
Ada saat ketika nama seorang sineas tak lagi sekadar terpampang di kredit film, tetapi menjadi gema yang melintasi batas negara dan budaya. Kamis, 11 Desember 2025, di Rue de Valois, Paris, Joko Anwar berdiri di bawah sorot lampu dunia, dianugerahi Chevalier dans l’Ordre des Arts et Lettres, gelar ksatria seni dan sastra oleh Pemerintah Prancis, pengakuan yang jarang bagi sineas Indonesia, pengakuan yang menegaskan bahwa suara kita kini berbicara di percakapan global.
Gelar ini bukan sekadar simbol, melainkan legitimasi budaya. Diberikan kepada individu yang berjasa luar biasa dalam seni dan sastra, atau yang memperluas pengaruh kebudayaan Prancis di dunia, Chevalier menempatkan penerimanya sebagai ksatria dalam tradisi global peradaban. Madame Rachida Dati, Menteri Kebudayaan Prancis, menyerahkannya langsung dalam upacara yang berpadu dengan Malam Penghormatan para perantara kebudayaan Prancis-Indonesia, mengukuhkan bahwa sinema Indonesia telah menapaki panggung internasional.
Joko Anwar lahir di Medan, 1976, jauh dari pusat industri film. Namun sejak awal, ia menggeser batas narasi, menghadirkan film sebagai cermin masyarakat: ketakutan kolektif, mitos, kepercayaan, dan trauma sosial menjadi bahasa untuk memahami manusia. Dari Pintu Terlarang, Satan’s Slaves, hingga Impetigore, ia menjadikan horor dan thriller sebagai medium refleksi sosial, genre bukan formula hiburan, melainkan instrumen pemikiran. Setiap karya adalah peta emosional yang menelusuri tradisi dan kritik sosial dengan kedalaman naratif dan estetika yang khas.
Dampaknya bukan sekadar prestise; ia membentuk selera, menaikkan standar, dan menandai Indonesia di peta sinema global. Film-filmnya meraih seleksi festival internasional, penghargaan, dan capaian box office yang luar biasa. Satan’s Slaves 1 dan 2 bahkan tercatat sebagai film paling banyak ditonton sepanjang masa, bukti bahwa cerita yang berakar pada lokalitas mampu beresonansi lintas generasi dan budaya.
Seperti ditegaskan Madame Rachida Dati, “Dampak Joko Anwar terletak pada cara ia memposisikan Indonesia dalam peta sinema global. Ia menolak eksotisme; nilai lokal menjadi pusat gagasan. Tradisi, trauma sosial, dan ingatan kolektif hadir sebagai subjek, bukan latar.”
Dengan gelar ksatria ini, Joko Anwar bukan sekadar membawa nama Indonesia ke panggung dunia; ia menegaskan bahwa sinema adalah bahasa kebudayaan yang bermartabat, penuh gagasan, dan layak diperhitungkan. Namun kehormatan ini menimbulkan pertanyaan yang menggema: ketika dunia telah memberi pengakuan, sejauh mana kita berani menjaga keberanian estetika, kejujuran bercerita, dan kedalaman narasi. dan cerita seperti apa yang ingin kita wariskan sebagai wajah Indonesia di mata dunia?