans dengan praktik kriya dan material yang selama ini dekat dengan kesehariannya.

Repetition of Experiments dan Filosofi Rwa Bhineda

Karya seni rupanya yang bertajuk Repetition of Experiments juga hadir di Art Jakarta Gardens kali ini, yang mengeksplorasi filosofi Bali Ruwabineda tentang keseimbangan dua hal yang berlawanan.

Selain performans, Sarita juga menghadirkan seri Repetition of Experiments, kumpulan 20 karya kecil yang dibuat setelah ia menyelesaikan tiga karya besar sebelumnya. Seri ini berangkat dari filosofi Bali, Rwa Bhineda, yang berbicara tentang dua hal yang bertolak belakang namun bekerja bersama secara harmonis.

“Material yang kupakai ada yang terkesan ‘feminin’ seperti benang, tali, dan kain. Ada juga material yang terasa ‘maskulin’ seperti kayu dan kawat,” jelasnya. Kontras material itu menjadi cara Sarita menerjemahkan gagasan keseimbangan dalam bentuk visual.

Ide repetisi sendiri muncul dari proses menenun yang menurutnya sangat dekat dengan tindakan berulang. “Menenun itu repetitive action. Jadi dua puluh karya ini seperti repetisi eksperimen,” katanya.

Bagi Sarita, proses ini juga terasa intuitif sekaligus terapeutik. Setiap karya dibuat mengikuti respons tubuh dan insting pada saat itu, sehingga tidak ada bentuk yang benar-benar sama. Pengalaman mengajar seni kepada anak-anak di Bali juga memengaruhi pendekatannya. Ia mulai membuat karya dalam skala lebih kecil agar lebih dekat dan mudah dipahami, terutama bagi anak-anak yang cenderung memiliki rentang perhatian lebih singkat.

***

Melalui karya-karyanya di Art Jakarta Gardens 2026, Sarita tidak hanya membicarakan perjalanan secara fisik, tetapi juga perjalanan emosional tentang bagaimana manusia hidup di antara berbagai batas, perbedaan, dan usaha untuk terus terhubung satu sama lain.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
Merayakan Lima Indra: Ritual Rasa dan Raga dalam Kolaborasi JUARA dan House of Tugu

Merayakan Lima Indra: Ritual Rasa dan Raga dalam Kolaborasi JUARA dan House of Tugu

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.