
Menciptakan dunia yang lebih adil bagi perempuan bukan sekadar tentang memberikan kursi, melainkan tentang pengakuan jujur bahwa arena bermain kita belum benar-benar setara. Dalam diskusi mendalam bertajuk “Interseksionalitas: Menavigasi Berbagai Lapisan Hambatan dalam Kehidupan Profesional” yang diinisiasi oleh UNIQLO Indonesia, terungkap bahwa perjalanan karier seorang perempuan sering kali menyerupai lari rintangan yang berlapis-lapis.
Dalam diskusi ini, Irma Yunita, Director Corporate Affairs UNIQLO Indonesia, dan Fetty Kwartati, Director PT Tara Naya Karsa, turut berbagi pengalaman mereka tentang dinamika kepemimpinan perempuan di dunia profesional. Hadir pula Rhaka Ghanisatria, Co-Founder Menjadi Manusia sebagai salah satu pembicara. Percakapan ini dimoderatori oleh Wita Krisanti, Direktur Eksekutif Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE), yang menekankan bahwa perubahan sejati hanya dapat terjadi jika kita berani membongkar hambatan yang selama ini tidak terlihat.
Privilese Laki-Laki dan Interupsi Karier Perempuan
Salah satu refleksi paling jujur datang dari Rhaka. Ia menyoroti sebuah realitas pahit: laki-laki sejatinya memiliki privilege untuk terus mengejar mimpi tanpa interupsi. Sementara itu, perempuan sering kali harus berjuang dua kali lebih keras hanya untuk mempertahankan jati dirinya, terutama saat memasuki fase menjadi ibu.
“Sebagai laki-laki, saya harus jujur bahwa kita memiliki privilege untuk terus mengejar mimpi tanpa banyak gangguan,” ujarnya. Sementara itu, bagi banyak perempuan, perjalanan menjadi ibu dapat membawa perubahan besar pada identitas diri. “Perempuan bisa kehilangan mimpinya, identitasnya, bahkan dirinya sendiri, terutama ketika menghadapi tantangan seperti postpartum depression.”
Karena itu, bagi Rhaka, percakapan tentang kepemimpinan perempuan tidak bisa dilepaskan dari kesadaran kolektif, termasuk dari laki-laki. Dukungan tidak cukup berhenti pada empati; ia harus diterjemahkan menjadi sistem yang nyata. “Kita perlu lebih banyak laki-laki yang bisa melihat dari perspektif ini,” katanya. “Karena dukungan struktural itulah yang membuat perempuan benar-benar punya pilihan.”
Mengapa Peluang yang “Sama” Saja Tidak Cukup?
Menurut Wita Krisanti, banyak orang percaya bahwa perempuan dan laki-laki memiliki peluang yang sama. Namun dalam praktiknya, norma sosial yang telah mengakar sejak lama sering kali menciptakan batasan yang tidak selalu disadari.
“Di IBCWE, kami memegang keyakinan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kemampuan dan kesempatan yang setara,” jelasnya. “Namun realitanya tidak sesederhana itu, karena ada hambatan sistemik yang lahir dari norma-norma yang membatasi peran kita sejak lahir.”
Lebih lanjut, mengidentifikasi empat norma utama yang sering kali menjegal langkah perempuan:
- Domestikasi Perempuan: Anggapan bahwa perempuan adalah penanggung jawab tunggal urusan keluarga.
- Beban Kepala Keluarga: Tekanan pada laki-laki untuk menjadi pencari nafkah utama, yang secara tidak langsung membatasi fleksibilitas peran.
- Segregasi Profesi: Pemisahan jenis pekerjaan “layak” berdasarkan gender.
- Bias Kepemimpinan: Stigma yang membuat figur pemimpin lebih identik dengan sifat maskulin.
Karena norma-norma ini telah lama hidup dalam budaya kerja, dampaknya sering kali berlangsung secara halus namun nyata. Itulah sebabnya, menurut Wita, langkah pertama menuju perubahan adalah membangun kesadaran.
“Melalui awareness training, kami ingin memastikan lingkungan kerja tidak lagi melanggengkan diskriminasi yang sering kali bahkan tidak disadari,” katanya. Dengan membuka percakapan tentang norma-norma tersebut, organisasi dapat mulai menciptakan ruang kerja yang lebih adil dan manusiawi.