Panorama Sinema Indonesia di Paris: 75 Tahun Diplomasi, Satu Layar Bersama

Sejarah tidak selalu ditulis dalam buku. Dalam Panorama du cinéma indonésien, sejarah Indonesia hidup lewat cahaya yang jatuh di layar perak.
Perwakilan Prancis dan Indonesia dalam satu bingkai, merayakan hubungan diplomatik kedua negara.

Dalam rangka memperingati 75 tahun terjalinnya hubungan diplomatik antara Prancis dan Indonesia, sebuah perayaan sinema digelar sebagai ruang temu kultural yang sarat makna. Retrospektif Panorama du cinéma indonésien menghadirkan rangkaian film langka dan bernilai arsip tinggi, membuka kembali bab bab penting dalam sejarah perfilman Indonesia.

Diselenggarakan dari Rabu, 10 Desember hingga Minggu, 21 Desember 2025, program ini menempatkan sinema bukan semata sebagai hiburan, melainkan sebagai medium ingatan kolektif yang merekam perubahan sosial, pergulatan identitas, serta keberanian artistik lintas generasi.

Didukung oleh Kedutaan Besar Prancis di Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, Institut Français d’Indonésie, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, serta Forum Lenteng, retrospektif ini menegaskan film sebagai instrumen diplomasi budaya yang halus namun berdampak. Seiring penutupan sementara Cinémathèque française hingga 2 Januari, seluruh pemutaran Panorama du cinéma indonésien berlangsung di mk2 Bibliothèque x Centre Pompidou, sebuah lokasi simbolis, tempat layar menjadi jembatan antara dua bangsa, dan sinema hadir sebagai bahasa bersama yang melampaui batas geografis, politik, dan generasi.

Advertisement

Kehadiran Sineas dan Ekosistem Sinema Indonesia

Pembukaan retrospektif pada 10 Desember 2025 akan dihadiri oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, bersama sejumlah figur penting perfilman Indonesia, antara lain Joko Anwar, Nia Dinata, Riri Riza, dan Aditya Ahmad, peraih residensi Festival Film Cannes 2024. Deretan aktor terkemuka seperti Christine Hakim, Asmara Abigail, hingga Ario Bayu selaku Presiden Festival Film Indonesia turut menegaskan momen ini sebagai perayaan utuh ekosistem sinema Indonesia di panggung internasional.

Daftar Film yang Diputar

Ragam film yang dipresentasikan mencerminkan spektrum luas sinema Indonesia, dari tonggak sejarah hingga karya kontemporer yang diakui dunia.

  • Leaf on a Pillow / Daun di Atas Bantal
    Disutradarai oleh Garin Nugroho
    Diperankan oleh Christine Hakim, Kancil, Sugeng, Heru
  • Turang
    Disutradarai oleh Bachtiar Siagian
    Diperankan oleh Nizmah Zaglulsyah, Omar Bach
  • The Narrow Bridge / Titian Serambut Dibelah Tujuh
    Disutradarai oleh Chaerul Umam
    Diperankan oleh El Manik, Dewi Irawan
  • Love for Share / Berbagi Suami
    Disutradarai oleh Nia Dinata
    Diperankan oleh Jajang C. Noer, Shanty
  • The Long March / Darah dan Doa
    Disutradarai oleh Usmar Ismail
    Diperankan oleh Del Juzar, Ella Bergen
  • Benyamin Biang Kerok
    Disutradarai oleh Nawi Ismail
    Diperankan oleh Benyamin Sueb, Ida Royani, Hamid Arief
  • 3 Days to Forever / 3 Hari untuk Selamanya
    Disutradarai oleh Riri Riza
    Diperankan oleh Nicholas Saputra, Tutie Kirana
  • Before, Now & Then
    Disutradarai oleh Kamila Andini
    Diperankan oleh Happy Salma, Rieke Diah Pitaloka
  • Satan’s Slaves / Pengabdi Setan
    Disutradarai oleh Joko Anwar
    Diperankan oleh Tara Basro, Bront Palarae, Asmara Abigail
  • Marlina, the Killer in Four Acts / Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak
    Disutradarai oleh Mouly Surya
    Diperankan oleh Marsha Timothy, Dea Panendra

Dialog Budaya yang Berkelanjutan

Sebagai bagian dari peringatan resmi 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia Prancis, retrospektif ini merefleksikan kerja sama budaya yang kian menguat, sejalan dengan Borobudur Declaration on a Joint Cultural Strategy yang diadopsi oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Emmanuel Macron. Dalam semangat Dialog Strategis Kebudayaan pertama di Paris, sinema ditegaskan sebagai sarana memahami masyarakat, merawat ingatan, dan mempererat relasi antarbangsa, sebuah tonggak penting bagi sirkulasi internasional warisan film Indonesia, sekaligus bab baru dalam dialog panjang antara Jakarta dan Paris.

Bukan sekadar menonton masa lalu, kita sedang menegosiasikan masa depan. Pertanyaannya, apakah kita cukup berani mendengarkan apa yang ingin dikatakan layar tentang diri kita hari ini?

Fotografi: Hanisa Murti

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Kolaborasi Hangat Café Kissa dan Lancôme: A Pink Holiday

Next Post

Seni sebagai Rumah: Nazif Lopulissa di Perspective on ... Weaving Threads

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.